Thursday, August 6, 2026
home_banner_first
EDUKASI

Lima Cara Mengajarkan Anak Berani Menolak Ajakan Teman yang Berdampak Buruk

Mistar.idJumat, 7 Agustus 2026 pukul 05.00 WIB
lima_cara_mengajarkan_anak_berani_menolak_ajakan_teman_yang_berdampak_buruk

Ilustrasi. (foto: iStockphoto/mistar)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID – Mengajarkan anak untuk berani mengatakan "tidak" kepada ajakan teman yang tidak baik merupakan salah satu bekal penting dalam proses tumbuh kembang mereka. Seiring bertambahnya usia, anak akan semakin banyak berinteraksi dengan teman sebaya dan menghadapi beragam pengaruh dari lingkungan sekitar.

Pertemanan memang berperan penting dalam membentuk kemampuan sosial anak. Namun, tidak semua ajakan dari teman memberikan dampak positif. Dalam beberapa situasi, anak bisa saja diajak melakukan tindakan yang bertentangan dengan nilai yang ditanamkan keluarga, seperti membolos sekolah, berbohong kepada orang tua, hingga mencoba perilaku yang berisiko.

Sayangnya, banyak anak memilih mengikuti ajakan tersebut karena khawatir dikucilkan, dianggap tidak setia kawan, atau kehilangan teman. Oleh sebab itu, orang tua perlu membekali anak dengan keberanian untuk mempertahankan pendiriannya dan menolak ajakan yang tidak sesuai.

Kemampuan menghadapi tekanan dari teman sebaya akan membantu anak mengambil keputusan secara mandiri, memperkuat karakter, sekaligus meningkatkan rasa percaya diri. Dikutip dari Cook Center, berikut lima cara yang dapat diterapkan orang tua.

1. Buat aturan yang mudah dipahami

Anak membutuhkan batasan yang jelas mengenai perilaku yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Aturan tersebut akan menjadi pegangan saat mereka dihadapkan pada berbagai pilihan di luar rumah.

Libatkan anak ketika menyusun aturan keluarga agar mereka memahami alasan di balik setiap ketentuan. Terapkan aturan secara konsisten, namun tetap sesuaikan dengan usia dan tingkat kedewasaan anak.

2. Berikan contoh melalui sikap sehari-hari

Anak cenderung meniru perilaku orang tuanya. Karena itu, tunjukkan bagaimana mengambil keputusan yang tepat dan berani mempertahankan prinsip meski mendapat tekanan dari orang lain.

Sesekali, ceritakan pengalaman pribadi saat menghadapi situasi sulit, termasuk kesalahan yang pernah dilakukan dan pelajaran yang diperoleh. Hal ini dapat membantu anak memahami bahwa setiap orang bisa belajar dari pengalaman.

3. Tanamkan nilai dan prinsip sejak dini

Bantu anak mengenali nilai-nilai yang ingin mereka pegang dalam kehidupan sehari-hari. Ajak mereka berdiskusi mengenai kejujuran, tanggung jawab, atau sikap saling menghormati.

Dengan memiliki prinsip yang kuat, anak akan lebih mudah menentukan pilihan dan tidak gampang terpengaruh oleh ajakan yang bertentangan dengan keyakinannya.

4. Biasakan berpikir sebelum bertindak

Dorong anak untuk mempertimbangkan manfaat dan risiko sebelum menerima ajakan teman. Ajukan pertanyaan yang dapat memancing mereka berpikir, misalnya, "Apa akibatnya jika kamu mengikuti ajakan itu?" atau "Apakah keputusan tersebut sesuai dengan nilai yang kamu yakini?"

Kebiasaan ini akan melatih kemampuan berpikir kritis sehingga anak mampu mengambil keputusan secara lebih bijaksana.

5. Bangun komunikasi yang terbuka

Hubungan yang hangat antara orang tua dan anak menjadi kunci agar anak merasa nyaman bercerita tentang apa pun yang dialaminya.

Luangkan waktu untuk mendengarkan pengalaman anak setiap hari tanpa menghakimi. Ketika merasa didukung, anak akan lebih mudah meminta saran atau bantuan saat menghadapi tekanan dari lingkungan pergaulan.

Dengan pendampingan yang konsisten, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, berani mempertahankan prinsip, serta mampu mengambil keputusan yang tepat meski berada di bawah pengaruh teman sebaya.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN