Monday, September 14, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Dollar Hari Ini! Rupiah Tertekan Jelang The Fed, Akankah Tembus Rp17.700?

Mistar.idSenin, 14 September 2026 pukul 17.56 WIB
dollar_hari_ini_rupiah_tertekan_jelang_the_fed_akankah_tembus_rp17700

Dollar Hari Ini! Rupiah Tertekan Jelang The Fed, Akankah Tembus Rp17.700? (foto ilustrasi:tangkapan layar google finance/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (14/9/2026) — Dollar hari ini kembali menjadi sorotan setelah rupiah bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Tekanan terhadap mata uang Garuda datang ketika pasar global bersiap menghadapi keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) sekaligus mencermati lonjakan harga minyak dunia.

Pada perdagangan Senin (14/9/2026), sesuai data google finance, rupiah ditutup melemah ke level Rp17.658 per dolar AS. Pelemahan ini membawa rupiah semakin dekat dengan level psikologis Rp17.700 per dolar AS.

Bank Indonesia mencatat JISDOR dolar AS pada 14 September 2026 berada di level Rp17.635 per dolar AS. Posisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah masih cukup kuat di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar global.

Dollar Hari Ini Makin Kuat, Rupiah Tertekan

Pergerakan dolar AS tidak hanya dipengaruhi kondisi domestik Indonesia. Pasar global saat ini mengantisipasi perubahan kebijakan moneter AS setelah muncul ekspektasi bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga dalam pertemuan September.

Pasar bahkan memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin mencapai sekitar 90%. Ekspektasi tersebut membuat dolar AS kembali mendapat tenaga karena kenaikan suku bunga berpotensi meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar.

Indeks dolar AS (DXY) juga menguat dan berada di sekitar 99,54 pada penutupan perdagangan rupiah Senin. Artinya, penguatan dolar bukan hanya terjadi terhadap rupiah, tetapi juga mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap mata uang AS di pasar global.

Harga Minyak Tembus US$100, Risiko Rupiah Bertambah

Tekanan terhadap rupiah datang bersamaan dengan lonjakan harga minyak dunia.

Harga Brent bahkan sempat berada di sekitar US$108 per barel, sedangkan harga minyak WTI telah menembus US$100 per barel. Lonjakan tersebut berkaitan dengan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak perlu diperhatikan karena Indonesia merupakan importir neto minyak. Ketika harga minyak global naik, kebutuhan dolar untuk membayar impor energi dapat meningkat.

Situasi tersebut berpotensi menambah permintaan terhadap dolar AS dan memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.

Kenaikan harga minyak juga dapat meningkatkan risiko inflasi. Jika tekanan inflasi semakin besar, ruang kebijakan moneter Bank Indonesia untuk memberikan stimulus dapat menjadi lebih terbatas.

Akankah Dollar Hari Ini Tembus Rp17.700?

Level Rp17.700 per dolar AS kini menjadi salah satu perhatian pasar.

Rupiah memang belum ditutup di atas level tersebut pada perdagangan 14 September, tetapi posisi Rp17.669 membuat jaraknya hanya sekitar 31 poin.

Pekan ini bisa menjadi penentu apakah rupiah hanya menguji Rp17.700. Artinya, secara teknikal maupun fundamental, peluang rupiah menguji kembali level Rp17.700 tetap terbuka apabila sentimen global memburuk.

Ada setidaknya tiga faktor yang perlu diperhatikan pasar.

Pertama, keputusan The Fed.

Kedua, arah harga minyak dunia.

Ketiga, respons Bank Indonesia terhadap tekanan nilai tukar.

Jika The Fed mengambil sikap lebih hawkish sementara harga minyak bertahan di atas US$100 per barel, dolar berpotensi tetap kuat dan rupiah dapat kembali menguji Rp17.700.

Sebaliknya, jika keputusan The Fed ternyata lebih dovish dari ekspektasi pasar dan ketegangan geopolitik mereda, tekanan terhadap rupiah dapat berkurang.

Bagaimana Posisi Bank Indonesia?

Bank Indonesia sebelumnya mempertahankan BI-Rate di level 5,75% pada RDG 18-19 Agustus 2026. BI menegaskan bahwa kebijakan tersebut antara lain diarahkan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya gejolak global.

Dengan rupiah kembali berada di sekitar Rp17.600-an, perhatian investor akan tertuju pada langkah BI berikutnya.

Perbedaan arah kebijakan antara BI dan The Fed menjadi penting karena perubahan selisih suku bunga dapat memengaruhi daya tarik aset rupiah bagi investor global.

Dollar Hari Ini di BCA

Bagi masyarakat yang membutuhkan dolar untuk transaksi sehari-hari, kurs bank dapat berbeda dari kurs pasar.

Data kurs BCA pada 14 September 2026 pukul 17.27 WIB menunjukkan e-Rate USD Rp17.615 untuk beli dan Rp17.715 untuk jual. Sementara itu, kurs TT Counter dan bank notes memiliki level yang berbeda.

Artinya, jika seseorang ingin membeli US$100 menggunakan kurs jual e-Rate BCA Rp17.715, dana yang diperlukan sekitar:

US$100 × Rp17.715 = Rp1.771.500.

Untuk US$500:

US$500 × Rp17.715 = Rp8.857.500.

Sedangkan US$1.000 membutuhkan sekitar:

US$1.000 × Rp17.715 = Rp17.715.000.

Angka tersebut merupakan simulasi berdasarkan kurs BCA yang tersedia pada waktu tersebut. Kurs dapat berubah sewaktu-waktu dan transaksi aktual dapat menggunakan kanal atau kurs yang berbeda.

Beli Dolar Sekarang atau Tunggu?

Bagi masyarakat yang memang memiliki kebutuhan dolar, keputusan tidak selalu harus didasarkan pada spekulasi apakah rupiah akan menembus Rp17.700.

Untuk kebutuhan seperti biaya pendidikan, perjalanan, pembayaran kewajiban dalam dolar, atau kebutuhan bisnis, strategi membeli secara bertahap dapat membantu mengurangi risiko salah menentukan waktu.

Sementara bagi investor, keputusan membeli dolar perlu mempertimbangkan tujuan, horizon investasi, risiko nilai tukar, serta alternatif aset lainnya.

Kenaikan dolar memang dapat memberikan keuntungan bagi pemegang USD ketika rupiah melemah. Namun, jika rupiah kembali menguat, nilai investasi dalam rupiah juga dapat turun.

Apa yang Harus Dipantau Investor?

Pasar valuta asing masih menghadapi pekan yang penuh agenda.

Fokus pertama adalah keputusan The Fed pada 16 September 2026. Pasar tidak hanya akan memperhatikan keputusan suku bunga, tetapi juga pernyataan dan pandangan bank sentral AS mengenai arah kebijakan berikutnya.

Fokus kedua adalah harga minyak.

Jika minyak bertahan di atas US$100, tekanan inflasi global berpotensi meningkat dan dapat memperumit kebijakan bank sentral.

Fokus ketiga adalah respons Bank Indonesia terhadap pergerakan rupiah.

Dengan posisi rupiah sudah berada di Rp17.669 per dolar AS, level Rp17.700 menjadi batas psikologis yang patut diperhatikan. Jika berhasil ditembus secara berkelanjutan, pasar akan kembali mengamati level-level berikutnya.

Namun, apabila sentimen global membaik, rupiah masih memiliki peluang untuk kembali menguat.

Dengan demikian, Dollar hari ini bukan sekadar soal berapa harga US$1 dalam rupiah. Pergerakannya mencerminkan pertarungan antara kebijakan The Fed, harga energi, risiko geopolitik, serta respons bank sentral Indonesia.

Pekan ini bisa menjadi penentu apakah rupiah hanya menguji Rp17.700 atau justru mampu berbalik menjauh dari level tersebut.

(tradingeconomics/bi/reuters/theguardian/bca/*/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN