Tuesday, September 22, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

IDAI Periksa Gratis 300 Anak untuk Deteksi Dini Penyakit Jantung Bawaan

Mistar.idSenin, 21 September 2026 pukul 17.54 WIB
idai_periksa_gratis_300_anak_untuk_deteksi_dini_penyakit_jantung_bawaan

Pemeriksaan ekokardiografi gratis untuk mendeteksi dini Penyakit Jantung Bawaan (PJB) pada anak. (Foto: IDAI/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melalui Unit Kerja Koordinasi (UKK) Kardiologi melakukan pemeriksaan ekokardiografi secara gratis terhadap lebih dari 300 anak untuk mendeteksi dini Penyakit Jantung Bawaan (PJB).

Bakti sosial bertajuk 'Deteksi Dini Penyakit Jantung dan Status Antropometri pada Anak' tersebut berkolaborasi dengan IDAI Cabang Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Pemerintah Sumba Barat.

Pemeriksaan dilakukan selama tiga hari di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Waikabubak dan diikuti anak-anak dari berbagai desa di Sumba Barat.

Ketua Pengurus Pusat (PP) IDAI, Dr dr Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp Kardio(K), mengatakan kegiatan tersebut memberikan akses layanan kesehatan jantung anak yang spesifik.

"Ada 300 lebih anak mendapat pemeriksaan ekokardiografi gratis dari berbagai desa di Sumba Barat yang berlangsung selama tiga hari di RSUD Waikabubak," ujar Piprim, Senin (21/9/2026).

Dijelaskan Piprim, pemeriksaan ekokardiografi dilakukan untuk melihat struktur dan fungsi jantung pada anak, sehingga dapat mendeteksi kelainan bawaan maupun kelainan yang didapat setelah lahir.

Salah satu kelainan jantung yang dapat dialami anak setelah lahir adalah penyakit jantung rematik pada stadium awal. Karena itu, IDAI menegaskan kegiatan bakti sosial tersebut juga menjadi bagian dari misi kemanusiaan.

"IDAI berusaha terus memberikan edukasi ke masyarakat dan melayani secara langsung anak-anak Indonesia, khususnya berbagai wilayah Indonesia dan kepulauan sebagai komitmen IDAI," ucapnya.

Dokter Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) itu melihat masih ada tantangan besar yang dihadapi Indonesia terkait kesehatan anak, khususnya angka kematian bayi dan balita yang masih tinggi.

Selain itu, masalah stunting dan gizi buruk masih dihadapi Indonesia. Menurutnya, kehadiran IDAI di tengah masyarakat juga untuk membangun kesadaran dan mendorong pencegahan sejak dini, sehingga upaya kesehatan anak tidak hanya berfokus pada pengobatan.

"Fokus utama bakti sosial ini juga untuk perkuat sistem deteksi dini PJB pada anak, karena sering terlewatkan lantaran keterbatasan fasilitas dan tenaga ahli untuk pastikan tidak ada anak yang terlambat ditangani," katanya. (*)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN