Tuesday, September 15, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

China Pegang ‘Senjata Rahasia’ yang Dibutuhkan Amerika, Bukan Rudal

Mistar.idSelasa, 15 September 2026 pukul 15.01 WIB
china_pegang_senjata_rahasia_yang_dibutuhkan_amerika_bukan_rudal

China Pegang ‘Senjata Rahasia’ yang Dibutuhkan Amerika, Bukan Rudal. (foto ilustrasi:gemini/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (15/9/2026) — Amerika Serikat (AS) dan China tak lagi hanya bertarung lewat tarif. Di balik perang dagang, ada pertarungan yang jauh lebih strategis: siapa yang menguasai mineral untuk membuat mobil listrik, ponsel, pesawat hingga senjata canggih?

Perang dagang Amerika Serikat dan China memasuki babak baru.

Jika sebelumnya tarif impor menjadi senjata utama Washington dan Beijing, kini pertarungan bergerak ke sesuatu yang jauh lebih mendasar: mineral strategis dan rantai pasok teknologi.

China memiliki kartu yang membuat Amerika Serikat sulit bertindak terlalu agresif.

Bukan rudal.

Bukan kapal perang.

Melainkan mineral yang mungkin selama ini nyaris tak diperhatikan konsumen, tetapi menjadi bahan penting bagi industri masa depan.

Salah satunya adalah rare earth elements (REE).

China memang bukan satu-satunya negara yang memiliki cadangan rare earth. Namun keunggulan Beijing terletak pada kemampuan menguasai rantai pasok dari penambangan, pemurnian hingga pembuatan magnet dan produk turunannya.

Dalam proyeksi IEA 2025, China diperkirakan masih memasok sekitar 80% rare earth untuk magnet dan sekitar 80% grafit kelas baterai pada 2035. Namun, IEA 2026 menunjukkan diversifikasi mulai terjadi, terutama pada rare earth, sehingga angka tersebut bukan berarti dominasi China tidak bisa berubah.

Inilah yang membuat rare earth menjadi senjata ekonomi yang sangat strategis.

Apa Itu Rare Earth?

Rare earth bukan berarti mineral yang sangat langka.

Istilah tersebut merujuk pada kelompok 17 unsur logam, terdiri dari skandium, itrium dan 15 unsur lanthanida. USGS mencatat unsur-unsur ini memiliki karakteristik kimia dan fisik yang membuatnya penting untuk berbagai kebutuhan industri modern.

Yang membuat rare earth berharga bukan semata-mata jumlahnya di kerak bumi, tetapi sulitnya menemukan deposit yang ekonomis, mengekstraknya, memisahkan unsur-unsurnya, kemudian memprosesnya menjadi material berkualitas tinggi.

Di sinilah China memiliki keunggulan.

Beijing selama puluhan tahun membangun kapasitas pemrosesan dan manufaktur yang membuat negara lain sulit mengejar.

Menurut Council on Foreign Relations, China menguasai sebagian besar pemrosesan heavy rare earth dan manufaktur magnet permanen, sehingga Amerika Serikat masih menghadapi ketergantungan yang sangat tinggi terhadap China untuk bahan tersebut.

Kenapa China Bisa Menguasai Mineral Strategis?

Jawabannya bukan sekadar karena China memiliki tambang.

Kekuatan terbesar China justru ada di tengah dan hilir rantai pasok.

Menambang mineral hanyalah langkah pertama.

Setelah mineral keluar dari tanah, bahan tersebut harus dipisahkan, dimurnikan, diolah menjadi material antara dan akhirnya digunakan untuk membuat komponen industri.

Tahapan inilah yang membutuhkan investasi besar, teknologi, energi, infrastruktur dan pengalaman industri.

China telah membangun ekosistem tersebut dalam skala besar.

Akibatnya, negara lain bisa saja memiliki cadangan mineral, tetapi belum tentu memiliki kemampuan untuk mengubahnya menjadi produk yang dibutuhkan industri.

Inilah alasan mengapa "punya tambang" tidak otomatis berarti "menguasai pasar."

IEA mencatat konsentrasi pemrosesan mineral penting bahkan meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2025, China tetap menjadi negara dominan dalam pemrosesan berbagai mineral strategis, meski konsentrasi rare earth mulai sedikit berkurang akibat munculnya proyek baru di negara lain.

Dari HP hingga Mobil Listrik

Bagi konsumen, rare earth mungkin terdengar seperti istilah industri yang jauh dari kehidupan sehari-hari.

Padahal jejaknya ada di berbagai perangkat yang digunakan setiap hari.

Rare earth digunakan dalam magnet permanen, elektronik, katalis dan berbagai aplikasi industri; sementara mineral kritis lain seperti grafit, lithium, nickel dan cobalt sangat penting bagi rantai pasok baterai. USGS menyebut REE digunakan dalam lebih dari 200 produk, termasuk berbagai aplikasi pertahanan, energi terbarukan dan produk komersial.

Salah satu aplikasi paling penting adalah magnet permanen.

Neodymium, praseodymium, dysprosium dan terbium menjadi sangat penting untuk menghasilkan magnet kuat dengan ukuran relatif kecil.

Magnet semacam ini digunakan dalam:

- motor kendaraan listrik;

- turbin angin;

- hard disk;

- perangkat elektronik;

- robot;

- sistem radar;

- sistem navigasi;

- pesawat;

- hingga berbagai teknologi pertahanan.

USGS juga mencatat rare earth memiliki aplikasi pada sistem panduan, laser, radar dan sonar untuk kebutuhan pertahanan.

Dengan kata lain, ketika pasokan rare earth terganggu, yang terkena dampaknya bukan hanya industri pertambangan.

Rantai industri teknologi modern bisa ikut tersendat.

Mengapa Mobil Listrik Bisa Ikut Terdampak?

Mobil listrik menjadi salah satu sektor yang paling sensitif terhadap gangguan rantai pasok mineral.

Motor listrik berperforma tinggi dapat menggunakan magnet permanen berbasis rare earth.

Jika pasokan material tersebut terganggu atau harga melonjak, produsen kendaraan menghadapi dua pilihan: membayar lebih mahal atau mencari teknologi dan pemasok alternatif.

IEA mencatat permintaan rare earth terus meningkat seiring pertumbuhan kendaraan listrik, energi terbarukan dan berbagai teknologi energi.

Namun dampaknya tidak otomatis berarti harga semua mobil listrik akan langsung melonjak.

Produsen kendaraan bisa melakukan efisiensi, menggunakan desain motor berbeda, mengganti pemasok atau mengurangi penggunaan material tertentu.

Tetapi jika pembatasan berlangsung lama dan pasokan magnet berkurang secara signifikan, biaya produksi dapat meningkat.

Dan pada akhirnya, sebagian biaya tersebut berpotensi diteruskan kepada konsumen.

Mineral China Bukan Cuma Rare Earth

Di sinilah persoalannya menjadi lebih besar.

Pertarungan AS-China bukan hanya soal rare earth.

China juga memiliki posisi kuat dalam berbagai mineral dan material strategis lain.

Grafit adalah salah satu contohnya.

Grafit merupakan material penting dalam anoda baterai lithium-ion. IEA menempatkan China sebagai pemasok dominan dalam rantai pemrosesan grafit dan sejumlah mineral energi lainnya.

Ada pula gallium dan germanium, yang memiliki aplikasi penting dalam semikonduktor, optik, komunikasi dan teknologi lainnya. Dalam daftar mineral kritis AS, gallium digunakan untuk semikonduktor, sedangkan germanium digunakan antara lain untuk serat optik, semikonduktor dan sistem night vision.

Kemudian ada tungsten, material penting untuk berbagai aplikasi industri dan pertahanan.

Artinya, Beijing memiliki sejumlah titik strategis yang dapat memengaruhi rantai pasok global.

Apakah Amerika Bisa Lepas dari China?

AS dapat mengurangi ketergantungannya terhadap China, tetapi memutus ketergantungan tersebut secara penuh akan membutuhkan waktu dan investasi yang besar.

Washington telah menggelontorkan investasi untuk membangun pertambangan, pemurnian dan manufaktur mineral strategis di dalam negeri serta mencari pemasok dari negara sekutu.

Masalahnya, membangun tambang baru tidak sama dengan membangun industri baru.

Diperlukan waktu bertahun-tahun untuk mendapatkan izin, membangun fasilitas, mengembangkan teknologi pemrosesan dan mencapai kapasitas komersial.

Reuters pada September 2026 melaporkan Amerika terus berinvestasi untuk mengurangi ketergantungan terhadap China. Namun China masih memegang posisi kuat dalam pemrosesan rare earth, lithium, cobalt dan graphite.

Bahkan, menurut IEA, diversifikasi rantai pasok diperkirakan berlangsung lambat.

Jadi, AS bisa mengurangi ketergantungan, tetapi sulit memutusnya secara instan.

China Sudah Pernah Menekan Tombol Ini

Risiko tersebut bukan sekadar teori.

Pada 2025, China memperketat kontrol ekspor sejumlah rare earth berat dan produk turunannya. Dampaknya terasa hingga sektor manufaktur global.

IEA mencatat pembatasan tersebut menyebabkan gangguan signifikan pada industri hilir dan bahkan membuat sejumlah produsen otomotif mengurangi tingkat operasi atau menghentikan produksi sementara.

Memasuki September 2026, ketegangan kembali terlihat.

Reuters melaporkan pada September 2026 bahwa sejumlah pemasok rare earth China menghentikan sementara sebagian pengiriman ke AS sejak Agustus, di tengah ketegangan geopolitik dan kekhawatiran terhadap potensi tindakan Beijing.

Ini menunjukkan bahwa mineral strategis sudah berubah menjadi instrumen geopolitik nyata.

Lalu, Apakah Indonesia Bisa Menjadi Alternatif?

Jawabannya: berpotensi, tetapi jalannya masih panjang.

Indonesia sudah memiliki posisi sangat kuat dalam mineral strategis, terutama nikel.

IEA mencatat Indonesia menjadi sumber utama pertumbuhan pasokan nikel global dalam beberapa tahun terakhir.

Untuk rare earth, peluang juga mulai dibuka.

Pemerintah Indonesia pada 2026 membentuk Perminas untuk mengelola mineral strategis, termasuk rare earth.

Bahkan pemerintah menyatakan Indonesia membuka peluang investasi Amerika Serikat di sektor mineral kritis, termasuk nikel dan rare earth.

Potensi rare earth Indonesia juga mulai diteliti lebih serius, termasuk di kawasan Bangka Belitung.

Kajian terbaru terkait sistem granit timah Bangka Belitung menemukan keberadaan mineral pembawa rare earth seperti monazite dan xenotime, meski penelitian tersebut juga menekankan bahwa prospek geologi belum otomatis berarti cadangan ekonomis siap ditambang.

Ini poin penting.

Indonesia tidak cukup hanya menjual bijih.

Jika ingin menjadi alternatif China, Indonesia harus membangun kemampuan pemurnian, pemisahan, pengolahan dan manufaktur produk turunannya.

Indonesia Punya Peluang, Tapi Jangan Berhenti di Tambang

Persaingan AS-China sebenarnya membuka peluang besar bagi Indonesia.

Amerika membutuhkan pemasok alternatif.

China ingin mempertahankan dominasi.

Produsen global ingin mengurangi risiko bergantung pada satu negara.

Di tengah situasi tersebut, negara yang mampu menyediakan mineral strategis dengan rantai pasok yang stabil memiliki posisi tawar yang semakin tinggi.

Namun Indonesia harus menghindari jebakan lama: menjadi pemasok bahan mentah sementara nilai tambah terbesar dinikmati negara lain.

Jika Indonesia hanya menambang dan mengekspor mineral, peluang geopolitik tersebut bisa kembali berubah menjadi keuntungan bagi pihak lain.

Sebaliknya, jika Indonesia mampu membangun industri pemrosesan hingga produk bernilai tambah tinggi, posisinya bisa jauh lebih strategis.

Perang Dagang AS-China Kini Bukan Lagi Sekadar Soal Tarif

Tarif bisa menaikkan harga barang.

Tetapi mineral strategis dapat menentukan apakah sebuah barang bisa diproduksi atau tidak.

Itulah yang membuat rare earth dan mineral kritis menjadi senjata baru dalam perang dagang AS-China.

China memiliki tambang.

Lebih penting lagi, China memiliki kapasitas pemrosesan dan manufaktur.

Amerika memiliki teknologi, modal dan pasar.

Namun untuk menghasilkan produk teknologi modern, keduanya masih saling membutuhkan dalam berbagai titik rantai pasok.

Maka pertarungan berikutnya bukan hanya tentang siapa yang mengenakan tarif lebih tinggi.

Pertanyaannya jauh lebih besar:

Siapa yang menguasai bahan baku yang membuat teknologi masa depan bisa bergerak?

Dan ketika jawabannya masih sangat condong ke China, Washington punya alasan kuat untuk khawatir.

Sebab dalam perang dagang modern, senjata paling ampuh terkadang bukan rudal—melainkan sesuatu yang bahkan tidak terlihat oleh konsumen ketika membeli sebuah mobil, ponsel atau pesawat.

(antara/reuters/iea/usgs/esdm/*/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN