Tuesday, September 15, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Pasca Reshuffle Menkeu, IHSG dan Rupiah Kompak Melemah

Mistar.idSelasa, 15 September 2026 pukul 12.43 WIB
pasca_reshuffle_menkeu_ihsg_dan_rupiah_kompak_melemah

Karyawan memfoto layar pergerakan perdagangan saham (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI). (Foto: Bloomberg Technoz)

news_banner

Medan, MISTAR.ID — Usai reshuffle Menteri Keuangan secara mendadak, pasar keuangan domestik kembali fokus pada dinamika isu ekonomi global dan regional.

Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, mengatakan agenda rilis data ekonomi hari ini yang minim, membuat pergerakan pasar saham dan mata uang banyak disetir sentimen geopolitik yang memanas di kawasan Asia.

Faktor ketidakpastian global yang makin memburuk, menjadi cerminan kelam kinerja sektor keuangan. Gunawan mengambil contoh, harga minyak mentah dunia dalam dua hari terakhir masih stagnan di kisaran 106 Dolar AS per barel. Tekanan eksternal tersebut, perlahan melunturkan optimisme pelaku pasar di bursa domestik.

Dampak dari sentimen negatif ini, terlihat pada laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sempat menyentuh zona hijau pada pembukaan, namun tidak bertahan lama, IHSG justru berbalik arah melemah hingga di bawah 6.500.

"Pelemahan ini bukan cuma terjadi pada IHSG, mayoritas bursa saham di kawasan Asia juga terpantau melemah pada sesi perdagangan pagi," katanya, Selasa (15/9/2026).

Dari sisi internal, melemahnya bursa saham domestik juga diperparah oleh sikap wait and see atau kehati-hatian dari para pelaku pasar.

"Tekanan pada IHSG kembali memburuk, karena pelaku pasar menanti arah kebijakan fiskal pemerintah, khususnya setelah pelantikan Menteri Keuangan yang baru. Kepastian kebijakan fiskal sangat ditunggu untuk mengukur daya tahan ekonomi domestik ke depan," ucap Gunawan.

Kemudian, kinerja mata uang Rupiah hari ini ditransaksikan melemah hingga sentuh level Rp17.675 per Dolar Amerika Serikat. Hal tersebut tidak lepas dari tekanan kuat indikator perekonomian AS yang terus menguat.

Menurut analisisnya, penguatan Dolar AS dipicu naiknya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury tenor 10 tahun yang kembali menyentuh 5 persen.

Kondisi ini diperberat oleh USD Index yang naik ke 99,6. Secara keseluruhan, kombinasi tekanan dari pasar obligasi Amerika Serikat, eskalasi geopolitik, dan transisi kepemimpinan di Kementerian Keuangan menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan domestik hari ini.[]



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN