Inflasi Indonesia Naik Lagi, Barang Apa yang Paling Menguras Dompet?

Inflasi Indonesia Naik Lagi, Barang Apa yang Paling Menguras Dompet? (foto ilustrasi:gemini/mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID (14/9/2026) — Angka inflasi mungkin terdengar seperti istilah ekonomi yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Namun, ketika harga ayam naik, cabai makin mahal, biaya makan bertambah, hingga kebutuhan rumah tangga ikut menguras pengeluaran, di situlah inflasi benar-benar terasa.
Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi Indonesia pada Agustus 2026 mencapai 3,19% secara tahunan (year-on-year/yoy). Secara bulanan, harga-harga konsumen naik 0,21% dibandingkan Juli 2026, sementara inflasi sepanjang Januari-Agustus 2026 tercatat 1,86%.
Angka tersebut masih berada dalam kisaran sasaran inflasi nasional Bank Indonesia, yakni 2,5% plus-minus 1%. Namun, bagi rumah tangga, persoalannya bukan hanya apakah inflasi masih terkendali, melainkan barang apa yang membuat pengeluaran terasa semakin berat.
Apa Itu Inflasi?
Secara sederhana, inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam periode tertentu.
Artinya, kenaikan harga satu atau dua barang belum tentu disebut inflasi. Inflasi terjadi ketika kenaikan harga meluas ke berbagai barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. Pengukurannya dilakukan menggunakan Indeks Harga Konsumen (IHK), yang mencerminkan perubahan harga berbagai kebutuhan rumah tangga.
Karena itu, inflasi sebenarnya adalah cerita tentang daya beli.
Ketika harga naik sementara pendapatan tidak meningkat dengan kecepatan yang sama, uang yang sama akan membeli barang yang lebih sedikit. Sederhananya, uang Rp1 juta hari ini belum tentu mampu mendapatkan keranjang belanja yang sama seperti beberapa tahun lalu.
Inflasi Agustus 2026 Naik Jadi 3,19%
BPS mencatat IHK pada Agustus 2026 berada di level 111,97, naik dari 111,73 pada Juli.
Secara bulanan, terjadi inflasi 0,21%. Sementara secara tahunan, inflasi mencapai 3,19%, meningkat dibandingkan 2,31% pada Agustus 2025.
Dengan kata lain, tekanan harga memang belum berada pada level yang mengkhawatirkan secara makro, tetapi dibandingkan setahun sebelumnya, biaya hidup masyarakat menghadapi tekanan yang lebih besar.
Pertanyaannya kemudian: dari mana kenaikan tersebut datang?
Daging Ayam Jadi Salah Satu Biang Kerok
Jika ingin mencari barang yang paling terasa di meja makan pada Agustus, jawabannya adalah daging ayam ras.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 0,57% secara bulanan dan menjadi penyumbang terbesar inflasi Agustus dengan andil 0,17%. Daging ayam ras menjadi komoditas yang paling dominan, sementara cabai rawit, ikan segar, dan beras masing-masing memberikan andil 0,02%.
Kenaikan harga pangan ini penting karena makanan merupakan kebutuhan yang sulit ditunda.
Ketika harga barang elektronik naik, konsumen mungkin bisa menunda pembelian. Tetapi ketika harga ayam, beras, cabai, dan ikan naik, rumah tangga tetap harus berbelanja.
Inilah sebabnya inflasi pangan sering terasa lebih "pedih" dibandingkan angka inflasi nasionalnya.
Mengapa Harga Pangan Naik?
Tekanan pada pangan bergejolak atau volatile food menjadi salah satu faktor penting pada Agustus.
Bank Indonesia mencatat kelompok volatile food mengalami inflasi 0,88% secara bulanan dan 4,06% secara tahunan. Pendorong utamanya antara lain daging ayam ras, cabai rawit, dan beras.
Khusus daging ayam, kenaikan permintaan turut menjadi faktor. Permintaan meningkat antara lain berkaitan dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, momentum HUT RI, serta berlanjutnya program Makan Bergizi Gratis setelah periode libur sekolah.
Di sisi lain, produksi sejumlah komoditas hortikultura juga mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya. Kombinasi permintaan dan pasokan inilah yang kemudian dapat mendorong harga pangan lebih tinggi.
Bukan Cuma Pangan, Emas Juga Mendorong Inflasi
Inflasi Agustus tidak hanya berasal dari isi keranjang belanja di pasar.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mengalami kenaikan. Salah satu komoditas yang menonjol adalah emas perhiasan, yang pada Agustus mengalami inflasi 0,75% secara bulanan dan memberikan andil 0,02% terhadap inflasi nasional.
Secara tahunan, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya memberikan andil terhadap inflasi nasional, terutama karena kenaikan harga emas perhiasan.
Ini menunjukkan bahwa tekanan biaya hidup tidak hanya datang dari kebutuhan pokok. Perubahan harga juga terjadi pada barang dan jasa lain yang masuk dalam pola konsumsi masyarakat.
Kabar Baik: Tiket Pesawat dan BBM Justru Menahan Inflasi
Tidak semua harga bergerak naik.
Kelompok transportasi pada Agustus 2026 justru mengalami deflasi 0,50% secara bulanan dan memberikan andil deflasi 0,06%.
Penurunan tarif angkutan udara serta harga bensin menjadi faktor utama yang menahan laju inflasi. Bank Indonesia juga mencatat kelompok administered prices mengalami deflasi 0,33% secara bulanan, antara lain karena penurunan tarif angkutan udara dan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax dan Pertamax Turbo.
Artinya, jika harga pangan memberikan tekanan ke dompet, penurunan biaya transportasi menjadi semacam bantalan yang membuat kenaikan harga secara keseluruhan tidak lebih tinggi.
Apa Dampaknya ke Biaya Hidup?
Di sinilah angka inflasi menjadi relevan bagi masyarakat.
Inflasi 3,19% tidak berarti setiap barang di toko naik tepat 3,19%. Ada barang yang naik jauh lebih tinggi, ada yang naik lebih rendah, bahkan ada yang harganya turun.
Dampaknya juga berbeda untuk setiap rumah tangga.
Keluarga yang sebagian besar pengeluarannya digunakan untuk makanan akan lebih cepat merasakan kenaikan harga pangan. Sebaliknya, rumah tangga yang banyak mengalokasikan pengeluaran untuk transportasi bisa mendapatkan sedikit manfaat ketika tarif penerbangan atau harga BBM turun.
Karena itu, inflasi nasional adalah rata-rata, sedangkan inflasi yang dirasakan masyarakat sangat bergantung pada pola belanja masing-masing.
Dompet Rumah Tangga Masih Jadi Pertaruhan
Inflasi Agustus 2026 sebenarnya masih berada dalam sasaran Bank Indonesia. Inflasi inti juga tercatat 2,92% secara tahunan, menunjukkan tekanan harga yang mendasari perekonomian masih relatif tetap terjaga.
Namun, kenaikan inflasi tahunan dari 2,31% pada Agustus 2025 menjadi 3,19% pada Agustus 2026 tetap perlu diperhatikan.
Sebab, bagi masyarakat, ukuran inflasi yang paling nyata bukan hanya angka yang muncul dalam laporan ekonomi.
Ukurannya sederhana: berapa banyak isi keranjang belanja yang bisa dibawa pulang dengan uang yang sama?
Jika kenaikan harga pangan seperti ayam, beras, cabai, dan ikan berlangsung lebih lama, pendapatan rumah tangga harus bekerja lebih keras hanya untuk mempertahankan standar konsumsi yang sama.
Pada akhirnya, inflasi bukan sekadar cerita tentang angka 3,19%.
Inflasi adalah cerita tentang isi dompet, isi keranjang belanja, dan seberapa jauh uang kita masih mampu menjangkau kebutuhan sehari-hari.
(bps/investortrust/validnews/suar/*/hm27)
PREVIOUS ARTICLE
Efek Inflasi AS dan Harga Minyak, Harga Emas Antam Turun








































