Friday, October 2, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Wabah Ebola di Kongo Tewaskan Lebih dari 4.000 Orang

Mistar.idJumat, 2 Oktober 2026 pukul 20.03 WIB
wabah_ebola_di_kongo_tewaskan_lebih_dari_4000_orang_

Petugas medis membersihkan peralatan di Kamp Perawatan Ebola di Butembo, Rabu (30/9/2026). (foto: Sebastian Kitsa Musayi/AP)

news_banner

Kongo, MISTAR.ID - Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) telah menewaskan 4.018 orang dari sekitar 8.300 kasus yang dikonfirmasi.

Dilansir Associated Press (AP), Jumat (2/10/2026), Kementerian Kesehatan Kongo menyebut wabah yang diumumkan pada 15 Mei itu disebabkan virus Ebola jenis Bundibugyo. Hingga kini belum tersedia pengobatan maupun vaksin yang secara khusus diketahui dapat mencegah jenis virus tersebut.

Penanganan wabah menghadapi kendala pendanaan dan kekurangan tenaga kesehatan. Sejumlah pekerja kesehatan di Bunia, Provinsi Ituri, bahkan menggelar aksi menuntut pembayaran upah yang tertunggak selama berbulan-bulan.

Para pekerja, termasuk tim pemantau yang bertugas melacak orang yang kemungkinan melakukan kontak dengan pasien Ebola, membawa poster bertuliskan "No money, no data!" Aksi tersebut kemudian dibubarkan aparat.

Upaya penanganan semakin sulit setelah kamp yang menjadi lokasi pusat transit pasien Ebola terbakar di Kigonze, pinggiran Bunia.

PBB menyebut kamp tersebut dibakar tentara yang sedang mencari senjata. Kebakaran memaksa sekitar 19.000 orang meninggalkan kamp.

Koordinator senior Ebola PBB, Julien Harneis, mengatakan hilangnya pusat transit membuat kapasitas penanganan pasien berkurang, sementara pembangunan fasilitas baru membutuhkan dana dan tenaga yang terbatas.

Di tengah situasi tersebut, seorang pekerja kemanusiaan Médecins Sans Frontières (MSF) dilaporkan terinfeksi Ebola saat bertugas di Kongo. Dia kemudian diterbangkan ke Belanda untuk menjalani perawatan di unit isolasi tingkat tinggi.

MSF menyebut lebih dari 50 tenaga kesehatan telah meninggal setelah terinfeksi Ebola selama wabah berlangsung.

Kasus Menurun, Wabah Belum Terkendali

Africa CDC menyatakan jumlah kasus baru mulai menurun. Namun, keamanan dan sulitnya mendapatkan kerja sama masyarakat masih menjadi hambatan dalam pelacakan dan penanganan kasus.

Pada pertengahan Juli, Kongo mencatat sekitar 850 kasus baru dan 470 kematian per pekan. Angka tersebut turun menjadi rata-rata 490 kasus dan 230 kematian per pekan pada September.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tetap memperingatkan penyebaran virus ke sejumlah zona kesehatan baru.

Ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan tenaga kesehatan juga menjadi persoalan. Pemerintah Kongo bulan lalu menerapkan pendekatan berbasis desa, tetapi sebagian warga masih menolak dan menganggap Ebola sebagai rekayasa.

Kongo saat ini menghadapi wabah Ebola ke-17. (*/AP)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN