Indonesia Bidik Pusat Teknologi Asia Tenggara, Mampukah Saingi Singapura dan Malaysia?

Indonesia Bidik Pusat Teknologi Asia Tenggara, Mampukah Saingi Singapura dan Malaysia? (foto ilustrasi:chatgpt/mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID (4/11/2026) — Indonesia tidak ingin selamanya menjadi pasar bagi produk teknologi buatan negara lain. Pemerintah kini membidik posisi yang lebih strategis: menjadi pusat riset, inovasi, pengembangan, hingga produksi teknologi di Asia Tenggara.
Ambisi tersebut mulai diterjemahkan melalui penguatan ekosistem sains, pendidikan tinggi, dan industri nasional. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menyiapkan tiga forum nasional pada November 2026, yakni Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI), Konferensi Puncak Pendidikan Tinggi Indonesia (KPPTI), serta Konvensi Nasional Tata Kelola dan Integritas Jurnal Ilmiah (KJTI).
Ketiganya bukan sekadar agenda pertemuan akademisi. Pemerintah ingin mempertemukan peneliti, perguruan tinggi, pelaku industri, investor, dan pembuat kebijakan agar hasil penelitian tidak berhenti di laboratorium atau menjadi tumpukan publikasi ilmiah, tetapi berkembang menjadi produk teknologi yang dapat diproduksi dan dimanfaatkan masyarakat.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Mohammad Fauzan Adziman, menyebut pendekatan tersebut sebagai knowledge to impact, yakni mengubah pengetahuan menjadi dampak nyata melalui kebijakan berbasis sains dan kebutuhan industri.
Langkah ini menjadi penting ketika persaingan teknologi global semakin ketat. Singapura telah memperkuat industri semikonduktor dan manufaktur berteknologi tinggi, sementara Malaysia memiliki pengalaman panjang dalam rantai pasok elektronik dan chip.
Di tengah persaingan tersebut, Indonesia memiliki modal berupa pasar domestik yang besar, sumber daya alam, serta potensi talenta muda. Namun, pekerjaan terbesarnya adalah mengubah keunggulan tersebut menjadi kemampuan menciptakan teknologi sendiri.
Tiga Forum Nasional, Strategi Indonesia Membangun Kekuatan Teknologi
Rangkaian agenda Kemdiktisaintek akan dimulai melalui KJTI 2026 pada 9 November di Universitas Ciputra, Surabaya.
Forum ini berfokus pada penguatan tata kelola dan integritas publikasi ilmiah. Kualitas penelitian menjadi fondasi penting karena kemampuan suatu negara mengembangkan teknologi sangat bergantung pada kekuatan pengetahuan, kredibilitas akademik, dan produktivitas risetnya.
Indonesia saat ini memiliki sekitar 29 ribu jurnal ilmiah, dengan sekitar 16 ribu di antaranya telah terakreditasi. Meski demikian, jurnal yang berada pada peringkat tertinggi SINTA 1 baru sekitar 1,5 persen dari total jurnal terakreditasi.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa peningkatan jumlah publikasi perlu diikuti perbaikan kualitas, reputasi, dan integritas penelitian agar ilmu pengetahuan Indonesia semakin diperhitungkan secara internasional.
Berikutnya, KSTI 2026 akan berlangsung pada 10–13 November di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya. Mengusung tema strategi kemandirian ekonomi dan kesejahteraan Indonesia, forum ini menjadi pusat pertemuan antara dunia riset dan kebutuhan industri.
Sebanyak 500 produk riset dan inovasi dari berbagai perguruan tinggi serta lembaga penelitian akan dipamerkan. Produk-produk tersebut merupakan hasil kurasi dari sekitar 850 usulan.
Kegiatan ini juga mencakup robot challenge, hackathon, diskusi panel ahli, business matching, dan innovation tour. Melalui agenda tersebut, para inventor berpeluang mempertemukan hasil penelitiannya dengan perusahaan, calon mitra produksi, dan investor.
Sementara itu, KPPTI 2026 digelar pada 11–13 November di Universitas Airlangga (Unair), Surabaya.
Forum ini mengangkat tema transformasi pendidikan tinggi menuju keberdampakan melalui pemanfaatan teknologi dan kearifan lokal yang inklusif serta humanis.
Salah satu agenda pentingnya adalah penguatan transformasi digital perguruan tinggi melalui Digital Maturity Index, penyusunan kerangka pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) generatif dengan memperhatikan etika akademik, serta pembentukan konsorsium rumah sakit pendidikan.
Ketiga forum tersebut memiliki sasaran berbeda, tetapi saling terhubung. KJTI memperkuat kualitas pengetahuan, KSTI mendorong hilirisasi hasil riset, sedangkan KPPTI meningkatkan kapasitas perguruan tinggi sebagai penggerak inovasi dan pembangunan.
500 Produk Riset Indonesia, Mampukah Menembus Pasar Industri?
Salah satu daya tarik KSTI 2026 adalah pameran 500 produk riset nasional. Jumlah tersebut menunjukkan adanya aktivitas inovasi yang berkembang di perguruan tinggi dan lembaga penelitian Indonesia.
Namun, pertanyaan pentingnya bukan hanya berapa banyak inovasi yang berhasil diciptakan, melainkan berapa banyak yang mampu masuk ke pasar dan diproduksi secara berkelanjutan.
Selama ini, salah satu tantangan pengembangan teknologi nasional adalah kesenjangan antara hasil penelitian dan kebutuhan industri. Tidak sedikit inovasi yang berhasil mencapai tahap prototipe, tetapi kesulitan memperoleh pendanaan, mitra produksi, sertifikasi, maupun akses pasar.
Karena itu, business matching dalam KSTI menjadi agenda strategis. Peneliti membutuhkan industri untuk mengembangkan produk, sedangkan perusahaan membutuhkan inovasi untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing.
Pameran tersebut juga diarahkan untuk mempertemukan teknologi hasil penelitian dengan persoalan nyata, mulai dari kesehatan, transportasi, energi baru terbarukan, mitigasi bencana, hingga teknologi asistif bagi penyandang disabilitas.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan hilirisasi riset tidak cukup dilihat dari jumlah produk yang dipamerkan. Indikator yang lebih menentukan adalah keberlanjutan produksi, pemanfaatan teknologi, nilai ekonomi, serta kontribusinya dalam mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.
Singapura dan Malaysia Sudah Melangkah, Indonesia Mengejar Ketertinggalan
Ambisi menjadi pusat teknologi Asia Tenggara menempatkan Indonesia dalam persaingan dengan negara yang lebih dahulu membangun industri berteknologi tinggi.
Singapura, misalnya, telah menjadi salah satu basis penting industri semikonduktor global. Pada Januari 2026, perusahaan teknologi Amerika Serikat, Micron, memulai pembangunan fasilitas fabrikasi wafer canggih di negara tersebut.
Investasi yang direncanakan mencapai sekitar 24 miliar dolar AS selama 10 tahun. Fasilitas itu dirancang untuk mendukung peningkatan kebutuhan teknologi memori, terutama seiring pertumbuhan kecerdasan artifisial dan aplikasi berbasis data.
Malaysia juga memiliki pengalaman panjang dalam industri semikonduktor, khususnya manufaktur elektronik, perakitan, pengujian, dan pengemasan chip. Ekosistem industrinya telah berkembang selama puluhan tahun dan menjadi bagian penting rantai pasok teknologi global.
Sementara itu, Indonesia masih perlu memperkuat penguasaan teknologi, kapasitas manufaktur, ketersediaan tenaga ahli, serta keterlibatan perusahaan nasional dalam rantai pasok industri global.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa persaingan teknologi bukan semata-mata tentang besarnya investasi atau kemampuan mendatangkan perusahaan asing.
Negara yang mampu menguasai lebih banyak tahapan rantai nilai, mulai dari desain, penelitian, produksi, pengujian, hingga pengembangan produk, memiliki peluang lebih besar memperoleh nilai tambah ekonomi.
Bagi Indonesia, tantangannya adalah memastikan investasi teknologi tidak hanya menjadikan tanah air sebagai lokasi produksi, tetapi juga mendorong transfer pengetahuan, pengembangan tenaga ahli, dan pertumbuhan industri nasional.
Semikonduktor dan AI, Dua Peluang Besar Indonesia
Salah satu sektor yang berpotensi menjadi pintu masuk Indonesia ke industri teknologi bernilai tinggi adalah semikonduktor.
Chip menjadi komponen utama berbagai perangkat modern, mulai dari telepon pintar, komputer, kendaraan listrik, peralatan medis, pusat data, hingga infrastruktur kecerdasan artifisial.
Meningkatnya kebutuhan komputasi global membuat penguasaan teknologi semikonduktor semakin strategis, baik dari sisi ekonomi maupun kedaulatan teknologi.
Kemdiktisaintek telah mengambil langkah awal melalui peluncuran Sandbox Desain Chip Merah Putih pada 27 Juli 2026. Program tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem desain chip nasional dengan melibatkan perguruan tinggi dan pengembangan talenta.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menyampaikan bahwa pengembangan ekosistem tersebut harus dilanjutkan melalui validasi, proyek percontohan, hingga produksi massal.
Pemerintah juga telah menggelar pelatihan bagi sekitar 1.500 lulusan untuk memperkenalkan dan mendorong keterlibatan mereka dalam bidang desain chip.
Langkah tersebut penting, tetapi membangun industri semikonduktor tidak cukup hanya dengan menyiapkan bahan baku atau tenaga kerja.
Indonesia perlu memperkuat kemampuan desain sirkuit terpadu, penguasaan material, pengujian, pengemasan, perangkat lunak, serta infrastruktur penelitian yang memadai.
Ketersediaan pasir silika dan sumber daya mineral lainnya dapat menjadi modal pengembangan industri material. Namun, nilai tambah terbesar hanya dapat diperoleh apabila Indonesia mampu meningkatkan penguasaan teknologi dan membangun rantai produksi yang kompetitif.
Selain semikonduktor, AI juga membuka peluang besar. Indonesia membutuhkan peneliti, insinyur, pengembang perangkat lunak, serta infrastruktur komputasi yang mampu mendukung pengembangan teknologi kecerdasan artifisial.
Fakta Menarik: Indonesia Punya Modal Riset, tetapi Kualitas Masih Jadi Tantangan
Di balik ambisi menjadi pusat teknologi regional, sejumlah angka memperlihatkan potensi sekaligus pekerjaan rumah Indonesia.
Pertama, Indonesia memiliki sekitar 29 ribu jurnal ilmiah. Namun, dari sekitar 16 ribu jurnal terakreditasi, hanya sekitar 1,5 persen yang berada pada peringkat SINTA 1. Ini menunjukkan perlunya peningkatan kualitas dan reputasi publikasi ilmiah.
Kedua, sekitar 500 produk riset akan dipamerkan dalam KSTI 2026, setelah melalui proses kurasi dari sekitar 850 usulan. Artinya, forum ini tidak hanya membicarakan konsep inovasi, tetapi juga memperlihatkan hasil penelitian yang berpotensi dikembangkan menjadi produk industri.
Ketiga, pemerintah mulai membangun talenta semikonduktor melalui pelatihan desain chip yang telah menjangkau sekitar 1.500 lulusan.
Keempat, transformasi digital perguruan tinggi mulai diarahkan agar memiliki indikator pengukuran melalui Digital Maturity Index. Pendekatan ini penting agar adopsi teknologi di kampus tidak sebatas penggunaan aplikasi, tetapi juga menghasilkan perubahan dalam tata kelola, pembelajaran, penelitian, dan pelayanan.
Apa yang Harus Dilakukan agar Indonesia Tidak Selamanya Menjadi Konsumen Teknologi?
Menjadi pusat teknologi Asia Tenggara membutuhkan strategi yang lebih luas daripada menyelenggarakan forum nasional atau menarik investasi asing.
Ada sejumlah pekerjaan mendasar yang perlu diselesaikan secara konsisten.
Pertama, memperkuat pendanaan dan infrastruktur riset. Penelitian teknologi membutuhkan investasi jangka panjang, laboratorium modern, peralatan canggih, serta kesinambungan pendanaan dari tahap penelitian hingga pengembangan produk.
Kedua, mempertemukan kampus dengan kebutuhan industri. Perguruan tinggi harus memahami persoalan yang dihadapi dunia usaha, sementara industri perlu terlibat dalam proses penelitian dan pengembangan sejak awal. Kolaborasi ini dapat mempercepat komersialisasi inovasi.
Ketiga, meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Indonesia membutuhkan lebih banyak insinyur, ahli semikonduktor, peneliti AI, pakar material, dan tenaga profesional yang mampu mengembangkan teknologi strategis.
Keempat, memperkuat perlindungan kekayaan intelektual. Hasil penelitian harus memiliki kepastian perlindungan paten dan lisensi agar inovator memperoleh insentif untuk terus mengembangkan teknologi.
Kelima, membangun kebijakan industri jangka panjang. Investasi teknologi memerlukan kepastian regulasi, insentif penelitian, infrastruktur, akses pembiayaan, serta dukungan terhadap perusahaan rintisan dan manufaktur nasional.
Singapura dan Malaysia memperlihatkan bahwa pengembangan industri teknologi membutuhkan konsistensi kebijakan dan investasi selama bertahun-tahun. Indonesia perlu membangun strategi berdasarkan keunggulan nasional, bukan sekadar mengikuti sektor yang sedang populer secara global.
Indonesia Harus Berani Beralih dari Pasar Menjadi Produsen Teknologi
Penyelenggaraan KJTI, KSTI, dan KPPTI pada November 2026 menjadi momentum untuk menyatukan kekuatan riset, pendidikan tinggi, dan industri nasional.
Namun, keberhasilan ketiga forum tersebut tidak semestinya hanya diukur dari jumlah peserta, produk yang dipamerkan, atau rekomendasi kebijakan yang dihasilkan.
Ukuran sesungguhnya terletak pada tindak lanjutnya: apakah hasil penelitian memperoleh pendanaan, apakah inovasi kampus berhasil masuk ke lini produksi, apakah industri nasional mampu menguasai teknologi strategis, dan apakah produk buatan Indonesia dapat bersaing di pasar internasional.
Indonesia memiliki pasar yang besar, sumber daya alam, serta potensi talenta untuk memperkuat posisinya dalam industri teknologi global. Tantangannya adalah mengubah seluruh modal tersebut menjadi kemampuan riset, inovasi, dan produksi yang berkelanjutan.
Menjadi konsumen teknologi memang membuka peluang ekonomi melalui besarnya pasar. Namun, menjadi pencipta dan produsen teknologi memberikan nilai tambah yang lebih luas, mulai dari penguasaan kekayaan intelektual, penciptaan lapangan kerja berkualitas, hingga penguatan kemandirian ekonomi.
Karena itu, ambisi Indonesia menjadi pusat teknologi Asia Tenggara tidak cukup berhenti sebagai target pembangunan. Pemerintah, perguruan tinggi, dan industri harus membuktikannya melalui produk, inovasi, dan teknologi yang benar-benar lahir serta berkembang di dalam negeri.
(kemendiktisaintek/siangaporeedb/mida/hm27)







































