Pemanasan Global 1,5°C Terancam Terlewati: Ini Ancaman yang Menunggu Dunia dan Indonesia

Pemanasan Global 1,5°C Terancam Terlewati: Ini Ancaman yang Menunggu Dunia dan Indonesia. (foto ilustrasi:gemini/mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID (15/9/2026) — Bumi semakin panas, dan batas 1,5°C yang selama ini menjadi benteng utama dunia menghadapi perubahan iklim kini semakin sulit dipertahankan. Jika suhu global terus naik, apa yang akan terjadi pada manusia, kota-kota pesisir, hingga pulau-pulau kecil?
Batas pemanasan global 1,5°C yang selama ini menjadi target utama dalam perjuangan melawan perubahan iklim semakin dekat untuk terlewati.
Peringatan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bukan lagi sekadar soal kemungkinan. United Nations Environment Programme (UNEP) pada September 2026 menyatakan bahwa terlampauinya 1,5°C kini secara luas dinilai tidak terhindarkan dalam lintasan kebijakan dan tren emisi saat ini.
Namun, kabar tersebut bukan berarti dunia telah kalah.
Justru sebaliknya. UNEP menegaskan bahwa seberapa tinggi suhu bumi akan naik dan berapa lama suhu tersebut bertahan di atas 1,5°C akan sangat menentukan seberapa besar kerusakan yang harus ditanggung manusia dan ekosistem.
Dengan kata lain, setiap sepersekian derajat masih berarti.
Pertanyaannya sekarang bukan hanya apakah dunia akan melewati 1,5°C, tetapi seberapa jauh pemanasan global akan melampaui angka tersebut dan apa yang terjadi setelahnya.
Bumi Semakin Panas, 1,5°C Makin Sulit Dipertahankan
Data Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menunjukkan betapa cepat perubahan sedang berlangsung.
WMO mencatat 2015–2025 sebagai 11 tahun terpanas dalam catatan. Tahun 2025 sendiri berada di posisi kedua atau ketiga sebagai tahun terpanas, dengan suhu rata-rata global sekitar 1,43°C di atas rata-rata periode praindustri 1850–1900.
Lebih mengkhawatirkan lagi, WMO memperkirakan ada peluang 75% bahwa rata-rata suhu global selama periode 2026–2030 akan berada di atas 1,5°C dibandingkan periode praindustri.
Bahkan, ada peluang 91% bahwa setidaknya satu tahun dalam periode tersebut akan sementara melampaui 1,5°C. WMO juga memperkirakan peluang 86% bahwa setidaknya satu tahun 2026–2030 akan lebih panas daripada rekor 2024.
Angka-angka tersebut menjelaskan mengapa isu pemanasan global 1,5°C kembali menjadi sorotan.
Tetapi ada satu hal penting yang perlu dipahami.
Satu tahun dengan suhu di atas 1,5°C belum berarti target Paris Agreement secara resmi telah gagal.
Target 1,5°C mengacu pada pemanasan jangka panjang, bukan suhu global satu tahun tertentu. Karena itu, yang kini menjadi perhatian adalah kecenderungan jangka panjang dan kemungkinan terjadinya overshoot—periode ketika suhu bumi berada di atas 1,5°C sebelum berpotensi kembali turun.
Apa Arti 1,5°C bagi Kehidupan Manusia?
Bagi sebagian orang, kenaikan suhu 1,5°C mungkin terdengar kecil.
Tetapi angka tersebut bukan berarti suhu di luar rumah hanya akan terasa 1,5°C lebih panas.
Angka 1,5°C merupakan kenaikan suhu rata-rata global dibandingkan periode praindustri. Di tingkat lokal, perubahan suhu dapat jauh lebih besar.
Dampaknya juga tidak berdiri sendiri.
Setiap tambahan pemanasan meningkatkan risiko gelombang panas, hujan ekstrem, kekeringan, pencairan es, pemanasan laut dan kenaikan muka laut.
Itulah sebabnya 1,5°C bukanlah garis yang memisahkan dunia “aman” dan “berbahaya”.
1,5°C sendiri sudah berbahaya.
Angka tersebut lebih tepat dipahami sebagai upaya untuk membatasi agar kerusakan akibat perubahan iklim tidak menjadi jauh lebih parah.
Lalu Apa yang Terjadi Jika Dunia Lewat 1,5°C?
Di sinilah istilah climate overshoot atau overshoot iklim menjadi penting.
Menurut UNEP, dunia kini menghadapi kemungkinan melewati 1,5°C sebelum kemudian berupaya menurunkan suhu kembali. Namun, bentuk kurva pemanasan tersebut sangat menentukan risiko.
Semakin tinggi puncak suhu dan semakin lama dunia berada di atas 1,5°C, semakin besar dampak yang harus dihadapi.
Karena itu, dunia masih memiliki pilihan.
Targetnya adalah membuat kenaikan suhu sependek dan serendah mungkin, kemudian menurunkannya kembali.
Masalahnya, semakin lama emisi gas rumah kaca tetap tinggi, semakin sulit perjalanan tersebut.
Dunia +1,5°C, +2°C, dan +3°C: Apa Bedanya?
Perbedaan antara 1,5°C, 2°C dan 3°C bukan sekadar selisih angka.
Setiap tambahan pemanasan memperbesar risiko dan mempersempit kemampuan manusia untuk beradaptasi.
Jika bumi memanas sekitar 1,5°C
Dunia sudah menghadapi gelombang panas yang lebih sering dan intens, hujan ekstrem, kekeringan, pemanasan laut serta kenaikan muka laut.
Namun, dibandingkan tingkat pemanasan yang lebih tinggi, risiko dan kerusakannya masih relatif lebih dapat dibatasi.
Itulah alasan mengapa dunia berusaha mempertahankan target 1,5°C.
Jika pemanasan mencapai 2°C
Risiko meningkat.
Gelombang panas menjadi lebih ekstrem, hujan lebat dan banjir dapat semakin parah di berbagai wilayah, sementara tekanan terhadap pangan, air, kesehatan dan ekosistem ikut meningkat.
Perbedaan 0,5°C mungkin terdengar kecil bagi manusia, tetapi dalam sistem iklim global dampaknya dapat sangat besar.
Jika pemanasan mencapai 3°C
Dunia akan memasuki kondisi yang jauh lebih berisiko.
Berbagai dampak dapat terjadi secara bersamaan: panas ekstrem, kekeringan, banjir, kenaikan muka laut, kerusakan ekosistem, tekanan pangan dan air, hingga meningkatnya kebutuhan relokasi masyarakat.
Yang lebih mengkhawatirkan, risiko tersebut dapat saling memperkuat.
Perubahan iklim bukan satu bencana tunggal. Ia merupakan rantai risiko yang dapat merambat dari lingkungan ke kesehatan, ekonomi, pangan, infrastruktur dan kehidupan sosial.
Negara Mana yang Paling Terancam Perubahan Iklim?
Tidak semua negara menghadapi risiko dengan cara yang sama.
Negara kepulauan kecil dan wilayah pesisir rendah termasuk yang sangat rentan terhadap kenaikan muka laut.
Banjir pesisir, erosi, intrusi air asin dan kerusakan ekosistem dapat semakin sering terjadi ketika permukaan laut terus naik.
IPCC telah lama memperingatkan bahwa kenaikan muka laut meningkatkan risiko bagi kawasan pesisir, terutama wilayah rendah dan komunitas yang bergantung pada lingkungan pesisir.
Di Asia, ancamannya juga sangat besar.
IPCC mencatat berbagai risiko terkait panas ekstrem, banjir, kekeringan, kenaikan muka laut dan perubahan ekosistem di kawasan Asia.
Dan Indonesia berada tepat di tengah persoalan tersebut.
Apakah Indonesia Akan Terdampak?
Jawabannya: ya.
Sebagai negara kepulauan dengan banyak kota dan permukiman yang berada di kawasan pesisir, Indonesia menghadapi kombinasi risiko akibat perubahan iklim dan pemanasan global.
Ancaman tersebut mencakup kenaikan muka laut, banjir pesisir, hujan ekstrem, gelombang panas, gangguan terhadap pertanian, ketersediaan air dan ekosistem laut.
Masalahnya semakin kompleks karena di sejumlah wilayah pesisir, kenaikan muka laut bertemu dengan persoalan lokal seperti penurunan muka tanah.
Artinya, ancaman banjir tidak hanya berasal dari laut yang naik.
Tanah yang turun dapat membuat dampaknya menjadi jauh lebih parah.
Jakarta hingga Semarang, Kota Mana yang Rentan Banjir?
Kota-kota pesisir Indonesia menjadi salah satu titik yang perlu mendapat perhatian serius.
Jakarta merupakan contoh paling jelas. Kota ini menghadapi kombinasi risiko banjir, kenaikan muka laut, hujan ekstrem dan penurunan muka tanah di sejumlah wilayah.
Semarang juga menghadapi persoalan serupa. Kajian IPCC mengenai Asia mencantumkan isu kerentanan pesisir dan penurunan muka tanah di Semarang dalam konteks risiko perubahan iklim.
Namun, penting untuk tidak menyederhanakan persoalan dengan mengatakan kota-kota tersebut akan “tenggelam” pada tahun tertentu.
Perubahan iklim tidak bekerja seperti sakelar yang tiba-tiba mematikan sebuah kota.
Risikonya meningkat secara bertahap.
Banjir bisa menjadi lebih sering. Infrastruktur menjadi lebih mahal untuk dilindungi. Air laut dapat semakin masuk ke daratan. Dan pada titik tertentu, sebagian wilayah mungkin menjadi semakin sulit dihuni.
Apakah Pulau-Pulau Kecil Bisa Tenggelam?
Ini menjadi salah satu pertanyaan paling mengkhawatirkan dalam era pemanasan global.
Jawabannya tidak sesederhana pulau akan langsung “tenggelam”.
Bagi pulau kecil, persoalan utamanya bisa terjadi jauh sebelum seluruh daratan benar-benar berada di bawah air.
Kenaikan muka laut dapat memperparah erosi pantai, banjir, intrusi air asin dan kerusakan sumber air tawar.
Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih penting bukan hanya:
“Apakah pulau itu masih ada?”
Melainkan:
“Apakah pulau tersebut masih layak dihuni?”
Itulah salah satu alasan kenaikan muka laut menjadi ancaman serius bagi negara-negara kepulauan dan masyarakat pesisir.
Mengapa Target Paris Agreement Sulit Dicapai?
Jika ancamannya sudah begitu jelas, mengapa dunia masih kesulitan menahan pemanasan global 1,5°C?
Jawabannya ada pada emisi.
Perekonomian dunia masih sangat bergantung pada energi fosil. Di saat yang sama, transisi menuju energi rendah karbon membutuhkan investasi besar, perubahan infrastruktur dan kebijakan jangka panjang.
UNEP memperkirakan jalur menuju target 1,5°C membutuhkan pengurangan emisi global yang sangat besar.
Dalam Emissions Gap Report 2025, UNEP menyebut emisi tahunan pada 2035 perlu turun sekitar 55% dibandingkan 2019 untuk berada pada jalur 1,5°C.
Masalahnya, waktu untuk melakukan perubahan tersebut semakin sempit.
China dan Amerika Serikat Punya Peran Besar
Dalam upaya menekan pemanasan global, kebijakan China dan Amerika Serikat menjadi sangat penting.
Keduanya memiliki pengaruh besar terhadap emisi global, konsumsi energi, investasi teknologi dan arah pasar energi.
Tetapi penyelesaian krisis iklim tidak bisa dibebankan hanya kepada dua negara tersebut.
Negara-negara lain juga harus mempercepat pengurangan emisi, memperluas energi bersih, melindungi hutan dan memperkuat kemampuan adaptasi.
Sebab atmosfer tidak mengenal batas negara.
Emisi di satu wilayah pada akhirnya memengaruhi sistem iklim seluruh dunia.
Apakah Dunia Sudah Gagal?
Belum.
Justru di sinilah pesan penting dari laporan terbaru UNEP.
Melewati 1,5°C tidak berarti upaya membatasi pemanasan menjadi sia-sia.
UNEP menyebut pendekatan overshoot, peak and decline merupakan best remaining option untuk membantu negara dan komunitas rentan menghadapi pemanasan dan kembali menuju di bawah 1,5°C.
Semakin kecil puncak pemanasan dan semakin singkat periode di atas 1,5°C, semakin kecil pula risiko kerusakan yang harus ditanggung.
Karena itu, pertanyaan dunia kini berubah.
Bukan lagi hanya:
“Apakah kita akan melewati 1,5°C?”
Tetapi:
“Seberapa tinggi kita akan melewatinya, berapa lama kita bertahan di sana, dan seberapa cepat kita bisa kembali turun?”
Bagi Indonesia, Waktunya Bukan Nanti
Bagi Indonesia, isu pemanasan global 1,5°C bukan sekadar perdebatan angka di meja konferensi internasional.
Dampaknya menyentuh persoalan yang jauh lebih dekat: rumah di kawasan pesisir, produksi pangan, ketersediaan air, kesehatan masyarakat, nelayan, infrastruktur hingga masa depan kota-kota besar.
Semakin tinggi pemanasan global, semakin besar pula biaya yang harus dikeluarkan untuk beradaptasi.
Karena itu, menjaga suhu bumi serendah mungkin tetap menjadi kepentingan semua negara.
1,5°C bukan garis aman. Tetapi setiap sepersekian derajat yang berhasil dicegah hari ini berarti lebih sedikit risiko yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya.
(unep/wmo/ipcc/*/hm27)
PREVIOUS ARTICLE
Trump Pilih Gas, Amodei Minta Rem: Perang Baru AI AS-China








































