Sunday, September 13, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Minyak Dunia Naik Gila-gilaan, 7 Barang Ini Berpotensi Ikut Mahal di Indonesia

Mistar.idMinggu, 13 September 2026 pukul 08.22 WIB
minyak_dunia_naik_gilagilaan_7_barang_ini_berpotensi_ikut_mahal_di_indonesia

Minyak Dunia Naik Gila-gilaan, 7 Barang Ini Berpotensi Ikut Mahal di Indonesia. (foto ilustrasi:gemini/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (13/9/2026) — Harga minyak dunia kembali bikin pasar waswas. Bukan cuma harga BBM yang menjadi perhatian, lonjakan harga minyak mentah juga berpotensi merembet ke biaya transportasi, logistik, makanan, plastik hingga barang impor yang sehari-hari digunakan masyarakat.

Harga minyak mentah Brent bahkan sempat menembus US$100 per barel dan mencapai sekitar US$107,63 per barel pada perdagangan Kamis (10/9/2026). Sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) menyentuh US$102,48 per barel. Kenaikan tersebut dipicu kekhawatiran gangguan pasokan akibat eskalasi konflik di Timur Tengah dan terganggunya jalur pelayaran penting.

Sehari kemudian harga memang terkoreksi, tetapi Brent masih bertahan di sekitar US$104,61 per barel. Pasar juga memperkirakan harga minyak, diesel, dan bahan bakar pesawat masih berpotensi tinggi selama gangguan pasokan belum mereda.

Bagi Indonesia, persoalannya bukan sekadar harga minyak di pasar global.

Minyak naik → biaya energi naik → ongkos produksi dan distribusi naik → harga barang dan jasa berpotensi ikut terdorong.

Lalu, barang apa saja yang paling mungkin terkena dampaknya?

1. BBM

BBM menjadi jalur transmisi paling cepat ketika harga minyak dunia mengalami lonjakan.

Di Indonesia, harga BBM nonsubsidi sudah mengalami penyesuaian pada September 2026. Pertamina Patra Niaga menaikkan sejumlah harga, termasuk Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex, dengan formula yang antara lain mempertimbangkan harga minyak mentah dunia dan nilai tukar rupiah.

Namun, kenaikan minyak dunia tidak otomatis berarti seluruh BBM di dalam negeri langsung naik dengan besaran yang sama.

Harga BBM bersubsidi, misalnya, sangat dipengaruhi kebijakan pemerintah. Karena itu, dampaknya bisa berbeda antara BBM bersubsidi dan nonsubsidi.

Meski demikian, semakin lama harga minyak bertahan tinggi, semakin besar tekanan terhadap biaya energi dan fiskal.

2. Transportasi

Setelah BBM, transportasi menjadi sektor yang paling mudah merasakan efek kenaikan harga energi.

Truk membutuhkan solar. Bus membutuhkan BBM. Kapal membutuhkan bahan bakar. Bahkan biaya operasional kendaraan distribusi, pemeliharaan, hingga perjalanan antarkota dapat ikut meningkat.

Bank Indonesia mencatat kenaikan harga BBM nonsubsidi dan avtur akibat tingginya harga energi global telah menjadi salah satu faktor yang mendorong inflasi kelompok administered prices.

Efeknya kemudian bisa merembet ke ongkos angkutan barang.

Artinya, sekalipun harga suatu produk di pabrik tidak berubah, harga yang dibayar konsumen tetap bisa naik ketika biaya mengirim produk tersebut dari gudang ke toko meningkat.

3. Tiket Pesawat

Bagi calon penumpang pesawat, dampaknya bahkan sudah terlihat.

Harga minyak dunia tidak hanya berkaitan dengan bensin dan solar, tetapi juga bahan bakar penerbangan atau avtur.

Kementerian Perhubungan pada September 2026 menaikkan batas maksimal fuel surcharge penerbangan domestik kelas ekonomi dari 30% menjadi 40% dari Tarif Batas Atas. Kebijakan tersebut dilakukan merespons kenaikan harga avtur dunia. Rata-rata harga avtur tercatat naik sekitar 6,5%, dari Rp21.892 per liter pada Agustus menjadi Rp23.315 per liter pada September.

Kemenhub memperkirakan penyesuaian fuel surcharge tersebut dapat membuat harga tiket pesawat rata-rata naik sekitar 8%.

Jadi, kenaikan minyak dunia tidak berhenti di pompa bensin. Ia bisa ikut terasa saat masyarakat membeli tiket untuk bepergian.

4. Makanan

Mengapa harga minyak dunia bisa memengaruhi harga makanan?

Jawabannya bukan karena semua makanan menggunakan minyak bumi sebagai bahan baku, melainkan karena makanan harus diproduksi, dikemas, dan dikirim.

Petani membutuhkan alat dan transportasi. Hasil panen harus dikirim ke pasar. Industri makanan membutuhkan listrik, bahan kemasan, distribusi dan logistik.

Jika biaya distribusi meningkat, produsen memiliki beberapa pilihan: menekan margin keuntungan, mengurangi biaya lain, atau menaikkan harga jual.

Bank Indonesia juga mencatat kenaikan biaya transportasi sebagai salah satu faktor yang memengaruhi inflasi volatile food.

Namun, kenaikan harga makanan tidak otomatis terjadi serentak. Pasokan, musim panen, kebijakan pemerintah dan kondisi permintaan juga sangat menentukan.

Badan Pangan Nasional bahkan menekankan bahwa selama BBM bersubsidi tidak naik, stabilitas biaya angkutan pangan dapat membantu menahan tekanan harga pangan.

5. Plastik dan Produk Petrokimia

Ini adalah dampak yang sering luput dari perhatian.

Minyak bumi bukan hanya untuk menghasilkan bahan bakar. Minyak juga menjadi bagian penting dari rantai industri petrokimia yang menghasilkan berbagai bahan baku untuk plastik dan produk turunannya.

Karena itu, ketika harga minyak mentah dan produk turunannya meningkat, biaya bahan baku industri tertentu dapat ikut terdorong.

Efeknya bisa muncul pada berbagai barang yang menggunakan plastik atau material turunannya, mulai dari kemasan makanan, botol, kantong plastik, hingga berbagai produk industri dan rumah tangga.

Dengan kata lain, masyarakat bisa merasakan dampak kenaikan minyak bahkan ketika tidak membeli BBM secara langsung.

6. Jasa Logistik

Kenaikan harga minyak juga berpotensi membuat biaya mengirim barang menjadi lebih mahal.

Bayangkan sebuah produk yang dibuat di Jawa kemudian dikirim ke Sumatra, Kalimantan atau wilayah Indonesia Timur.

Ada biaya truk, kapal, pergudangan, bongkar muat dan distribusi tahap akhir. Jika biaya energi meningkat pada beberapa titik sekaligus, ongkos logistik dapat ikut tertekan.

Data BPS menunjukkan harga perdagangan besar di Indonesia sudah mengalami kenaikan. Pada Juli 2026, Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) umum nasional naik 5,66% secara tahunan. BPS juga mencatat sejumlah komoditas seperti solar industri, elpiji nonsubsidi, minyak pelumas dan minyak goreng mengalami kenaikan harga secara tahunan.

Data tersebut menunjukkan bahwa harga di tingkat perdagangan besar memang sudah mengalami kenaikan, meski perubahan IHPB tidak dapat seluruhnya dikaitkan dengan harga minyak.

7. Barang Impor

Dampak terakhir bisa datang dari barang yang bahkan tidak diproduksi di Indonesia.

Barang impor harus melewati rantai transportasi internasional. Mulai dari pabrik di negara asal, pengiriman menggunakan kapal, biaya pelabuhan hingga distribusi ke konsumen Indonesia.

Ketika harga bahan bakar kapal dan biaya pengiriman meningkat, landed cost atau biaya barang sampai di Indonesia bisa ikut terdorong.

Risikonya menjadi lebih besar apabila kenaikan harga minyak terjadi bersamaan dengan pelemahan rupiah.

BPS mencatat indeks harga impor Indonesia pada kuartal II 2026 naik 14,19% dibandingkan kuartal sebelumnya. Untuk kelompok migas, kenaikannya bahkan mencapai 40,30%.

Pada Januari-Juli 2026, nilai impor Indonesia sendiri mencapai US$163,33 miliar, naik 19,94% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Artinya, perubahan biaya energi global dapat menjadi salah satu tambahan tekanan bagi harga barang yang bergantung pada rantai pasok internasional.

Minyak Naik, Apakah Semua Harga Barang Langsung Naik?

Belum tentu.

Ini bagian penting yang perlu dipahami konsumen.

Harga minyak dunia tidak bekerja seperti sakelar yang ketika naik langsung membuat semua barang ikut mahal.

Ada jeda waktu dan ada banyak faktor lain yang menentukan harga akhir sebuah produk.

Misalnya, produsen bisa saja menahan kenaikan biaya dengan memangkas margin keuntungan. Pemerintah juga dapat mempertahankan harga energi tertentu melalui kebijakan subsidi atau pengaturan harga.

Sebaliknya, jika harga minyak bertahan tinggi dalam waktu lama, ruang untuk menahan biaya semakin sempit.

Bank Indonesia sendiri telah mengingatkan bahwa lonjakan harga minyak dan komoditas global dapat menimbulkan tekanan imported inflation, sekaligus mendorong kenaikan harga energi nonsubsidi dan harga yang diatur pemerintah.

Efek Berantainya yang Perlu Diwaspadai

Skenarionya bisa terlihat sederhana:

Minyak dunia naik

Harga BBM dan bahan bakar industri tertekan

Biaya produksi naik

Biaya transportasi dan logistik naik

Biaya distribusi dan kemasan meningkat

Harga barang dan jasa berpotensi naik

Masalahnya, semakin lama harga minyak bertahan tinggi, semakin besar kemungkinan kenaikan tersebut merembet dari sektor energi ke sektor lain.

Terlebih saat ini harga minyak kembali berada di atas US$100 per barel di tengah gangguan pasokan global. EIA juga telah menaikkan proyeksi harga minyak 2026 setelah persediaan minyak global terkuras dan gangguan produksi di Timur Tengah meningkat.

Jadi, Barang Apa yang Paling Dulu Terasa?

Jika lonjakan harga minyak berlangsung singkat, dampaknya kemungkinan lebih banyak terasa pada komponen yang langsung terkait energi seperti BBM, tiket pesawat dan biaya transportasi.

Tetapi jika harga minyak bertahan tinggi selama berbulan-bulan, efeknya bisa semakin luas.

Mulai dari ongkos logistik, makanan, plastik, produk petrokimia hingga barang impor.

Karena itu, yang perlu diperhatikan bukan hanya seberapa tinggi harga minyak naik hari ini.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Berapa lama harga minyak akan bertahan di level tinggi tersebut?

Sebab semakin panjang durasinya, semakin besar peluang kenaikan biaya energi berubah menjadi kenaikan harga barang yang akhirnya ikut menggerus daya beli masyarakat.

(reuters/wsj/antara/detik/*/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN