Sering Minum Kalsium dan Vitamin D? Seberapa Efektif Manfaatnya?

Suplemen kalsium dan vitamin D mungkin tidak banyak membantu mencegah patah tulang dan jatuh pada sebagian besar lansia. (foto: Shutterstock via Science Daily)
Medan, MISTAR.ID - Kalsium dan vitamin D selama ini banyak dikonsumsi untuk menjaga kesehatan tulang, terutama oleh orang lanjut usia. Namun, tinjauan besar yang diterbitkan di The BMJ menunjukkan bahwa suplemen tersebut memberikan sedikit atau tidak ada manfaat bermakna dalam mencegah patah tulang dan jatuh pada sebagian besar orang dewasa.
Jatuh menjadi salah satu masalah kesehatan penting pada usia lanjut. Hampir sepertiga orang berusia 65 tahun ke atas mengalami setidaknya satu kali jatuh setiap tahun. Kondisi tersebut dapat menyebabkan patah tulang, nyeri, penurunan kemampuan beraktivitas, kehilangan kemandirian, hingga kebutuhan akan perawatan jangka panjang.
Untuk mengetahui seberapa efektif suplementasi tersebut, peneliti di Kanada meninjau 69 uji klinis acak yang melibatkan 153.902 peserta. Penelitian membandingkan penggunaan kalsium, vitamin D, atau kombinasi keduanya dengan plasebo atau tanpa pengobatan, kemudian melihat pengaruhnya terhadap risiko patah tulang dan jatuh.
Hasil Tinjauan 69 Penelitian
Dilansir Science Daily, Minggu (20/9/2026), hasil kajian menunjukkan bahwa kalsium maupun vitamin D secara terpisah memberikan sedikit atau tidak ada manfaat terhadap risiko patah tulang.
Untuk kalsium, kesimpulan tersebut didasarkan pada 11 penelitian dengan 9.067 peserta dan tingkat kepastian bukti sedang. Sementara vitamin D dianalisis dalam 36 penelitian yang melibatkan lebih dari 92 ribu peserta, dengan tingkat kepastian bukti tinggi.
Ketika kalsium dan vitamin D dikonsumsi bersama, penelitian memang menemukan penurunan risiko pada beberapa jenis patah tulang secara statistik. Namun, besarnya penurunan tersebut tidak mencapai ambang yang ditetapkan peneliti sebagai manfaat yang bermakna secara klinis. Karena itu, secara keseluruhan kombinasi tersebut tetap dinilai memberikan sedikit atau tidak ada manfaat bermakna untuk mencegah patah tulang dan jatuh.
Pola yang sama juga terlihat pada risiko jatuh. Vitamin D tidak menunjukkan pengaruh berarti terhadap risiko jatuh, sementara kombinasi kalsium dan vitamin D juga tidak menghasilkan penurunan yang dianggap bermakna secara klinis.
Temuan tersebut tetap relatif konsisten ketika peneliti memperhitungkan sejumlah faktor, termasuk usia, jenis kelamin, riwayat patah tulang, riwayat jatuh, serta rata-rata asupan kalsium dari makanan.
Berdasarkan hasil tersebut, para peneliti menyatakan, “Temuan ini tidak mendukung penggunaan rutin suplemen kalsium, vitamin D, atau kombinasi keduanya untuk mencegah patah tulang atau jatuh.” Mereka juga menyarankan dokter, penyusun pedoman kesehatan, dan lembaga regulator untuk mengevaluasi kembali rekomendasi umum mengenai suplementasi kalsium dan vitamin D berdasarkan bukti terbaru.
Namun, hasil penelitian ini tidak berarti suplemen tersebut tidak dibutuhkan oleh setiap orang. Peneliti menegaskan bahwa sebagian bukti untuk kelompok tertentu masih terbatas. Temuan penelitian juga mungkin tidak dapat diterapkan secara langsung pada orang dengan gangguan tulang tertentu, mereka yang menjalani pengobatan osteoporosis, atau orang yang menggunakan kortikosteroid dalam jangka panjang.
Sebagian besar peserta penelitian juga tinggal di lingkungan masyarakat dan bukan termasuk kelompok yang memiliki risiko patah tulang atau jatuh sangat tinggi. Karena itu, manfaat suplementasi pada kelompok berisiko tinggi masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Dalam editorial yang menyertai penelitian, para penulis menyebut masih diperlukan uji klinis yang lebih ketat dan melibatkan jumlah peserta yang memadai untuk mengetahui apakah suplementasi dapat memberikan manfaat bagi kelompok dengan risiko patah tulang atau jatuh yang lebih tinggi.
Untuk sementara, perhatian pencegahan jatuh dapat diarahkan pada strategi lain, termasuk latihan keseimbangan dan latihan kekuatan. Editorial tersebut juga menyoroti pendekatan yang menggabungkan olahraga, pemeriksaan risiko di lingkungan sekitar, serta edukasi yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing orang. (*)
BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER








































