Friday, October 2, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Operasi Kanker Prostat Bikin Impotensi? Dokter Ungkap Risiko dan Teknik Nerve Sparing

Mistar.idSabtu, 3 Oktober 2026 pukul 06.02 WIB
operasi_kanker_prostat_bikin_impotensi_dokter_ungkap_risiko_dan_teknik_nerve_sparing

Ilustrasi operasi prostat (Foto: AI)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID – Anggapan bahwa operasi kanker prostat pasti menyebabkan impotensi atau gangguan ereksi pada pria tidak sepenuhnya benar.

Dokter Spesialis Urologi RSUD Ibu Fatmawati Soekarno, dr. Octoveryal Aslim Sp.U, Subs.Onko(K), menjelaskan gangguan fungsi seksual memang menjadi salah satu risiko setelah operasi kanker prostat. Namun, dampaknya dapat berbeda pada setiap pasien.

Hal tersebut disampaikan Octoveryal dalam program Healthy Talk bertajuk “Cowok Wajib Dengar: Kanker Prostat Bisa Datang Diam-diam” seperti dikutip Mistar melalui YouTube Tribunnews dan Tribun Health, Jumat (2/10/2026).

Salah satu prosedur yang dilakukan pada kanker prostat adalah radikal prostatektomi, yakni operasi untuk mengangkat prostat secara keseluruhan.

Operasi Kanker Prostat Bisa Memengaruhi Ereksi

Dalam prosedur radikal prostatektomi, jaringan di sekitar prostat yang berkaitan dengan fungsi seksual perlu diperhatikan. Saraf dan pembuluh darah tertentu berperan penting dalam proses ereksi sehingga berpotensi terdampak selama operasi.

Meski demikian, terdapat teknik pembedahan yang dirancang untuk mempertahankan fungsi seksual pasien. Teknik tersebut dikenal sebagai nerve sparing.

Melalui teknik ini, dokter berupaya mempertahankan saraf dan struktur pembuluh darah yang berkaitan dengan fungsi ereksi agar kerusakannya dapat diminimalkan.

Namun, penerapan teknik nerve sparing bukan berarti seluruh pasien akan terbebas dari gangguan ereksi. Teknik tersebut memiliki tingkat kesulitan tersendiri dan penerapannya perlu disesuaikan dengan kondisi kanker serta keadaan pasien.

Risiko Impotensi Dipengaruhi Banyak Faktor

Octoveryal menjelaskan kondisi fungsi seksual setelah operasi tidak hanya ditentukan oleh teknik pembedahan.

Beberapa faktor yang dapat berpengaruh antara lain usia pasien, kondisi ereksi sebelum operasi, stadium kanker, serta pengalaman dokter atau operator.

Kondisi kanker juga menjadi pertimbangan penting dalam menentukan sejauh mana jaringan di sekitar prostat dapat dipertahankan. Karena itu, pilihan teknik operasi tidak dapat disamakan untuk setiap pasien.

Selain tindakan operasi, proses rehabilitasi seksual juga dapat menjadi bagian dari penanganan pasien setelah operasi.

Sebagian pasien dapat mengalami pemulihan fungsi ereksi secara bertahap. Namun, pada pasien tertentu, gangguan ereksi dapat berlangsung lebih lama atau menetap.

Rehabilitasi Seksual Dapat Membantu Pemulihan

Pasien yang mengalami gangguan fungsi seksual setelah operasi kanker prostat dapat memperoleh penanganan lebih lanjut melalui tim rehabilitasi seksual.

Dokter juga dapat mempertimbangkan penggunaan obat-obatan tertentu sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien.

Karena respons terhadap pengobatan maupun proses pemulihan dapat berbeda, penanganan sebaiknya dilakukan berdasarkan evaluasi dokter.

Dengan demikian, operasi kanker prostat tidak otomatis membuat semua pria mengalami impotensi permanen. Risiko tersebut memang perlu diperhitungkan, tetapi hasil akhirnya dipengaruhi berbagai faktor sebelum, selama, dan setelah operasi.

Pasien yang akan menjalani operasi sebaiknya mendiskusikan kondisi fungsi seksual, pilihan teknik operasi, kemungkinan efek samping, serta program pemulihan dengan dokter urologi sebelum menentukan tindakan.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN