Pria Gemar Makanan Instan dan Olahan? Waspada Risiko Kanker Prostat!

Pria Gemar Makanan Instan dan Olahan? Waspada Risiko Kanker Prostat!
Florida, MISTAR.ID - Pria yang banyak mengonsumsi makanan ultra-proses atau ultra-processed foods (UPF) berpotensi menghadapi risiko kanker prostat lebih tinggi sekitar 30 persen, menurut penelitian terbaru Florida Atlantic University (FAU).
Dilansir ScienceDaily, Kamis (27/8/2026), penelitian yang diterbitkan dalam The American Journal of Medicine itu menganalisis data 17.024 pria berusia 18 tahun ke atas di Amerika Serikat yang mengikuti National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) pada 2003-2023.
UPF merupakan makanan dan minuman yang diproduksi melalui proses industri dan umumnya mengandung lemak olahan, gula, pati, garam, serta berbagai bahan tambahan. Contohnya antara lain minuman bersoda, mi instan, sereal kemasan, makanan ringan, biskuit, nugget, sosis, daging olahan, hingga makanan beku siap saji.
Peneliti menghitung persentase kalori harian peserta yang berasal dari UPF berdasarkan dua catatan konsumsi makanan selama 24 jam dan mengelompokkannya menggunakan sistem NOVA.
Hasilnya, pria dalam tiga kelompok dengan konsumsi UPF lebih tinggi memiliki risiko kanker prostat sekitar 29 persen lebih besar dibandingkan kelompok dengan konsumsi terendah. Pada dua kelompok konsumsi tertinggi, risikonya meningkat sekitar 30 persen.
Setelah faktor usia, ras dan etnis, kebiasaan merokok, serta tingkat kemiskinan diperhitungkan, peningkatan risiko masih berada pada kisaran 24 hingga 31 persen.
Kelompok dengan konsumsi UPF paling tinggi menunjukkan potensi peningkatan risiko hingga 34 persen. Namun, angka tersebut tidak signifikan secara statistik, yang diduga karena jumlah kasus kanker prostat dalam kelompok itu lebih sedikit.
“Pria dewasa yang mengonsumsi UPF dalam jumlah lebih tinggi memiliki risiko yang secara signifikan lebih besar mengalami kanker prostat di kemudian hari,” kata penulis senior studi, Charles H. Hennekens dari Charles E. Schmidt College of Medicine FAU.
Hennekens mengatakan temuan tersebut menambah bukti mengenai kemungkinan dampak buruk UPF terhadap kesehatan. Namun, masih diperlukan penelitian observasional berskala besar dan uji acak untuk menguji hubungan tersebut lebih jauh.
Sejumlah mekanisme diduga dapat menjelaskan kaitan itu, mulai dari gangguan metabolisme, peningkatan peradangan dan stres oksidatif, hingga perubahan mikrobioma usus. Penelitian sebelumnya juga menghubungkan konsumsi tinggi UPF dengan obesitas, penyakit metabolik, penyakit kardiovaskular, dan kematian dini.
Profesor FAU Timothy De Ver Dye mengatakan mengurangi konsumsi UPF bukan sekadar persoalan pilihan individu karena banyak orang menghadapi kendala mendapatkan makanan yang lebih sehat dan terjangkau.
“Menangani tantangan ini membutuhkan upaya yang melampaui pilihan individu untuk memperluas akses terhadap makanan bergizi dan minim proses,” ujarnya.
Para peneliti menyarankan masyarakat mengurangi konsumsi makanan ultra-proses sebagai bagian dari pola makan dan gaya hidup yang lebih sehat. (*)
PREVIOUS ARTICLE
Ahli Gizi Ungkap 7 Kesalahan Orang Tua Saat Membuat Susu Formula
















