Saturday, October 3, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Banyak Warga Indonesia Alami Karies Gigi, Begini Cara Mencegahnya

Mistar.idSabtu, 3 Oktober 2026 pukul 07.00 WIB
banyak_warga_indonesia_alami_karies_gigi_begini_cara_mencegahnya

Ilustrasi. (Foto: Alodokter)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID - Masalah karies gigi masih banyak dialami masyarakat Indonesia. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 Kementerian Kesehatan mencatat prevalensi karies mencapai lebih dari 80 persen pada sejumlah kelompok usia, bahkan mencapai 92,8 persen pada kelompok usia 55-64 tahun.

Pada anak usia 5-9 tahun, prevalensi karies tercatat 84,8 persen. Angka tersebut mencapai 82,2 persen pada kelompok usia 25-34 tahun, 89,3 persen pada usia 35-44 tahun, dan 92,1 persen pada usia 45-54 tahun.

Dokter spesialis gigi drg Louis Zaelani mengatakan menjaga kesehatan gigi tidak cukup hanya dengan rutin menyikat gigi. Cara berkumur setelah menyikat gigi juga perlu diperhatikan agar kandungan fluoride dari pasta gigi tetap memberikan perlindungan.

"Yang penting gunakan pasta gigi yang mengandung fluoride, karena fluoride membantu melindungi gigi. Setelah menyikat gigi, sebaiknya jangan berkumur sampai terlalu bersih supaya sebagian fluoride tetap tertinggal dan dapat memberikan perlindungan pada gigi," kata Louis kepada detikcom, Kamis (1/10/2026).

Fluoride berperan membantu memperkuat permukaan gigi dan mencegah kerusakan akibat proses pembentukan karies. Karena itu, berkumur dengan air dalam jumlah banyak setelah menyikat gigi dapat membuat fluoride yang tersisa di permukaan gigi lebih cepat hilang.

Masyarakat disarankan meludahkan sisa pasta gigi setelah menyikat gigi tanpa perlu berkumur berulang kali menggunakan banyak air. Kebiasaan tersebut memungkinkan fluoride tetap berada di sekitar permukaan gigi lebih lama.

Karies Bukan Hanya Masalah Anak

Tingginya angka karies menunjukkan masalah kesehatan gigi tidak hanya dialami anak-anak. Data SKI 2023 menunjukkan prevalensi karies tetap tinggi pada kelompok usia produktif hingga lanjut usia.

Kementerian Kesehatan juga mencatat kelompok usia 3-4 tahun, 5 tahun, serta usia di atas 35 tahun masih berada dalam kategori indeks DMF-T tinggi hingga sangat tinggi.

Data WHO Oral Health Country Profile Indonesia memperkirakan 46,9 persen anak usia 1-9 tahun mengalami karies pada gigi sulung yang belum ditangani.

Sementara pada populasi usia 5 tahun ke atas, prevalensi karies gigi permanen yang belum ditangani diperkirakan mencapai 28,8 persen. Sekitar 19,6 persen populasi usia 15 tahun ke atas juga mengalami penyakit periodontal berat.

Louis mengatakan pemeriksaan gigi secara berkala tetap diperlukan meski seseorang tidak sedang mengalami sakit gigi. Pemeriksaan dapat membantu menemukan masalah sejak dini sebelum kerusakan berkembang lebih jauh.

"Karies yang tidak ditangani dapat berkembang dari kerusakan pada lapisan luar gigi hingga mencapai bagian dalam gigi. Kondisi ini dapat menyebabkan sakit gigi, gigi berlubang semakin dalam, hingga infeksi," ujarnya.

Pada karies yang telah mencapai pulpa atau bagian terdalam gigi, bakteri dapat memicu peradangan dan infeksi. Jika tidak ditangani, infeksi dapat berkembang menjadi abses atau kumpulan nanah di sekitar gigi.

"Dalam kondisi yang lebih berat, infeksi gigi juga dapat menyebar ke jaringan di sekitarnya dan menimbulkan pembengkakan. Karena itu, karies sebaiknya tidak dibiarkan hanya karena belum menimbulkan rasa sakit," kata Louis. (hm25/detikcom)




BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN