Tuesday, November 3, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

Enam Misteri Piramida yang Belum Terpecahkan

Mistar.idSelasa, 3 November 2026 pukul 09.44 WIB
enam_misteri_piramida_yang_belum_terpecahkan

Piramida di Mesir. (Foto: 20 Century)

Mesir, MISTAR.ID – Piramida di Mesir dan sejumlah wilayah lain di dunia masih menyimpan berbagai teka-teki yang memunculkan spekulasi hingga saat ini. Meski penelitian arkeologi telah mengungkap banyak fakta mengenai bangunan kuno tersebut, sejumlah pertanyaan masih belum menemukan jawaban pasti.

"Tidak peduli seberapa sering Anda melihatnya, bangunan-bangunan itu sungguh luar biasa," kata Dr Campbell Price, kurator Mesir di Museum Manchester, dilansir dari BBC, Selasa (3/11/2026).

Pakar Mesir Kuno, Mark Lehner, yang telah melakukan ekskavasi di kawasan Giza sejak akhir 1980-an, mengatakan bahwa pengetahuan tentang piramida sebenarnya sudah jauh lebih banyak dibandingkan yang diperkirakan masyarakat.

"Kita tahu lebih banyak daripada yang dipikirkan banyak orang," ujar Lehner.

Meski demikian, masih ada sejumlah hal yang belum terungkap dari bangunan bersejarah tersebut. Berikut enam misteri piramida yang hingga kini masih menjadi bahan penelitian:

1. Apa Fungsi Great Void di Piramida Agung?

Pada 2017, tim peneliti proyek ScanPyramids menemukan sebuah rongga besar di dalam Piramida Agung Khufu, Giza, Mesir. Rongga yang berada di atas Galeri Besar itu diperkirakan memiliki panjang setidaknya 30 meter.

Hingga kini, fungsi ruang yang dikenal sebagai Great Void tersebut belum dapat dipastikan.

Lehner menyebutkan, rongga itu kemungkinan dibuat untuk kepentingan struktur bangunan, khususnya membantu mendistribusikan beban piramida. Kemungkinan lainnya, ruang tersebut merupakan bagian dari rancangan arsitektur yang berkaitan dengan proses pembangunan.

"Saya pikir penjelasan paling mungkin adalah, ini celah konstruksi di mana mereka sengaja membuat ruang di atas ruangan dan lorong-lorong," tutur Lehner.

Sejauh ini, belum ditemukan adanya bukti rongga tersebut menyimpan artefak, makam, ataupun benda lainnya. Penelitian lebih lanjut juga menghadapi kendala karena para arkeolog tidak ingin sembarangan membuat lubang pada salah satu monumen paling penting di dunia.

2. Masih Ada Piramida Tersembunyi di Amazon

Perkembangan teknologi Lidar membuka peluang bagi para peneliti untuk menemukan peninggalan peradaban kuno yang selama ini tertutup hutan lebat.

Teknologi tersebut telah membantu mengungkap jaringan permukiman, jalan, benteng, hingga tempat upacara di sejumlah kawasan Lembah Amazon dan wilayah lain di Amerika Selatan.

Temuan ini menunjukkan masyarakat pada masa lalu memiliki sistem kehidupan dan lanskap permukiman yang lebih kompleks, dengan jumlah penduduk yang lebih besar dari perkiraan sebelumnya.

Pada 2022, para peneliti menemukan sejumlah piramida tersembunyi di kawasan hutan lebat Bolivia dan Ekuador. Beberapa bangunan tersebut memiliki ketinggian hingga 22 meter. Penemuan lain juga mencakup reruntuhan kuil di Peru.

Namun, piramida bukan satu-satunya peninggalan yang masih berpotensi ditemukan di kawasan tersebut.

Arkeolog dari University of Arizona, Prof. Takeshi Inomata, mengatakan bahwa sebagian besar piramida di wilayah bangsa Maya dan kawasan Mesoamerika, termasuk Meksiko, kemungkinan sudah diketahui.

Pada 2020, Inomata menemukan situs Aguada Fenix menggunakan teknologi Lidar. Situs tersebut diyakini sebagai kompleks upacara Maya tertua dan terbesar, dengan panjang hampir 1,4 kilometer.

Dengan berbagai penemuan tersebut, salah satu pertanyaan yang masih terbuka adalah berapa banyak lagi bangunan kuno yang tersembunyi di Amerika Selatan. Sejumlah studi memperkirakan jumlah struktur yang belum ditemukan dapat mencapai 23.000 bangunan.

3. Bagaimana Orang Mesir Kuno Memindahkan Batu Berukuran Besar?

Proses pemindahan batu-batu berukuran besar untuk membangun piramida menjadi salah satu misteri yang paling sering diperdebatkan.

Bagaimana masyarakat Mesir Kuno mampu mengangkut batu dengan berat mencapai 100 ton atau lebih tanpa teknologi modern? Pertanyaan ini kerap memunculkan berbagai teori, termasuk dugaan keterlibatan alien atau peradaban yang hilang.

Namun, bukti arkeologi justru menunjukkan masyarakat kuno memiliki kemampuan teknik dan organisasi yang lebih maju daripada perkiraan banyak orang.

Para arkeolog telah mengumpulkan berbagai bukti mengenai teknik penambangan, penggunaan tali, pengorganisasian tenaga kerja, pemanfaatan jalur air, hingga pembangunan jalan landai untuk mengangkut material.

Kawasan tempat Lehner melakukan penelitian sejak 1980-an dikenal sebagai 'Kota yang Hilang'. Lokasi tersebut kini diyakini pernah menjadi tempat tinggal sekitar 20.000 pekerja yang terlibat dalam pembangunan piramida.

Bukti lain ditemukan melalui papirus bernama Diary of Merer yang ditemukan pada 2013. Dokumen berusia sekitar 4.500 tahun itu berisi catatan sekelompok pekerja yang mengangkut batu kapur melalui sejumlah kanal pada masa pemerintahan Khufu.

Meski berbagai bukti telah ditemukan, para ahli belum mencapai kesepakatan mengenai sistem jalan landai yang digunakan untuk membangun piramida di Giza. Teknik pemindahan balok-balok batu dengan bobot paling besar juga masih sulit direkonstruksi secara pasti.

Sebagian besar pakar Mesir Kuno meyakini jalan landai memiliki peran dalam proses tersebut. Namun, bagaimana teknik itu dikembangkan dan diterapkan masih belum diketahui sepenuhnya.

"Bagaimana persisnya mereka berinovasi, kami tidak yakin," cetus Lehner.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN