Virus Shamonda Pertama Kali Menginfeksi Manusia, Pasien di Prancis Meninggal akibat Radang Otak

Virus Shamonda Pertama Kali Menginfeksi Manusia, Pasien di Prancis Meninggal akibat Radang Otak. (foto ilustrasi:gemini/mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID (3/11/2026) — Virus Shamonda yang selama ini dikenal menginfeksi hewan ternak kini terdeteksi pada manusia untuk pertama kalinya. Kasus yang dilaporkan di Prancis tersebut berakhir fatal setelah pasien mengalami ensefalitis berat atau peradangan otak. Temuan ini membuat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyoroti potensi risiko virus zoonosis tersebut terhadap kesehatan manusia.
Dalam laporan pada 2 November 2026, WHO mengonfirmasi satu kasus infeksi virus Shamonda pada seorang pria lanjut usia dengan sistem kekebalan tubuh sangat lemah. Pasien mengalami gangguan penglihatan, kebingungan, penurunan kesadaran, hingga kejang sebelum meninggal dunia pada 8 Oktober 2026.
Hasil pemeriksaan laboratorium melalui metode metagenomic sequencing dan reverse transcription polymerase chain reaction (RT-PCR) mengonfirmasi keberadaan virus Shamonda. Materi genetik virus juga ditemukan dalam sampel cairan serebrospinal serta jaringan otak, hati, dan limpa pasien.
Meski menjadi kasus pertama yang terdokumentasi pada manusia, WHO menegaskan bahwa risiko kesehatan masyarakat belum dapat dinilai secara andal. Bukti infeksi masih sangat terbatas dan belum ditemukan indikasi penularan antarmanusia.
Virus Shamonda Bukan Patogen Baru, Sudah Dikenal Sejak 1965
Virus Shamonda (Shamonda virus/SHAV) bukan virus baru yang muncul pada 2026. Patogen ini pertama kali diisolasi dari sapi di Nigeria pada 1965 dan selama puluhan tahun lebih dikenal sebagai virus yang menginfeksi hewan ternak.
Virus ini termasuk keluarga Peribunyaviridae, genus Orthobunyavirus, dan kelompok Simbu. Selain sapi, keberadaannya juga pernah dikaitkan dengan sejumlah hewan ternak lainnya.
Pada 2026, deteksi virus Shamonda pada hewan mulai dilaporkan di sejumlah negara Eropa, termasuk Jerman, Swiss, dan Prancis. Di Prancis, keberadaan virus tercatat pada hewan di puluhan departemen.
Perhatian dunia kesehatan meningkat setelah pemeriksaan laboratorium memastikan bahwa virus yang sebelumnya dikenal pada hewan tersebut juga dapat menginfeksi manusia.
Bagaimana Virus Shamonda Menular?
Salah satu dugaan jalur penyebaran virus Shamonda adalah melalui gigitan serangga kecil pengisap darah dari genus Culicoides, yang dikenal sebagai biting midges.
Serangga ini berperan sebagai vektor sejumlah virus pada hewan ternak. Namun, spesies yang paling berperan dalam penyebaran Shamonda masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Dalam kasus di Prancis, sumber infeksi pasien belum dapat dipastikan. Pasien diketahui tinggal di kawasan pedesaan yang sebelumnya melaporkan keberadaan virus pada hewan.
WHO juga menyelidiki sejumlah kemungkinan jalur paparan lainnya. Namun, hingga laporan diterbitkan, belum ada bukti yang menunjukkan penularan langsung dari manusia ke manusia.
Artinya, temuan satu kasus infeksi manusia tidak otomatis menunjukkan bahwa virus Shamonda telah mampu menyebar secara berkelanjutan di antara manusia.
Ensefalitis, Komplikasi Serius yang Dialami Pasien
Salah satu hal paling mengkhawatirkan dari kasus virus Shamonda di Prancis adalah munculnya ensefalitis berat.
Ensefalitis merupakan peradangan jaringan otak yang dapat disebabkan oleh infeksi virus maupun faktor lainnya. Kondisi ini dapat mengganggu fungsi sistem saraf dan berkembang menjadi keadaan yang mengancam jiwa.
Gejalanya antara lain demam, sakit kepala, kebingungan, perubahan perilaku, gangguan penglihatan, kejang, hingga penurunan kesadaran.
Pada pasien di Prancis, gangguan neurologis berkembang sebelum akhirnya didiagnosis sebagai ensefalitis berat. Namun, belum diketahui apakah infeksi virus Shamonda akan menimbulkan gejala serupa pada orang dengan sistem kekebalan tubuh normal.
Pasalnya, pasien pertama memiliki kondisi imunitas yang sangat lemah akibat penyakit yang mendasarinya. Faktor ini menjadi salah satu aspek penting yang perlu diteliti untuk memahami tingkat keparahan infeksi.
Fakta Menarik Virus Shamonda: Dari Sapi hingga Manusia
Ada sejumlah fakta penting yang membuat virus Shamonda menjadi perhatian epidemiologis.
Pertama, virus ini telah dikenal sejak 1965, sehingga bukan termasuk virus yang baru ditemukan pada 2026. Kedua, penyebarannya pada hewan diduga melibatkan serangga Culicoides, bukan semata-mata nyamuk seperti yang sering dipersepsikan masyarakat.
Selain itu, WHO mengidentifikasi dua varian virus Shamonda di Eropa, yakni SHAV-EU1 dan SHAV-EU2, yang memiliki persebaran geografis berbeda.
Fakta lainnya, kasus manusia pertama ini menunjukkan keberadaan materi genetik virus pada jaringan otak dan beberapa organ lain. Temuan tersebut menjadi bahan penting untuk memahami karakteristik infeksi Shamonda pada manusia.
Hingga laporan WHO diterbitkan, belum tersedia vaksin maupun antivirus khusus untuk menangani infeksi virus Shamonda pada manusia.
Apakah Virus Shamonda Bisa Menjadi Ancaman Pandemi?
Penemuan virus Shamonda pada manusia memunculkan pertanyaan mengenai potensi penyebarannya. Namun, menyebut virus ini sebagai calon pandemi masih terlalu dini.
Kemampuan virus menginfeksi manusia tidak sama dengan kemampuannya menular antarmanusia. Sampai saat ini, belum ada bukti penularan antarmanusia maupun kasus manusia tambahan yang terkonfirmasi.
Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengetahui bagaimana virus dapat menginfeksi manusia, kelompok yang berisiko mengalami penyakit berat, serta kemungkinan munculnya kasus serupa di wilayah lain.
Faktor lingkungan juga perlu diperhatikan. Perubahan iklim dapat memengaruhi persebaran serangga vektor, sementara perpindahan serangga dan aktivitas peternakan berpotensi memengaruhi dinamika penyebaran virus pada hewan.
Karena itu, pengawasan terhadap kesehatan hewan menjadi bagian penting dalam mendeteksi potensi ancaman zoonosis sejak dini.
Bagaimana Ancaman Virus Shamonda bagi Indonesia?
Bagi Indonesia, temuan ini menjadi pengingat pentingnya memperkuat pengawasan penyakit zoonosis. Namun, belum ada dasar untuk menyatakan bahwa virus Shamonda telah ditemukan di Indonesia atau sedang menyebar di masyarakat.
Kesiapsiagaan dapat dilakukan melalui penguatan surveilans kesehatan hewan, peningkatan kemampuan laboratorium untuk mendeteksi virus, serta pemantauan serangga vektor di lingkungan peternakan.
Koordinasi antara sektor kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan lingkungan juga diperlukan melalui pendekatan One Health.
Pendekatan ini memungkinkan deteksi dini penyakit yang berpotensi berpindah dari hewan ke manusia melalui pengawasan lintas sektor.
Virus Shamonda dan Pentingnya Kewaspadaan Dini
Kasus pertama virus Shamonda pada manusia di Prancis menjadi perkembangan penting dalam pemantauan penyakit zoonosis global. Virus yang selama puluhan tahun dikenal menginfeksi hewan kini terbukti dapat menginfeksi manusia, dengan satu kasus yang berakhir fatal akibat ensefalitis berat.
Meski demikian, WHO belum dapat memastikan tingkat risiko bagi masyarakat luas. Belum adanya bukti penularan antarmanusia menjadi salah satu alasan mengapa temuan ini belum dapat dikategorikan sebagai ancaman pandemi.
Perhatian utama saat ini adalah memperkuat penelitian, pengawasan hewan dan manusia, serta memahami jalur penularan virus.
Kasus Shamonda sekaligus menegaskan bahwa ancaman penyakit menular tidak selalu berasal dari virus baru. Patogen yang telah lama beredar pada hewan pun dapat menghadirkan tantangan baru bagi kesehatan manusia.
(who/reuters/hm27)
PREVIOUS ARTICLE
TBC Indonesia Mulai Menurun, Tapi Eliminasi 2030 Masih Jadi Tantangan: Ini Fakta dan Upaya Pencegahannya




































