Wednesday, September 16, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Uang Beredar Tumbuh 8,7%, Kenapa Belum Terasa di Dompet?

Mistar.idRabu, 16 September 2026 pukul 15.26 WIB
uang_beredar_tumbuh_87_kenapa_belum_terasa_di_dompet

Uang Beredar Tumbuh 8,7%, Kenapa Belum Terasa di Dompet? (foto ilustrasi:gemini/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (16/9/2026) — Bank Indonesia mencatat uang beredar dalam arti luas atau M2 tumbuh 8,7% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Juni 2026.

Angkanya terlihat besar.

Namun, bagi masyarakat, pertanyaannya sederhana: jika uang beredar tumbuh 8,7%, mengapa dampaknya belum tentu terasa di dompet?

Jawabannya karena uang beredar bukan berarti uang tunai yang langsung diterima setiap orang.

M2 merupakan ukuran agregat likuiditas dalam perekonomian yang mencakup uang beredar dalam arti sempit atau M1 serta komponen uang kuasi, termasuk berbagai simpanan di sistem perbankan.

Karena itu, pertumbuhan M2 perlu dibaca bersama perkembangan kredit, simpanan, konsumsi, investasi, produksi dan inflasi.

M0, M1 dan M2, Apa Bedanya?

Istilah uang beredar memiliki beberapa tingkatan.

M0 atau uang primer merupakan uang yang menjadi basis moneter, termasuk uang kartal dan giro bank umum pada Bank Indonesia.

Pada Juli 2026, M0 tumbuh 18,3% yoy.

Pertumbuhan tersebut terutama dipengaruhi giro bank umum di BI yang meningkat 22,4% yoy dan uang kartal yang tumbuh 15,1% yoy. BBank Indonesia

Sementara itu, M1 menggambarkan uang beredar dalam arti sempit, terutama uang kartal yang beredar di masyarakat dan uang giral.

Adapun M2 memiliki cakupan lebih luas karena mencakup M1 dan uang kuasi atau simpanan tertentu dalam sistem perbankan.

Artinya, ketika M2 meningkat, bukan berarti setiap rumah tangga otomatis memperoleh tambahan uang tunai.

Sebagian likuiditas tersebut berada di rekening, deposito dan instrumen simpanan lainnya.

Uang Beredar Naik, Apakah Berarti Inflasi?

Tidak otomatis.

Dalam teori moneter, pertumbuhan uang yang jauh lebih cepat daripada kemampuan perekonomian menghasilkan barang dan jasa dapat meningkatkan tekanan permintaan dan harga.

Namun, inflasi juga dipengaruhi banyak faktor lain, seperti harga pangan, energi, nilai tukar, biaya produksi dan ekspektasi inflasi.

Data terbaru menunjukkan hubungan tersebut tidak sesederhana uang bertambah berarti harga langsung melonjak.

BI mencatat inflasi IHK Juli 2026 sebesar 2,88% yoy, turun dari 3,34% pada Juni.

Inflasi inti berada di 2,76%, sementara inflasi volatile food tercatat 2,52%. BBank Indonesia

Artinya, pertumbuhan uang beredar harus dibaca bersama kondisi permintaan dan penawaran dalam perekonomian.

Kredit Bank Jadi Salah Satu Kunci

Lalu, ke mana sebagian likuiditas tersebut mengalir?

Salah satu jalurnya adalah kredit perbankan.

Ketika bank menyalurkan kredit, dana dapat digunakan perusahaan untuk modal kerja dan investasi atau rumah tangga untuk berbagai kebutuhan.

Aktivitas tersebut kemudian dapat meningkatkan transaksi dan kegiatan ekonomi.

Data BI menunjukkan kredit perbankan pada Juli 2026 tumbuh 13,58% yoy, meningkat dari 12,67% pada Juni. BBank Indonesia

BI juga menyebut pertumbuhan M2 pada Juni terutama dipengaruhi penyaluran kredit dan tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat. BBank Indonesia

Karena itu, pertumbuhan uang beredar tidak cukup dilihat dari besarannya.

Yang juga penting adalah bagaimana likuiditas tersebut bergerak menjadi kredit, konsumsi, investasi dan aktivitas produksi.

Likuiditas Adalah Bahan Bakar Sistem Keuangan

Likuiditas pada dasarnya membantu sistem keuangan menjalankan fungsinya.

Ketika likuiditas cukup, bank memiliki ruang untuk menyalurkan kredit. Dunia usaha pun memiliki akses pendanaan untuk menjalankan kegiatan operasional atau melakukan ekspansi.

Sebaliknya, kondisi likuiditas yang terlalu ketat dapat membuat pembiayaan lebih sulit dan menekan aktivitas ekonomi.

BI karena itu berupaya menjaga kecukupan likuiditas sekaligus mempertahankan stabilitas harga dan sistem keuangan.

Pada Juli 2026, rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) tercatat 23,10%.

Sementara rasio kecukupan modal atau CAR perbankan pada Juni 2026 sebesar 23,70%. BBank Indonesia

Angka tersebut menunjukkan perbankan memiliki bantalan likuiditas dan permodalan yang cukup kuat untuk menjalankan fungsi intermediasi.

Mengapa M2 Naik tetapi Dompet Belum Tebal?

Di sinilah perbedaan antara uang beredar dan pendapatan masyarakat menjadi penting.

Pertumbuhan M2 sebesar 8,7% pada Juni tidak berarti pendapatan setiap orang naik 8,7%.

Angka M2 merupakan pertumbuhan agregat berbagai bentuk uang dan simpanan dalam sistem keuangan.

Seseorang bisa saja tidak mengalami kenaikan pendapatan sama sekali, sementara pada saat yang sama M2 nasional meningkat.

Agar pertumbuhan likuiditas lebih terasa dalam aktivitas ekonomi, diperlukan proses yang lebih panjang:

likuiditas → kredit → konsumsi dan investasi → produksi → pendapatan → aktivitas ekonomi.

Jika dana lebih banyak tersimpan sebagai simpanan dan tidak berubah menjadi aktivitas ekonomi baru, dampak langsungnya terhadap konsumsi masyarakat bisa lebih terbatas.

Sebaliknya, ketika kredit digunakan untuk kegiatan produktif, dampaknya dapat menjalar ke dunia usaha, tenaga kerja dan rumah tangga.

Uang Beredar Bukan Ukuran Langsung Daya Beli

Ini bagian yang sering menimbulkan salah persepsi.

M2 mengukur jumlah uang dan simpanan dalam perekonomian.

Daya beli masyarakat adalah persoalan berbeda.

Daya beli dipengaruhi pendapatan, kesempatan kerja, harga barang dan jasa, cicilan utang, tabungan serta kondisi ekonomi rumah tangga.

Karena itu, M2 bisa tumbuh sementara sebagian masyarakat tetap merasa kondisi keuangannya tidak banyak berubah.

Misalnya, pertumbuhan kredit dapat meningkat karena perusahaan mengambil pembiayaan untuk modal kerja atau investasi. Dana tersebut masuk ke aktivitas ekonomi, tetapi tidak otomatis menjadi tambahan uang tunai di setiap rumah tangga.

Apakah Pertumbuhan Kredit Selalu Berarti Ekonomi Lebih Baik?

Tidak juga.

Kredit dapat membantu pertumbuhan jika digunakan untuk kegiatan produktif.

Namun, kredit juga merupakan kewajiban yang harus dibayar kembali.

Karena itu, selain melihat pertumbuhan kredit, perlu diperhatikan kualitas kredit dan kemampuan debitur membayar kewajibannya.

BI mencatat rasio kredit bermasalah atau NPL perbankan secara agregat pada Juni 2026 sebesar 2,09% secara bruto dan 0,82% secara neto. BBank Indonesia

Artinya, pertumbuhan kredit perlu dilihat bersama kualitas intermediasi perbankan.

Jadi, Apa yang Harus Dilihat Masyarakat?

Ketika BI menyebut uang beredar tumbuh, angka tersebut sebaiknya tidak langsung diterjemahkan sebagai “uang masyarakat bertambah”.

Ada beberapa indikator lain yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Pertama, pendapatan dan upah.

Kedua, lapangan kerja.

Ketiga, pertumbuhan kredit dan pembiayaan.

Keempat, konsumsi rumah tangga.

Kelima, inflasi dan harga kebutuhan sehari-hari.

Keenam, investasi dan produksi.

Jika indikator-indikator tersebut bergerak positif secara berkelanjutan, pertumbuhan likuiditas memiliki peluang lebih besar untuk diterjemahkan menjadi aktivitas ekonomi yang terasa di masyarakat.

Bukan Sekadar Berapa Banyak Uang, tetapi Mengalir ke Mana

Data BI menunjukkan beberapa angka bergerak cukup kuat.

M0 tumbuh 18,3% pada Juli 2026.

M2 tumbuh 8,7% pada Juni.

Sementara kredit perbankan tumbuh 13,58% pada Juli. BBank Indonesia

Namun, angka-angka tersebut mengukur hal yang berbeda.

M0 menunjukkan basis moneter.

M2 menunjukkan jumlah uang beredar dan likuiditas yang lebih luas.

Kredit menunjukkan fungsi intermediasi perbankan.

Karena itu, ketika BI melaporkan uang beredar meningkat, pertanyaan berikutnya bukan hanya berapa banyak uang yang bertambah.

Pertanyaan yang tidak kalah penting adalah:

Ke mana uang tersebut mengalir?

Apakah menjadi kredit produktif, investasi, konsumsi, pembayaran kewajiban, atau hanya bertahan sebagai simpanan?

Pada akhirnya, bagi masyarakat, ukuran yang paling terasa bukan sekadar pertumbuhan M2.

Yang lebih penting adalah apakah likuiditas tersebut mampu mendorong usaha, investasi, lapangan kerja, pendapatan dan daya beli.

Sebab, uang yang bertambah dalam sistem keuangan belum tentu berarti uang yang bertambah di dompet setiap orang.

(bi/*/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN