DITEMUKAN! Rekayasa Bakteri Probiotik Pemusnah Tumor, Berpotensi Gantikan Kemoterapi

Visualisasi 3D E. coli Nissle 1917 sebagai kurir obat yang melepaskan kemoterapi langsung di tumor kolorektal + aktivasi sel T imun. (Foto ilustrasi: maris/meta/mistar.id)
Jakarta, MISTAR.ID (5/10/2026) - Para ilmuwan mengembangkan pendekatan baru untuk menyerang kanker secara presisi tanpa merusak sel sehat, seperti pada kemoterapi. Tim peneliti yang dipimpin ahli imunologi Nicholas Arpaia dari Universitas Columbia merekayasa bakteri probiotik menjadi kurir obat yang bekerja langsung di lokasi tumor.
Melansir berita CNN Indonesia, bakteri tersebut diprogram untuk memproduksi obat kemoterapi sekaligus mengaktifkan sistem kekebalan tubuh melawan kanker. Studi ini dipublikasikan di jurnal Science Translational Medicine pada 16 September 2026.
Bahaya Kanker Kolorektal
World Health Organization (WHO) mencatat kanker kolorektal sebagai kanker ketiga paling umum di dunia dengan kontribusi sekitar 10 persen dari seluruh kasus kanker.
Penyakit ini banyak dialami usia 50 tahun ke atas, namun risikonya mulai muncul pada kelompok usia 30-50 tahun. Pemicunya meliputi konsumsi daging olahan berlebihan, rendahnya asupan buah dan sayur, kurang olahraga, obesitas, merokok, dan konsumsi alkohol.
Kebutuhan pengobatan baru mendesak karena kasus pada usia muda terus meningkat.
Bakteri Probiotik Jadi Kurir Obat
Tim peneliti menggunakan strain probiotik nonpatogen Escherichia coli Nissle 1917. Bakteri ini diuji pada tikus yang ditumbuhi tumor kolorektal. Dalam lima hari setelah disuntikkan, bakteri membentuk populasi lebih dari satu miliar sel per gram jaringan tumor.
Bakteri direkayasa dengan sirkuit lisis yang tersinkronisasi sehingga pecah ketika populasinya mencapai kepadatan tertentu, lalu menumpahkan isi obat ke jaringan tumor.
Bakteri juga diprogram menghasilkan enzim cytosine deaminase. Enzim ini bereaksi dengan senyawa 5-fluorocytosine (5-FC) dan menghasilkan 5-fluorouracil (5-FU), obat kemoterapi untuk kanker kolorektal.
Pada awalnya, metode ini belum mengecilkan tumor secara signifikan karena bakteri secara alami membawa gen preTA yang memecah 5-FU menjadi senyawa kurang beracun bagi tumor.
Peneliti kemudian menghapus gen preTA dan menambahkan dua senyawa baru, yakni superagonis IL-15 untuk mendorong sel imun melawan kanker dan nanobody untuk memblokir PD-L1, protein penekan serangan imun yang diproduksi tumor.
Hasil rekayasa akhir memiliki tiga kekuatan, yaitu kemoterapi yang diproduksi langsung di dalam tumor, stimulan imun, dan blokade titik kontrol imun lokal.
Hanya Obati Satu Sisi, Dua Sisi Merespons
Uji coba pada tikus menunjukkan tiga dari tujuh tumor atau 43 persen menghilang total. Efeknya tidak terbatas pada tumor yang diobati.
Pada tikus yang ditanami tumor di kedua sisi tubuh, bakteri hanya disuntikkan di satu sisi. Tumor yang diobati merespons, tetapi pertumbuhan tumor di sisi yang tidak diobati juga melambat signifikan. Di sisi yang tidak diobati, tidak ditemukan jejak bakteri hasil rekayasa, yang menandakan metode ini memicu respons imun yang lebih luas.
Metode ini masih memerlukan uji lebih lanjut pada model yang lebih kompleks dan metode pemberian yang sesuai untuk penggunaan klinis pada manusia. (hm02)














































