Monday, September 14, 2026
home_banner_first
HUKUM & PERISTIWA

Pasien Meninggal Usai Disuntik Saat CT Scan di RS Efarina Siantar, Keluarga Minta Investigasi

Mistar.idSenin, 14 September 2026 pukul 11.19 WIB
pasien_meninggal_usai_disuntik_saat_ct_scan_di_rs_efarina_siantar_keluarga_minta_investigasi

Jenazah korban saat dibawa ke rumah duka. (foto: dokumentasi anak korban/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID – Duka mendalam dirasakan keluarga Hotnida Simanjuntak setelah perempuan tersebut meninggal dunia saat menjalani pemeriksaan CT scan di RS Efarina Etaham Pematangsiantar, Sabtu (15/8/2026).

Keluarga mempertanyakan penanganan medis yang diterima Hotnida sebelum meninggal. Mereka meminta pihak berwenang mengusut kejadian tersebut untuk mengetahui penyebab pasti kematian dan memastikan apakah terdapat prosedur medis yang tidak sesuai.

Anak Hotnida, Mario Sirait, mengatakan ibunya memang memiliki riwayat stroke ringan. Namun, menurut dia, sebelum dibawa ke rumah sakit, kondisi ibunya masih relatif baik, sadar, dapat berjalan sendiri, dan tetap menjalankan aktivitas sehari-hari.

Hotnida sendiri dikenal aktif di tengah masyarakat. Ia tercatat sebagai Ketua Resor KBPP Polri Pematangsiantar.

“Kami memang ke IGD cuma mau cek kepala CT scan. Dari awal di resepsionis, kami sudah bilang ibu punya riwayat stroke ringan tapi masih bisa jalan dan bekerja,” ujar Mario kepada MISTAR, Senin (14/9/2026).

Begitu di IGD, semuanya berjalan normal. Pemeriksaan vital, tensi, jantung, semua oke. Perawat sempat pasang infus, tapi tidak ada pemeriksaan darah laboratorium.

"Waktu dokter jaga tanya soal riwayat medis, saya bilang ibu dulu pernah berobat ke dokter saraf 2025. Saya juga jelasin, ibu agak susah kalau ngomong dan tangan kanan susah digerakkan karena strok. Tapi tubuh dan matanya masih responsif," kenang Mario.

Setelah itu, dokter IGD langsung mengarahkan ke ruang Radiologi buat CT scan. Masalah mulai muncul saat proses CT scan. Pengambilan gambar pertama dan kedua gagal, karena ibunya masih bergerak.

"Petugas bilang fotonya ulang lagi. Nggak lama perawat IGD masuk, katanya atas perintah dokter, ibu harus disuntik penenang bius supaya nggak bergerak," ujar Mario.

Merasa tidak nyaman, Mario menolak. Dia takut karena riwayat stroke apalagi tidak ada penjelasan, edukasi, atau lembar persetujuan yang bisa keluarga tanda tangan.

"Saya bilang ke perawat, jangan dibius, ibu punya riwayat stroke. Tapi dokter IGD yang ikut ke ruang CT scan malah meyakinkan, katanya aman. Karena dijamin dokternya aman, suntikan tetap diberikan lewat infus," ucap Mario.

Setelah beberapa detik setelah obat masuk, Hotnida langsung muntah hebat dan kejang di depan Mario dan ayahnya. "Seketika disuntik ibu langsung muntah-muntah, kejang. Saya panik tanya ke dokter dan perawat, mereka cuma jawab santai, katanya cuma reaksi obat biasa," kata Mario.

Keluarga benar-benar panik di ruangan CT scan. Mario dan ayahnya berteriak minta bantuan alat emergency. "Jeritan saya memenuhi ruangan. Saya minta oksigen atau penanganan cepat, tapi tenaga medis di situ cuma diam, lihat ibu saya kejang," ucap Mario.

Karena tidak ada tindakan, Mario minta ibunya segera dibawa balik ke IGD. Saat di IGD, kondisi Hotnida sudah tidak respons lagi. Dokter jaga akhirnya melakukan resusitasi jantung paru, tapi ibunya sudah dinyatakan meninggal.

Suasana makin panas. Keluarga bertanya soal jenis obat yang disuntikkan, dokter IGD bilang itu Diazepam. "Pas kami tanya kenapa bisa begitu, dokter IGD malah jawab keras. Dia bilang kalau nggak senang, laporkan saja ke RS Efarina. Katanya keputusan suntikan sudah izin dokter saraf," tutur Mario.

Saat keluarga berduka, tapi pihak medis malah memanggil satpam untuk mengusir mereka dari rumah sakit. "Kami sedang berduka, malah diusir satpam atas perintah dokter IGD," ucap Mario.

Keluarga berharap aparat dan instansi kesehatan turun tangan, mengusut dugaan kelalaian sesuai peraturan yang berlaku. "Kami cuma mau keadilan atas wafatnya ibu kami," ujar Mario.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN