Wednesday, September 9, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Minyak Dunia Nyaris US$100, Harga BBM Indonesia Bakal Naik Lagi?

Mistar.idKamis, 10 September 2026 pukul 05.00 WIB
minyak_dunia_nyaris_us100_harga_bbm_indonesia_bakal_naik_lagi

Minyak Dunia Nyaris US$100, Harga BBM Indonesia Bakal Naik Lagi? (foto ilustrasi:nanobanana2/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (10/9/2026) — Harga minyak dunia kembali mendekati level US$100 per barel. Pada Rabu (9/9/2026), harga minyak mentah Brent sempat mencapai sekitar US$99,49 per barel, dipicu meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.

Lonjakan harga minyak ini menjadi perhatian bagi Indonesia. Pasalnya, pergerakan harga minyak dunia dapat memberikan tekanan terhadap biaya pengadaan energi, harga bahan bakar minyak (BBM), hingga ongkos distribusi barang.

Situasi tersebut menjadi semakin menarik karena harga BBM Pertamina baru saja mengalami penyesuaian pada September 2026, terutama untuk sejumlah produk nonsubsidi. Pertanyaannya, apakah kenaikan harga minyak dunia kali ini akan kembali mendorong harga BBM di Indonesia?

Brent Mendekati US$100, Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu

Harga Brent melonjak setelah serangkaian serangan terhadap fasilitas energi di Arab Saudi oleh kelompok Houthi yang bersekutu/didukung Iran. Serangan tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak dari kawasan Teluk.

Kekhawatiran pasar tidak hanya berasal dari potensi kerusakan fasilitas produksi. Jalur pelayaran di kawasan Selat Hormuz juga menjadi perhatian karena merupakan salah satu jalur penting perdagangan minyak dunia.

Reuters melaporkan pada 9 September harga Brent mencapai US$99,49 per barel, sedangkan minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar US$94,63 per barel.

Artinya, pasar minyak kini kembali berhadapan dengan risiko geopolitik yang dapat membuat harga energi bergerak liar.

Bagi Indonesia, kondisi ini menjadi tantangan tersendiri karena kebutuhan BBM dalam negeri masih berkaitan erat dengan dinamika harga minyak dan biaya pengadaan energi global.

Harga BBM Pertamina Baru Naik, Akankah Naik Lagi?

Kenaikan harga minyak dunia datang ketika Pertamina menyesuaikan harga sejumlah BBM pada September 2026, terutama beberapa produk nonsubsidi seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex, sementara Pertamax dan BBM bersubsidi tetap.

Untuk September, Pertalite masih berada di Rp10.000 per liter, sementara di DKI Jakarta Pertamax tercatat Rp15.950 per liter. Di sisi lain, beberapa produk nonsubsidi mengalami kenaikan cukup besar. Dexlite, misalnya, naik menjadi Rp23.700 per liter dari sebelumnya Rp19.700 per liter. Pertamina Dex juga meningkat menjadi Rp25.200 per liter dari Rp21.150 per liter.

Pertamax Turbo juga mengalami kenaikan menjadi Rp19.600 per liter, sedangkan Pertamax Green 95 tercatat Rp19.150 per liter setelah penyesuaian harga.

Dengan kondisi tersebut, ruang bagi harga BBM untuk kembali mendapat tekanan masih terbuka apabila harga minyak dunia bertahan tinggi atau terus naik.

Namun, kenaikan harga minyak dunia tidak otomatis berarti seluruh harga BBM Indonesia langsung naik. Harga BBM juga dipengaruhi kebijakan pemerintah, formula harga, nilai tukar rupiah, kondisi pasar, serta keputusan badan usaha.

Bagaimana dengan Pertalite?

Pertalite merupakan BBM penugasan yang harganya ditetapkan pemerintah dan mendapat mekanisme kompensasi.

Hingga September 2026, harga Pertalite tercatat tetap Rp10.000 per liter. Bio Solar juga masih Rp6.800 per liter.

Karena itu, jika harga minyak dunia terus bertahan di sekitar US$100 per barel, pertanyaan besarnya bukan sekadar apakah harga Pertalite mengikuti harga minyak dunia.

Yang lebih penting adalah seberapa besar pemerintah dan anggaran negara akan menyerap tekanan kenaikan biaya energi tersebut.

Dengan kata lain, ketika harga minyak naik, beban tersebut tidak selalu langsung terlihat di harga pompa bensin. Sebagian tekanan dapat muncul melalui peningkatan kebutuhan kompensasi atau subsidi energi.

Kalau Perang Meluas, Harga Barang Bisa Ikut Terkerek

Dampak kenaikan harga minyak tidak berhenti di SPBU.

BBM merupakan salah satu komponen penting dalam rantai distribusi barang. Ketika harga solar atau BBM nonsubsidi meningkat, biaya transportasi dan logistik berpotensi ikut naik.

Kenaikan ongkos angkut kemudian dapat diteruskan ke harga barang, terutama produk yang membutuhkan distribusi panjang dari pusat produksi menuju konsumen.

Risikonya semakin besar jika kenaikan harga minyak berlangsung lama.

Bukan hanya sektor transportasi yang menghadapi tekanan. Industri manufaktur, pertambangan, konstruksi, perdagangan, hingga sektor pangan dapat merasakan dampaknya melalui biaya energi dan distribusi yang lebih tinggi.

Kondisi ini pada akhirnya dapat menciptakan tekanan baru terhadap inflasi.

Pemerintah sendiri perlu mewaspadai efek lanjutan tersebut karena pengalaman sebelumnya menunjukkan kenaikan harga BBM dapat memberikan tekanan terhadap harga berbagai komoditas dan inflasi.

Harga Minyak US$100 Jadi Alarm bagi Indonesia

Harga Brent di sekitar US$100 per barel menjadi alarm baru bagi perekonomian Indonesia.

Jika konflik Timur Tengah mereda dan pasokan global kembali normal, tekanan terhadap harga minyak dapat berkurang. Namun, apabila konflik meluas dan mengganggu produksi maupun distribusi minyak dari kawasan Teluk, harga minyak berpotensi bertahan tinggi.

Sejumlah analis bahkan memperingatkan harga minyak dapat bergerak jauh lebih tinggi jika gangguan pasokan berkepanjangan.

Dalam skenario tersebut, tantangan Indonesia bukan hanya menjaga harga BBM tetap terjangkau.

Pemerintah juga harus menjaga agar kenaikan biaya energi tidak menjalar terlalu jauh ke ongkos logistik, harga barang, inflasi, daya beli masyarakat, dan biaya produksi dunia usaha.

Jadi, apakah harga BBM Pertamina akan naik lagi?

Belum tentu. Namun, ketika harga Brent sudah nyaris menyentuh US$100 per barel, tekanan terhadap harga energi Indonesia jelas semakin besar.

Jika perang Timur Tengah meluas, pertarungannya bukan lagi sekadar soal harga bensin di SPBU, tetapi juga seberapa kuat ekonomi Indonesia menahan efek domino dari mahalnya energi dunia.

(reuters/detik/kemenkeu/*/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN