Tujuh Tanda Kecerdasan Emosional Anak Perlu Dilatih, Orang Tua Perlu Tahu

Ilustrasi. (foto: (foto: Istockphoto/mistar)
Jakarta, MISTAR.ID - Kecerdasan emosional atau emotional quotient (EQ) berperan penting dalam membantu anak memahami perasaan, mengendalikan emosi, serta membangun hubungan dengan orang lain.
Kemampuan tersebut tidak selalu berkembang dengan kecepatan yang sama pada setiap anak. Beberapa perilaku tertentu dapat menjadi tanda bahwa anak masih membutuhkan pendampingan dalam mengenali dan mengelola emosinya.
Menurut WebMD, kecerdasan emosional merupakan kemampuan seseorang untuk mengenali, memahami, dan mengelola emosi diri sendiri maupun orang lain. Kemampuan ini juga berkaitan dengan bagaimana seseorang merespons berbagai situasi sosial.
Karena itu, orang tua perlu memperhatikan pola perilaku anak tanpa terburu-buru memberikan label. Tanda-tanda tertentu dapat menjadi kesempatan untuk membantu anak mengembangkan keterampilan emosional dan sosialnya.
Berikut sejumlah perilaku yang dapat menunjukkan bahwa kemampuan emosional anak masih perlu dilatih, dirangkum dari berbagai sumber:
1. Kesulitan memahami perasaan orang lain
Anak yang belum memiliki kemampuan empati yang baik mungkin kesulitan memahami ketika orang lain sedang sedih, kecewa, atau membutuhkan dukungan.
Menurut Simply Psychology, kurangnya kepekaan terhadap emosi orang lain dapat terlihat ketika anak tidak memahami alasan temannya menangis atau kecewa.
Orang tua dapat membantu dengan mengajak anak membicarakan perasaan orang lain. Misalnya, tanyakan apa yang mungkin dirasakan temannya dan mengapa perasaan tersebut muncul.
2. Sulit berbagi makanan atau mainan
Keengganan berbagi makanan maupun mainan dapat menjadi bagian dari proses perkembangan anak. Namun, jika perilaku tersebut terus terjadi dan anak selalu kesulitan mempertimbangkan kebutuhan orang lain, orang tua dapat mulai mengajarkan konsep berbagi.
Mengutip Laodong, kemampuan berbagi merupakan salah satu keterampilan sosial yang perlu dikenalkan sejak dini.
Daripada langsung menyebut anak egois, orang tua dapat memberikan contoh sederhana mengenai manfaat berbagi dan mengajarkan anak untuk bergantian menggunakan sesuatu bersama teman.
3. Mudah kehilangan kendali saat kecewa
Anak yang belum mampu mengatur emosinya dapat bereaksi dengan marah, berteriak, menangis, atau bahkan melempar barang ketika keinginannya tidak terpenuhi.
Respons tersebut tidak selalu berarti anak memiliki EQ rendah. Pada usia tertentu, kemampuan mengendalikan emosi memang masih berkembang.
Orang tua dapat membantu dengan tetap tenang dan memberi kesempatan kepada anak untuk menenangkan diri. Setelah emosinya mereda, ajak anak mengenali apa yang dirasakan dan membicarakan cara merespons situasi tersebut.
4. Cenderung menyalahkan orang lain
Ketika mengalami masalah atau kegagalan, sebagian anak mungkin langsung menyalahkan orang lain. Hal ini dapat menunjukkan bahwa kemampuan untuk melakukan refleksi diri masih perlu dikembangkan.
Orang tua bisa mengajak anak melihat situasi dari sudut pandang yang berbeda. Pertanyaan seperti, "Menurut kamu, bagian mana yang masih bisa kamu perbaiki?" dapat membantu anak belajar mengevaluasi tindakannya.
Pendekatan tersebut umumnya lebih konstruktif dibandingkan langsung menyudutkan anak dengan pertanyaan mengenai kesalahannya.
5. Kesulitan mengungkapkan perasaan
Anak yang belum memiliki cukup kosakata emosi mungkin kesulitan menjelaskan apa yang sedang dirasakan. Ketika ditanya mengenai perasaannya, mereka bisa menjawab tidak tahu atau mengatakan semuanya baik-baik saja.
Kemampuan mengenali dan memberi nama pada emosi penting agar anak dapat belajar mengelolanya.
Orang tua dapat memperkenalkan berbagai kosakata emosi, seperti kecewa, takut, cemas, senang, sedih, marah, atau malu. Permainan sederhana tentang ekspresi wajah dan perasaan juga dapat membantu.
6. Mengalami kesulitan dalam pertemanan
Hubungan pertemanan membutuhkan berbagai keterampilan sosial, mulai dari mendengarkan, menunggu giliran berbicara, memahami situasi, hingga menyelesaikan perselisihan.
Anak yang masih kesulitan mengembangkan keterampilan tersebut mungkin terlihat terlalu dominan ketika bermain atau justru cenderung menarik diri dari lingkungan sosial.
Orang tua dapat membantu melalui permainan peran (role play) di rumah. Misalnya, buat simulasi tentang apa yang sebaiknya dilakukan ketika terjadi perselisihan dengan teman di sekolah.
PREVIOUS ARTICLE
Lima Cara Menghemat Air di Rumah Saat Musim Kemarau







































