IDAI Bagikan Empat Langkah Antisipasi Dampak Asap Karhutla pada Anak

Dr dr Nastiti Kaswandani, Sp.A, Subsp. Respi(K). (Foto: FKUI/Mistar)
Medan, MISTAR.ID - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) membagikan empat langkah untuk mengantisipasi dampak paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara kronis pada anak.
Anggota IDAI, Dr dr Nastiti Kaswandani, Sp.A, Subsp. Respi(K), mengatakan langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memantau tumbuh kembang anak dengan mengukur tinggi dan berat badan secara berkala serta mewaspadai keterlambatan perkembangan.
"Pertama, pantau tumbuh kembang anak dengan mengukur tinggi dan berat badan secara berkala, kemudian waspadai keterlambatan perkembangan anak," ujarnya melalui keterangan tertulis kepada MISTAR, Selasa (3/11/2026).
Langkah kedua, menurut Nastiti, dilakukan melalui pencegahan penyakit dengan memastikan anak mendapatkan imunisasi lengkap, nutrisi yang baik, tinggal di rumah bebas asap rokok, serta menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Alumni Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia (UI) itu juga menyebutkan langkah ketiga, yakni melakukan advokasi lingkungan melalui pemantauan kualitas udara, penyediaan ruang bersih di sekolah, serta pencegahan karhutla.
Sementara itu, langkah keempat adalah memantau kondisi pernapasan anak, terutama jika mengalami batuk atau mengi berulang. Pemantauan juga mencakup pengendalian asma serta pemeriksaan spirometri atau uji fungsi paru jika memungkinkan.
Nastiti menegaskan, penanganan anak setelah mengalami paparan asap karhutla secara kronis tidak hanya berfokus pada pengobatan gejala, tetapi juga harus disertai pemantauan kesehatan secara berkelanjutan.
Menurutnya, upaya tersebut penting untuk mencegah dampak kesehatan yang lebih berat sejak dini. Perlindungan anak dari paparan asap karhutla juga menjadi tanggung jawab bersama, mulai dari keluarga, sekolah, pemerintah hingga tenaga kesehatan.
"Melindungi anak dari dampak Karhutla sama dengan melindungi generasi pemimpin masa depan. Anak-anak berhak mendapatkan masa kanak yang sehat, bukan korban dari udara yang beracun," katanya. (hm25)




























