Xi Jinping Dijadwalkan ke AS, Trump Siapkan Negosiasi Besar: Rare Earth Jadi Kartu China

Xi Jinping Dijadwalkan ke AS, Trump Siapkan Negosiasi Besar: Rare Earth Jadi Kartu China. (foto ilustrasi:gemini/mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID (15/9/2026) — Presiden China Xi Jinping dijadwalkan akan datang ke Amerika Serikat untuk bertemu Presiden Donald Trump pada 24 September 2026.
Pertemuan di Gedung Putih ini diperkirakan menjadi salah satu momen paling menentukan bagi hubungan dua negara, terutama di tengah perang tarif, perebutan teknologi, dan persaingan mendapatkan mineral strategis.
Trump dan Xi tidak hanya akan membahas perdagangan. Taiwan, kecerdasan buatan (AI), investasi, hingga rantai pasok mineral kritis diperkirakan masuk dalam agenda.
Namun, ada satu isu yang berpotensi menjadi kartu tawar paling kuat Beijing: rare earth.
Pertemuan ini juga berlangsung ketika Washington sedang berupaya mengurangi ketergantungan terhadap China untuk mineral strategis. China masih menguasai sekitar 85% kapasitas pemurnian rare earth global pada 2025. Menurut IEA, pangsa China dalam pemurnian rare earth diproyeksikan turun menjadi sekitar 70% pada 2035 jika proyek-proyek yang direncanakan berjalan sesuai jadwal.
Trump-Xi: Akankah Perang Tarif Mereda?
Salah satu pertanyaan terbesar menjelang pertemuan adalah apakah Trump dan Xi akan menghasilkan kesepakatan baru untuk meredakan perang dagang.
China telah menyatakan harapan agar Washington dan Beijing dapat menyepakati penurunan tarif timbal balik dalam waktu dekat. Kedua negara bahkan disebut tengah membahas pengurangan tarif atas barang senilai sekitar US$30 miliar dari masing-masing pihak.
Meski demikian, peluang lahirnya kesepakatan dagang komprehensif masih terbatas.
Washington lebih mengarah pada kesepakatan sektoral atau terbatas, sementara sejumlah persoalan struktural seperti teknologi, subsidi industri dan akses pasar masih sulit diselesaikan.
Artinya, pertemuan Trump-Xi kemungkinan lebih penting sebagai upaya mencegah hubungan AS-China kembali memburuk ketimbang menjadi titik akhir perang dagang.
Rare Earth Jadi Senjata Negosiasi China
Rare earth membuat posisi China berbeda dari sekadar negara mitra dagang.
Mineral ini digunakan dalam berbagai produk strategis, mulai dari elektronik, kendaraan listrik, semikonduktor hingga industri pertahanan.
China memiliki posisi dominan bukan hanya dalam pertambangan, tetapi terutama dalam proses pemurnian dan pengolahan. Ketergantungan tersebut membuat pembatasan ekspor dapat memberikan tekanan langsung terhadap industri Amerika Serikat.
Reuters melaporkan pasokan mineral kritis menjadi bagian penting dari persiapan AS menjelang kunjungan Xi. Washington sedang meningkatkan investasi dan kerja sama dengan negara lain untuk membangun rantai pasok alternatif, tetapi ketergantungan terhadap China belum mudah diputus.
Kasus yttrium menunjukkan betapa strategisnya persoalan tersebut. Mineral yang relatif jarang dibicarakan itu digunakan untuk aerospace, semikonduktor dan pelapis tahan panas mesin jet. China menjadi pemasok dominan dan kontrol ekspornya telah mengganggu sejumlah rantai pasok industri.
Karena itu, rare earth kemungkinan menjadi salah satu alat tawar Beijing dalam perundingan dengan Washington.
Taiwan Masih Jadi Titik Panas
Di luar perdagangan, Taiwan tetap menjadi persoalan yang sulit dipisahkan dari hubungan Trump-Xi.
Beijing menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya. Sementara itu, Washington mempertahankan hubungan tidak resmi dengan Taipei dan menjadi pemasok utama peralatan pertahanan Taiwan.
Sejumlah analis memperkirakan China akan kembali mengangkat isu Taiwan dalam pertemuan 24 September.
Masalahnya, kesepakatan ekonomi tidak otomatis menyelesaikan perselisihan keamanan.
Justru, keberhasilan Trump dan Xi menurunkan tensi perdagangan dapat menciptakan ruang untuk membahas isu yang lebih sensitif tanpa harus langsung berujung pada eskalasi.
AI Jadi Medan Pertarungan Berikutnya
Jika tarif dan rare earth merupakan wajah lama rivalitas AS-China, AI adalah medan perang baru.
Washington berusaha mempertahankan keunggulan dalam semikonduktor, komputasi dan teknologi AI. Beijing, di sisi lain, terus memperkuat kemampuan teknologi domestiknya.
AI juga semakin sulit dipisahkan dari isu keamanan nasional. Teknologi ini berkaitan dengan industri pertahanan, keamanan siber, produktivitas ekonomi hingga kekuatan militer.
Karena itu, AI diperkirakan menjadi salah satu pembahasan penting Trump dan Xi, meskipun peluang tercapainya kesepakatan besar di bidang tersebut dinilai terbatas.
Persaingan teknologi pada akhirnya membuat konflik AS-China bergeser dari sekadar perang tarif menjadi perebutan posisi dalam ekonomi masa depan.
Apa Dampaknya bagi Ekonomi Asia?
Hasil pertemuan Trump-Xi akan langsung diperhatikan negara-negara Asia.
Jika kedua pemimpin mencapai kompromi perdagangan, tekanan terhadap rantai pasok global berpotensi mereda. Dunia usaha juga memperoleh kepastian lebih besar mengenai tarif dan arus barang antara dua ekonomi terbesar dunia.
Sebaliknya, kegagalan mencapai kesepakatan dapat memperpanjang fragmentasi perdagangan dan mendorong perusahaan global semakin agresif memindahkan atau mendiversifikasi produksinya ke negara lain di Asia.
Dengan kata lain, negara-negara Asia bisa menjadi pemenang dari diversifikasi rantai pasok, tetapi juga harus menghadapi tekanan untuk menentukan posisi di tengah rivalitas Washington dan Beijing.
Indonesia Punya Peluang, Tapi Juga Risiko
Indonesia berada dalam posisi strategis karena memiliki kekayaan mineral penting bagi transisi energi dan industri teknologi.
Nikel menjadi salah satu aset terbesar Indonesia. Ketika AS dan China berlomba mengamankan rantai pasok mineral kritis, posisi Indonesia sebagai produsen dan pusat hilirisasi menjadi semakin penting.
Rivalitas kedua negara dapat membuka peluang masuknya investasi dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Namun, peluang tersebut datang bersama tantangan.
Semakin tajam persaingan AS-China, semakin besar pula tekanan terhadap negara-negara Asia Tenggara untuk menjaga keseimbangan hubungan dengan kedua kekuatan ekonomi tersebut.
Bagi Indonesia, pilihan paling strategis bukan sekadar berpihak, melainkan memanfaatkan persaingan untuk memperkuat industri domestik dan hilirisasi.
Dunia Menunggu Hasil Pertemuan Trump-Xi
Pertemuan Xi Jinping ke AS pada 24 September belum tentu menghasilkan kesepakatan besar yang mengakhiri rivalitas Washington dan Beijing.
Namun, pertemuan tersebut tetap penting.
Trump dan Xi akan berhadapan dengan daftar persoalan yang saling terkait: tarif, rare earth, teknologi, AI, Taiwan hingga rantai pasok global.
Jika keduanya berhasil menemukan kompromi, pasar global bisa mendapatkan ruang bernapas.
Jika tidak, rare earth dan teknologi dapat kembali menjadi senjata dalam persaingan dua negara.
Bagi Indonesia dan negara-negara Asia lainnya, hasil pertemuan Trump-Xi bukan hanya persoalan geopolitik. Keputusan dua pemimpin tersebut dapat menentukan arah perdagangan, investasi, komoditas dan rantai pasok global dalam beberapa tahun ke depan.
(reuters/ap/iea/*/hm27)







































