Wednesday, September 16, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Bukan Cuma Satelit, Ini Infrastruktur Tak Terlihat yang Menopang Internet Dunia

Mistar.idRabu, 16 September 2026 pukul 15.08 WIB
bukan_cuma_satelit_ini_infrastruktur_tak_terlihat_yang_menopang_internet_dunia

Bukan Cuma Satelit, Ini Infrastruktur Tak Terlihat yang Menopang Internet Dunia. (foto ilustrasi:gemini/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (16/9/2026) — Ketika membuka Google, menonton YouTube, mengirim pesan WhatsApp atau melakukan transaksi perbankan, kita mungkin membayangkan data internet melesat melalui satelit di angkasa.

Faktanya, sebagian besar lalu lintas data internasional justru menempuh perjalanan ribuan kilometer melalui kabel serat optik yang membentang di dasar laut.

Jaringan yang nyaris tak pernah terlihat ini menjadi salah satu tulang punggung komunikasi digital dunia. International Telecommunication Union (ITU) menyebut lebih dari 99 persen lalu lintas data internasional dibawa oleh kabel telekomunikasi bawah laut yang membentang lebih dari 1,7 juta kilometer di seluruh dunia.

Pertanyaannya, apa yang terjadi jika kabel-kabel tersebut putus?

Internet Dunia Berdiri di Atas "Jalan Raya" di Dasar Laut

Internet bukan sekadar jaringan nirkabel yang mengambang di udara. Di balik layanan digital yang digunakan setiap hari terdapat infrastruktur fisik yang menghubungkan satu benua dengan benua lainnya.

Kabel bawah laut membentang dari Amerika Utara ke Eropa, Asia ke Amerika, hingga menghubungkan negara-negara kepulauan yang sangat bergantung pada konektivitas internasional.

ICPC memperkirakan jaringan kabel bawah laut global kini terdiri atas sekitar 500 sistem dengan total panjang sekitar 1,8 juta kilometer. Angka tersebut terus berubah seiring pembangunan kabel baru dan penghentian sistem lama.

Karena itu, jumlah kabel global sebaiknya selalu dibaca berdasarkan tanggal dan sumber data yang digunakan.

Yang tidak berubah adalah skalanya: jutaan kilometer kabel menjadi jalan raya bagi lalu lintas data dunia.

Kabel Internet Bawah Laut Ternyata Tidak Sebesar Bayangan

Meski membawa lalu lintas data dalam jumlah sangat besar, kabel internet bawah laut tidak berbentuk seperti kabel listrik raksasa.

Di laut dalam, kabel umumnya relatif kecil dan berisi serat optik yang sangat tipis. Data dikirim menggunakan cahaya melalui serat tersebut.

Kabel juga memiliki lapisan pelindung untuk menghadapi tekanan dan kondisi lingkungan laut. Di wilayah dekat pantai, perlindungan dapat diperkuat dan pada sejumlah rute kabel ditanam di bawah dasar laut untuk mengurangi risiko kerusakan akibat aktivitas manusia.

Dengan teknologi inilah data dapat bergerak melintasi samudra dari satu pusat jaringan ke pusat jaringan lainnya.

Siapa yang Memiliki Kabel Internet Dunia?

Tidak ada satu perusahaan atau negara yang memiliki seluruh jaringan kabel bawah laut dunia.

Kepemilikannya beragam. Sebagian kabel dibangun melalui konsorsium operator telekomunikasi, sementara perusahaan teknologi dan penyedia layanan cloud juga semakin aktif berinvestasi dalam sistem kabel baru.

Perusahaan seperti Google, Meta, Microsoft, dan Amazon membutuhkan kapasitas jaringan besar untuk menopang pusat data, layanan cloud, mesin pencari, media sosial, video streaming, hingga berbagai layanan digital.

Artinya, perusahaan teknologi kini bukan hanya menggunakan internet.

Mereka juga ikut membangun dan memiliki jalan raya tempat data mereka berjalan.

Kalau Satu Kabel Putus, Apakah Internet Dunia Mati?

Jawabannya: tidak otomatis.

Internet dibangun sebagai jaringan dengan banyak jalur. Ketika satu kabel mengalami gangguan, operator dapat mengalihkan sebagian lalu lintas melalui rute atau kabel lain.

Namun, dampaknya tetap bisa serius.

Wilayah yang hanya memiliki sedikit jalur internasional memiliki pilihan pengalihan yang lebih terbatas. Gangguan dapat menyebabkan koneksi melambat, latensi meningkat, kapasitas berkurang, atau akses ke layanan tertentu terganggu.

ITU pada 2026 menyoroti tingginya ketergantungan sejumlah negara dan wilayah terhadap sedikit sistem kabel sebagai salah satu tantangan utama ketahanan jaringan global. Gangguan terhadap kabel dapat memengaruhi komunikasi, layanan keuangan, pemerintahan hingga akses masyarakat terhadap berbagai layanan penting.

Jadi, yang perlu dikhawatirkan bukan sekadar "apakah satu kabel putus?", melainkan seberapa banyak jalur alternatif yang tersedia ketika kabel tersebut mengalami gangguan.

Bisakah Internet Benar-Benar Mati Total?

Secara global, kerusakan satu kabel tidak akan membuat seluruh internet dunia padam.

Dampaknya sangat bergantung pada lokasi kabel dan tingkat redundansi jaringan.

Jika sebuah wilayah memiliki banyak jalur alternatif, trafik dapat dialihkan. Sebaliknya, ketika beberapa jalur penting mengalami gangguan sekaligus, kapasitas koneksi dapat turun drastis.

Inilah mengapa keberagaman rute menjadi bagian penting dari ketahanan internet.

Semakin banyak jalur yang tersedia, semakin besar kemampuan jaringan untuk tetap bekerja ketika salah satu jalurnya terganggu.

Bagaimana Kabel yang Putus Diperbaiki?

Memperbaiki kabel di dasar laut bukan pekerjaan sederhana.

Ketika terjadi gangguan, operator terlebih dahulu memperkirakan lokasi kerusakan menggunakan sistem pengukuran dari terminal kabel. Setelah titik kerusakan diketahui, kapal khusus perbaikan dikirim ke lokasi.

Kabel kemudian diangkat dari dasar laut. Bagian yang rusak dipotong, lalu ujung kabel disambungkan dengan bagian pengganti sebelum dikembalikan ke dasar laut.

Proses tersebut dapat menjadi rumit jika kabel berada di laut dalam atau lokasi yang sulit dijangkau.

Waktu perbaikan juga tidak selalu singkat. Cuaca, lokasi kerusakan, perizinan, ketersediaan kapal, serta kapasitas fasilitas perbaikan dapat memengaruhi lamanya pemulihan. ITU pada 2026 menempatkan meningkatnya waktu perbaikan sebagai salah satu tantangan terhadap ketahanan jaringan kabel bawah laut.

ICPC sendiri menyebut industri memiliki jaringan kapal perbaikan dan mekanisme kerja sama pemeliharaan untuk menangani gangguan kabel di berbagai wilayah.

Kapal Selam atau Kapal Biasa, Mana yang Mengancam Kabel?

Di sinilah satu kesalahpahaman perlu diluruskan.

Ketika membicarakan ancaman terhadap kabel bawah laut, perhatian publik sering tertuju pada sabotase atau aktivitas kapal selam.

Ancaman keamanan tersebut memang menjadi perhatian karena kabel bawah laut merupakan infrastruktur strategis. Namun, gangguan kabel sehari-hari paling banyak bukan disebabkan sabotase.

Menurut ICPC, sekitar 150–200 gangguan kabel telekomunikasi bawah laut terjadi setiap tahun. Sekitar 70–80 persen di antaranya disebabkan aktivitas manusia yang tidak disengaja, terutama kegiatan penangkapan ikan dan jangkar kapal.

Jangkar yang terseret di dasar laut dapat mengait kabel dan merusaknya. Aktivitas penangkapan ikan yang bersentuhan dengan dasar laut juga menjadi sumber risiko.

Selain aktivitas manusia, kabel menghadapi ancaman alam seperti longsor bawah laut, arus dasar laut, badai, serta gempa dan aktivitas geologi lainnya.

Jadi, kapal selam bukan penyebab utama gangguan kabel sehari-hari. Ancaman sabotase tetap menjadi isu keamanan, tetapi data industri menunjukkan kecelakaan akibat aktivitas manusia merupakan penyebab yang jauh lebih umum.

Indonesia Juga Bergantung pada Kabel Bawah Laut

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki ketergantungan yang besar terhadap jaringan kabel laut.

Salah satu proyek penting adalah Palapa Ring, jaringan tulang punggung serat optik nasional yang dibangun untuk memperluas konektivitas broadband ke berbagai wilayah Indonesia.

Pada 2019, pemerintah menyatakan Palapa Ring telah menghubungkan 514 ibu kota kabupaten dan kota. Salah satu paketnya, Palapa Ring Tengah, mencakup sekitar 1.326 kilometer kabel darat dan 1.787 kilometer kabel laut.

Indonesia juga terhubung dengan jaringan kabel internasional.

Salah satunya adalah SEA-ME-WE 5, sistem kabel bawah laut yang menghubungkan Asia Tenggara, Timur Tengah hingga Eropa. Telkom menyebut sistem ini memiliki panjang sekitar 20.000 kilometer dan dibangun melalui konsorsium 19 operator telekomunikasi.

Kabel tersebut mendarat di Indonesia, termasuk di Dumai dan Medan.

Posisi tersebut membuat Indonesia bukan hanya menjadi pengguna internet global, tetapi juga bagian dari jalur fisik yang menghubungkan berbagai pusat ekonomi digital dunia.

Lalu, Apa Peran Satelit?

Satelit tetap penting.

Teknologi ini sangat berguna untuk wilayah terpencil, daerah yang sulit dijangkau jaringan fiber, komunikasi darurat, serta kebutuhan konektivitas tertentu.

Namun, satelit bukan pengganti utama kabel bawah laut untuk pertukaran data internasional dalam skala besar.

ITU menyebut kabel bawah laut membawa lebih dari 99 persen lalu lintas data internasional.

Karena itu, kabel dan satelit sebenarnya bukan dua teknologi yang harus dipertentangkan.

Keduanya memiliki fungsi berbeda dan saling melengkapi.

Yang perlu dipahami adalah: sebagian besar lalu lintas data internasional dunia tidak melayang di angkasa, tetapi berjalan melalui kabel serat optik di dasar laut.

Dunia Terus Membangun Kabel Baru

Kebutuhan terhadap konektivitas digital juga mendorong investasi besar pada jaringan kabel baru.

TeleGeography memperkirakan nilai pembangunan kabel bawah laut yang direncanakan masuk layanan pada 2026–2029 mencapai lebih dari US$16 miliar. Angka tersebut merupakan estimasi biaya konstruksi proyek yang diumumkan atau diperkirakan, sehingga tidak berarti seluruh proyek pasti akan terealisasi.

Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa perkembangan internet bukan hanya soal semakin cepatnya Wi-Fi, 5G, 6G, pusat data, atau kecerdasan buatan.

Dunia juga membutuhkan semakin banyak jalur untuk membawa data.

Dan sebagian besar jalur tersebut berada di bawah laut.

Infrastruktur yang Tak Terlihat, tetapi Menopang Dunia Digital

Kabel bawah laut mungkin tidak pernah terlihat ketika seseorang menonton video, mengirim pesan, menggunakan layanan cloud atau melakukan transaksi digital.

Namun, di balik aktivitas tersebut terdapat jaringan fisik yang menghubungkan benua demi benua.

Jika satu kabel putus, internet dunia tidak langsung mati. Tetapi jika jalur alternatif terbatas atau beberapa kabel penting mengalami gangguan bersamaan, dampaknya dapat terasa luas.

Itulah sebabnya ketahanan kabel bawah laut semakin menjadi perhatian pemerintah dan industri di berbagai negara. ITU menempatkan kabel tersebut sebagai infrastruktur kritis bagi ekonomi digital global.

Jadi, ketika internet terasa seperti sesuatu yang tidak memiliki bentuk, sebenarnya ada "jalan raya" fisik yang bekerja tanpa henti di bawah permukaan laut.

Internet memang terasa seperti berada di udara. Tetapi sebagian besar lalu lintas data dunia tetap berjalan melalui kabel yang tersembunyi di dasar lautan.

(itu/icpc/Telegeographyresource/kemkomdigi/*/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN