Thursday, August 20, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

AI Mulai Merancang Genom Virus, Buka Peluang Baru Sekaligus Tantangan Biosecurity

Mistar.idKamis, 20 Agustus 2026 pukul 13.28 WIB
ai_mulai_merancang_genom_virus_buka_peluang_baru_sekaligus_tantangan_biosecurity

Ilustrasi, AI Mulai Merancang Genom Virus, Buka Peluang Baru Sekaligus Tantangan Biosecurity. (foto:gemini/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (20/8/2026) — Kecerdasan buatan (AI) mulai memasuki wilayah yang selama ini menjadi domain para ahli biologi: merancang genom organisme biologis dari awal.

Terobosan terbaru datang dari peneliti Stanford University dan Arc Institute. Mereka menggunakan model bahasa genom Evo 1 dan Evo 2 untuk menghasilkan rancangan lengkap genom bakteriofag, yakni virus yang menginfeksi bakteri.

Dari hampir 300 rancangan yang disintesis dan diuji di laboratorium, 16 menghasilkan bakteriofag yang berfungsi dan mampu menginfeksi serta membunuh Escherichia coli. Studi tersebut diterbitkan di jurnal Science pada 6 Agustus 2026.

Namun, ada satu hal penting yang perlu digarisbawahi: virus yang dirancang AI dalam penelitian ini bukan virus yang menginfeksi manusia.

Bakteriofag secara alami menyerang bakteri, bukan manusia, hewan, atau tumbuhan. Karena itu, temuan ini belum berarti AI dapat membuat virus manusia secara mandiri. Yang telah dibuktikan adalah bahwa model AI dapat membantu menghasilkan rancangan genom virus yang kemudian dapat diwujudkan menjadi sistem biologis yang berfungsi.

Perbedaan tersebut penting, karena temuan ini sekaligus membawa dua sisi. Di satu sisi, AI berpotensi membantu menghadapi bakteri yang sulit ditangani antibiotik. Di sisi lain, kemampuan merancang sistem biologis menimbulkan pertanyaan serius mengenai biosecurity dan bagaimana teknologi tersebut diawasi.

Dari Menganalisis DNA Menjadi Merancang Genom

Selama ini, AI dalam biologi banyak digunakan untuk menganalisis data, memprediksi struktur protein, menemukan kandidat obat, atau memperkirakan interaksi molekul.

Dalam penelitian terbaru, perannya mulai bergeser.

AI tidak sekadar membantu menjawab pertanyaan tentang sesuatu yang sudah ada. Model juga dapat menghasilkan rancangan biologis baru yang kemudian diuji oleh manusia.

Peneliti menggunakan Evo 1 dan Evo 2 untuk menghasilkan genom bakteriofag dengan arsitektur genetik yang dirancang agar dapat berfungsi pada E. coli. Eksperimen tersebut menghasilkan 16 fag yang layak dan menunjukkan kebaruan evolusioner.

Ini menjadi perubahan konseptual penting dalam perkembangan AI untuk biosains: dari mesin analisis menjadi alat desain biologis.

Namun, proses tersebut masih jauh dari gambaran bahwa AI cukup diberi perintah lalu langsung menghasilkan virus yang hidup.

Hanya 16 dari Hampir 300 Rancangan yang Berhasil

Angka 16 justru menunjukkan bahwa masih ada kesenjangan besar antara desain digital dan sistem biologis yang benar-benar berfungsi.

Peneliti menyaring ribuan kandidat dan memilih hampir 300 rancangan untuk disintesis. Dari 285 rancangan yang berhasil disintesis dan dirakit, hanya 16 yang menghasilkan bakteriofag layak dalam pengujian laboratorium.

Dengan kata lain, AI belum menjadi “mesin pembuat virus instan”.

Masih terdapat proses panjang antara urutan DNA yang dihasilkan komputer dan organisme biologis yang benar-benar berfungsi. Sintesis materi genetik, pengujian laboratorium, validasi, serta keputusan ilmiah tetap menjadi bagian penting dari proses tersebut.

Meski demikian, kemampuan AI memperluas jumlah rancangan yang dapat dieksplorasi secara komputasional berpotensi mengubah kecepatan penelitian biologi.

Jika kemampuan model meningkat dan biaya sintesis serta otomatisasi laboratorium terus turun, jarak antara desain digital dan eksperimen biologis juga dapat semakin pendek.

Di sinilah isu biosecurity menjadi penting.

Harapan Baru untuk Melawan Resistansi Antibiotik

Bakteriofag bukan sekadar objek eksperimen.

Virus ini secara alami menyerang bakteri sehingga sejak lama dipelajari sebagai salah satu pendekatan untuk mengatasi infeksi bakteri. Dalam penelitian terbaru, beberapa bakteriofag hasil rancangan AI menunjukkan kemampuan membunuh E. coli. Kombinasi fag yang dirancang juga dilaporkan mampu menghadapi strain E. coli yang telah resisten terhadap bakteriofag alami tertentu.

Temuan tersebut membuka peluang untuk pengembangan terapi fag yang lebih terarah.

Namun, penelitian ini masih merupakan pembuktian konsep di laboratorium. Belum berarti bakteriofag hasil rancangan AI tersebut siap digunakan sebagai terapi pada pasien.

Potensinya tetap menarik karena resistansi antimikroba membuat dunia medis membutuhkan pendekatan baru untuk menghadapi bakteri yang semakin sulit ditangani.

AI Memang Sudah Masuk ke Pengembangan Obat

Ketertarikan terhadap AI dalam bidang kesehatan sebenarnya bukan hal baru.

AI telah digunakan dalam berbagai tahap pengembangan obat dan vaksin, mulai dari analisis data biologis hingga pencarian dan optimasi kandidat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan memperkirakan hampir seluruh produk farmasi yang masuk pasar pada masa mendatang kemungkinan akan bersentuhan dengan AI dalam salah satu tahap pengembangan, persetujuan, atau pemasarannya.

Namun WHO juga menekankan bahwa manfaat tersebut harus disertai tata kelola yang memadai.

Persoalannya kini bukan lagi apakah AI akan masuk ke dunia farmasi dan biologi.

AI sudah masuk.

Pertanyaan berikutnya adalah seberapa besar kewenangan yang layak diberikan kepada AI ketika keluarannya dapat memengaruhi sistem biologis nyata.

Ketika Teknologi yang Sama Memiliki Dua Sisi

Halaman:


BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN