Tuesday, November 3, 2026
home_banner_first
NASIONAL

Banjir Lahar di Semeru Bukan karena Erupsi

Mistar.idSelasa, 3 November 2026 pukul 09.57 WIB
banjir_lahar_di_semeru_bukan_karena_erupsi

Kondisi rumah terdampak lahar hujan Gunung Semeru di Desa Purorejo, Kecamatan Tempursari, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Senin (2/11/2026). (Foto: Antara/Irfan Sumanjaya)

Lumajang, MISTAR.ID – Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan banjir lahar hujan dari Gunung Semeru dipicu curah hujan tinggi sejak Minggu (1/11/2026). Ia menegaskan, banjir lahar tidak selalu harus diawali dengan erupsi baru.

"Berdasarkan laporan telemetri sementara periode 1-2 November 2026, curah hujan harian tercatat sangat tinggi. Curah hujan setinggi ini berpotensi memicu banjir, banjir bandang, tanah longsor, serta banjir lahar pada sungai yang memiliki endapan material vulkanik," ujar Daryono dalam keterangannya, Senin (2/11/2026), dilansir dari CNN Indonesia.

"Perlu dipahami bahwa banjir lahar hujan tidak harus didahului erupsi baru, karena hujan lebat dapat mengerosi dan mengangkut material vulkanik yang telah terendapkan di lereng maupun alur sungai," tuturnya lagi.

Menurut Daryono, peristiwa tersebut menjadi pengingat pentingnya upaya mitigasi sebelum bencana terjadi, bukan hanya setelah kerusakan ditimbulkan.

Ia menyebut sejumlah langkah yang perlu diperkuat, di antaranya sistem peringatan dini, pemeliharaan sabo dam dan tanggul, penataan ruang berdasarkan risiko bencana, serta kesiapan jalur evakuasi.

"Di tengah potensi hujan ekstrem yang masih dapat terjadi, kewaspadaan harus terus dijaga. Bencana alam tidak selalu dapat dicegah, tetapi risiko, korban jiwa, dan kerugiannya dapat ditekan melalui mitigasi dan kesiapsiagaan yang baik," tuturnya.

Daryono mengatakan hujan berintensitas tinggi yang berlangsung sejak Minggu (1/11/2026) malam hingga Senin (2/11/2026) memicu banjir lahar hujan di sejumlah alur sungai yang berhulu di Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Di kawasan Curah Kobokan, aliran lahar membawa material vulkanik berupa pasir, kerikil, hingga bongkahan batu berukuran besar.

"Dilaporkan pula adanya tanggul jebol dan luapan banjir yang mengancam permukiman di wilayah Tempursari, Lumajang," katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur, Satriyo Nurseno, menyampaikan banjir juga dipicu luapan Sungai Glidik yang berhulu di kawasan Gunung Semeru. Debit air sungai tersebut dilaporkan meningkat secara signifikan.

"Kejadian tersebut dipicu oleh hujan dengan intensitas lebat yang berlangsung cukup lama sejak Minggu, 1 November 2026, pukul 22.00 WIB hingga Senin pagi. Selain itu, aliran Sungai Glidik yang berhulu di kawasan Gunung Semeru mengalami peningkatan debit air sehingga mengakibatkan banjir di wilayah tersebut," kata Satriyo.

Satriyo menjelaskan, dampak banjir cukup besar terjadi di Kecamatan Tempursari. Jembatan yang menghubungkan Malang dan Lumajang dilaporkan tidak bisa dilalui kendaraan, baik roda dua maupun roda empat.

"Peningkatan debit Sungai Glidik menyebabkan jembatan penghubung Malang dan Lumajang tidak dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat," ucapnya.

Selain itu, luapan Sungai Rawaan dan Sungai Dol menyebabkan banjir di sejumlah desa di wilayah Tempursari. Tanggul juga dilaporkan jebol di kawasan Wareng, Dusun Pasirejo.

Satriyo menyebutkan, lebih dari seribu jiwa terdampak langsung genangan banjir yang terjadi di dua kecamatan berbeda. (cnn)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN