Wednesday, September 16, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Rupiah Masih Tertekan, 5 Faktor Ini Menentukan Arah hingga Akhir 2026

Mistar.idRabu, 16 September 2026 pukul 15.13 WIB
rupiah_masih_tertekan_5_faktor_ini_menentukan_arah_hingga_akhir_2026

Rupiah Masih Tertekan, 5 Faktor Ini Menentukan Arah hingga Akhir 2026. (foto ilustrasi:gemini/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (16/9/2026) — Rupiah masih berada di bawah tekanan pada pertengahan September 2026.

Data Bank Indonesia menunjukkan JISDOR berada di Rp17.687 per dolar AS pada 15 September 2026, menguat atau melemah sesuai pergerakan pasar dari hari ke hari. Angka tersebut menempatkan rupiah tidak jauh dari level Rp18.000 per dolar AS yang beberapa kali menjadi perhatian pasar sepanjang tahun ini.

Lantas, apa saja yang akan menentukan arah rupiah hingga akhir 2026?

Setidaknya ada lima faktor utama: kebijakan The Federal Reserve, harga minyak, arus modal, kebijakan Bank Indonesia, serta kinerja ekspor dan impor Indonesia.

1. Dolar AS dan Kebijakan The Fed

Faktor pertama adalah arah dolar AS dan kebijakan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve.

Pada 16 September, pasar global menunggu keputusan The Fed setelah rapat kebijakan yang berlangsung selama dua hari. Pasar secara luas mengantisipasi kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin, tetapi keputusan dan terutama sinyal kebijakan setelahnya tetap menjadi perhatian investor.

Bagi rupiah, perubahan suku bunga AS penting karena memengaruhi daya tarik aset berdenominasi dolar dibandingkan aset di negara berkembang.

Jika imbal hasil aset AS meningkat atau kebijakan The Fed dinilai lebih ketat, tekanan terhadap mata uang negara berkembang dapat meningkat. Sebaliknya, ekspektasi kebijakan AS yang lebih longgar dapat memberikan ruang bagi mata uang emerging market.

Karena itu, bukan hanya keputusan The Fed yang penting, tetapi juga bagaimana pasar membaca arah kebijakan berikutnya.

2. Harga Minyak dan Inflasi

Faktor kedua adalah harga minyak dunia.

Pada 16 September, harga minyak Brent berada di sekitar US$107,82 per barel setelah turun 93 sen pada perdagangan hari itu. Harga masih berada di atas US$100 per barel di tengah kekhawatiran terhadap pasokan akibat ketegangan geopolitik dan gangguan pada infrastruktur energi di Timur Tengah. RReuters+1

Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak dapat meningkatkan kebutuhan devisa untuk impor energi.

Jika kondisi tersebut berlangsung bersamaan dengan rupiah yang melemah, tekanan terhadap biaya impor dapat meningkat. Dampaknya berpotensi merambat ke transportasi, logistik, dan biaya produksi.

Namun, harga BBM yang dibayar masyarakat tidak semata-mata ditentukan harga minyak dunia dan kurs. Kebijakan pemerintah mengenai harga dan subsidi juga berpengaruh.

Karena itu, hubungan antara kenaikan minyak, pelemahan rupiah, dan harga BBM tidak bersifat otomatis.

3. Arus Modal Asing

Faktor ketiga adalah arus modal.

Ketika investor asing membeli aset Indonesia, transaksi tersebut dapat meningkatkan permintaan terhadap rupiah. Sebaliknya, arus keluar modal dapat meningkatkan kebutuhan terhadap dolar.

Pergerakan modal sangat dipengaruhi kondisi global, termasuk suku bunga AS, imbal hasil obligasi, harga komoditas, dan persepsi investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Data Bank Indonesia menunjukkan investasi portofolio asing pada kuartal III 2026 hingga 14 Agustus mencatat net inflow US$1,8 miliar, antara lain didukung penerbitan global bond serta aliran dana ke Surat Berharga Negara dan instrumen Bank Indonesia.

Artinya, tekanan terhadap rupiah tidak hanya ditentukan oleh kondisi domestik. Perubahan sentimen investor global juga dapat mengubah arus dana dengan cepat.

4. Kebijakan Bank Indonesia

Bank Indonesia memiliki peran langsung dalam menjaga stabilitas rupiah.

Pada rapat 18–19 Agustus 2026, BI mempertahankan BI-Rate di 5,75%, Deposit Facility 4,75%, dan Lending Facility 6,50%. BI menyatakan kebijakan tersebut juga ditujukan untuk memperkuat stabilitas rupiah di tengah volatilitas global.

BI juga menggunakan berbagai instrumen untuk menjaga stabilitas pasar valuta asing dan menarik arus modal, termasuk penguatan instrumen lindung nilai serta transaksi DNDF.

Di sisi lain, posisi cadangan devisa Indonesia tetap tinggi. Data BI menunjukkan cadangan devisa mencapai US$146,508 miliar pada akhir Agustus 2026. BBank Indonesia

Besarnya cadangan devisa memberikan bantalan bagi ketahanan eksternal, meski tidak berarti rupiah kebal terhadap tekanan global.

5. Ekspor, Impor, dan Kebutuhan Dolar

Faktor kelima adalah neraca perdagangan dan kebutuhan valuta asing.

Eksportir memperoleh devisa dari penjualan barang dan jasa ke luar negeri. Sebaliknya, importir membutuhkan dolar untuk membayar energi, bahan baku, mesin, dan barang dari luar negeri.

Karena itu, kinerja ekspor dan impor ikut memengaruhi pasokan serta kebutuhan valuta asing di dalam negeri.

Data BI menunjukkan neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus secara kumulatif pada Januari–Juni 2026 sebesar US$3,58 miliar, meskipun pada Juni terjadi defisit US$450 juta.

Surplus perdagangan dapat membantu ketahanan eksternal, tetapi pergerakan rupiah tetap dipengaruhi faktor lain, termasuk arus modal dan kondisi pasar keuangan global.

Jika Rupiah Menembus Rp18.000, Apa Dampaknya?

Level Rp18.000 per dolar AS dapat menjadi perhatian pasar karena merupakan angka bulat dan berada di sekitar level yang sebelumnya sudah beberapa kali diuji.

Namun, menembus angka tersebut tidak otomatis berarti krisis ekonomi.

Pasar akan melihat penyebab pelemahan, kecepatannya, kondisi inflasi, arus modal, cadangan devisa, serta respons Bank Indonesia dan pemerintah.

Pelemahan rupiah juga tidak selalu memberikan dampak yang sama kepada setiap pelaku ekonomi.

Rupiah Melemah, Harga Barang Impor Naik?

Dampak paling langsung biasanya terasa pada barang dan produksi yang memiliki kandungan impor tinggi.

Elektronik, mesin, bahan baku industri, dan berbagai komponen yang dibeli dalam dolar dapat menjadi lebih mahal dalam rupiah ketika kurs melemah.

Namun, besarnya dampak bergantung pada struktur biaya perusahaan, kontrak pembelian, persediaan, serta strategi lindung nilai.

Untuk BBM, pengaruh kurs juga tidak berdiri sendiri karena harga minyak dunia dan kebijakan pemerintah ikut menentukan harga yang dibayar konsumen.

Siapa yang Diuntungkan Saat Rupiah Melemah?

Pelemahan rupiah tidak otomatis merugikan semua perusahaan.

Eksportir yang memperoleh pendapatan dalam dolar dan memiliki sebagian besar biaya dalam rupiah dapat menerima lebih banyak rupiah ketika devisanya dikonversi.

Namun, keuntungan tersebut dapat berkurang jika perusahaan juga mengimpor bahan baku, mesin, atau memiliki utang dalam valuta asing.

Karena itu, dampak pelemahan rupiah sangat bergantung pada struktur pendapatan, biaya, utang valuta asing, dan strategi lindung nilai masing-masing perusahaan.

Bagaimana dengan Mata Uang ASEAN?

Rupiah juga perlu dilihat dalam konteks mata uang negara-negara Asia Tenggara.

Namun, pergerakan setiap mata uang tidak selalu sama.

Masing-masing negara memiliki struktur perdagangan, ketergantungan energi, kebijakan moneter, kondisi fiskal, dan cadangan devisa yang berbeda.

Ketika dolar AS menguat atau harga energi melonjak, mata uang negara berkembang dapat menghadapi tekanan. Tetapi besarnya dampak tetap bergantung pada kondisi fundamental masing-masing negara.

Karena itu, membandingkan rupiah dengan mata uang ASEAN tidak cukup hanya melihat persentase penguatan atau pelemahan dalam satu hari.

Lima Faktor yang Perlu Dipantau hingga Akhir 2026

Dengan JISDOR berada di Rp17.687 per dolar AS pada 15 September, rupiah masih menjadi perhatian pasar. BBank Indonesia

Lima faktor utama yang perlu dipantau hingga akhir tahun adalah:

- arah kebijakan dan dolar AS;

- harga minyak dunia;

- arus modal asing;

- kebijakan stabilisasi Bank Indonesia;

- kinerja ekspor dan impor Indonesia.

Level Rp18.000 dapat menjadi salah satu angka yang diperhatikan pasar, tetapi bukan satu-satunya ukuran kondisi rupiah.

Arah nilai tukar hingga akhir 2026 akan bergantung pada bagaimana tekanan global bertemu dengan kondisi ekonomi Indonesia dan respons kebijakan di dalam negeri.

(bi/reuters/*/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN