Tuesday, November 3, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

HP Lipat Makin Canggih, Tapi Mengapa Belum Bisa Gantikan Smartphone Biasa?

Mistar.idSelasa, 3 November 2026 pukul 16.32 WIB
hp_lipat_makin_canggih_tapi_mengapa_belum_bisa_gantikan_smartphone_biasa

HP Lipat Makin Canggih, Tapi Mengapa Belum Bisa Gantikan Smartphone Biasa? (foto ilustrasi:gemini/mistar)

Pematangsiantar, MISTAR.ID (3/11/2026) — Smartphone lipat atau foldable semakin menunjukkan perkembangan pesat. Desain makin tipis, layar lebih luas, dan teknologi engsel semakin kuat. Namun, di tengah inovasi tersebut, muncul pertanyaan: apakah HP lipat benar-benar siap menggantikan smartphone konvensional?

Industri smartphone kini tidak hanya berlomba menghadirkan kamera beresolusi tinggi atau performa prosesor yang kencang. Produsen juga mulai menawarkan pengalaman baru melalui perangkat dengan layar fleksibel yang bisa dilipat dan dibuka sesuai kebutuhan.

Perkembangan ini terlihat dari semakin beragamnya desain foldable. Selain model clamshell yang dilipat secara vertikal, tersedia model book-style yang dapat dibuka seperti buku untuk menghadirkan layar lebih luas. Bahkan, teknologi tri-fold memungkinkan perangkat dilipat hingga tiga bagian dan menawarkan pengalaman penggunaan mendekati tablet.

Salah satu contohnya adalah Huawei Mate XT Ultimate Design yang hadir dengan layar hingga 10,2 inci ketika dibuka sepenuhnya. Kehadiran perangkat semacam ini memperlihatkan bahwa smartphone lipat bukan lagi sekadar inovasi desain, melainkan mulai diarahkan sebagai perangkat multifungsi.

Desain Smartphone Lipat Makin Tipis dan Fungsional

Perkembangan HP lipat kini tidak hanya berfokus pada kemampuan melipat layar, tetapi juga kenyamanan penggunaan sehari-hari.

Model book-style menawarkan ruang kerja lebih luas untuk membuka beberapa aplikasi, membaca dokumen, mengedit konten, hingga menikmati hiburan. Sementara model clamshell lebih mengutamakan desain ringkas yang mudah dibawa.

Tren tersebut menunjukkan bahwa produsen mulai mengembangkan smartphone lipat berdasarkan kebutuhan pengguna. Perangkat ini tidak lagi sekadar menawarkan tampilan berbeda, tetapi juga mencoba menggabungkan fungsi smartphone dan tablet dalam satu produk.

Ketahanan Layar dan Engsel Masih Jadi Tantangan

Meski semakin canggih, ketahanan layar dan engsel masih menjadi perhatian utama konsumen.

Berbeda dengan smartphone biasa, layar foldable menggunakan material fleksibel yang harus mampu menahan tekanan akibat aktivitas buka-tutup berulang. Area lipatan juga menjadi bagian yang membutuhkan perlindungan khusus agar tidak mudah mengalami kerusakan.

Produsen terus mengembangkan lapisan pelindung, struktur layar, dan mekanisme engsel untuk meningkatkan daya tahan perangkat. Desain engsel yang lebih presisi juga ditujukan untuk mengurangi celah serta meminimalkan masuknya debu.

Namun, pengujian ketahanan di laboratorium tidak selalu mencerminkan kondisi penggunaan sehari-hari. Benturan, tekanan, debu, dan kebiasaan pengguna tetap dapat memengaruhi usia perangkat.

Karena itu, keberhasilan smartphone lipat tidak cukup diukur dari jumlah siklus pelipatan. Biaya perbaikan layar, ketersediaan suku cadang, dan layanan purnajual juga menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan konsumen.

Pasar HP Lipat Punya Peluang, tetapi Harga Masih Jadi Penghalang

Dari sisi pasar, smartphone lipat memiliki prospek pertumbuhan yang menarik, meskipun belum mendominasi industri.

Data Omdia yang dipublikasikan Katadata mencatat pengiriman smartphone lipat global mencapai 5,1 juta unit pada semester I 2026. Angka tersebut turun 21,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Menariknya, model book-style menguasai sekitar 69 persen pengiriman. Dominasi model book-style menunjukkan bahwa perangkat foldable dengan desain layar lebih luas memiliki porsi pengiriman terbesar di pasar global. Format ini menawarkan potensi penggunaan untuk multitasking, produktivitas, dan hiburan, meskipun data pengiriman tidak secara langsung menggambarkan preferensi seluruh konsumen.

Di Indonesia, peluang pasar HP lipat juga semakin terbuka. Kehadiran berbagai produk dari Samsung, Huawei, vivo, dan OPPO membuat pilihan perangkat semakin beragam.

Namun, harga masih menjadi tantangan. Smartphone lipat premium, terutama model dengan teknologi layar tiga lipatan, dibanderol jauh lebih mahal dibandingkan ponsel konvensional. Kondisi ini membuat pasar foldable masih cenderung menyasar konsumen kelas premium dan penggemar teknologi.

Artinya, peluang pertumbuhan memang terbuka, tetapi untuk menjangkau pasar yang lebih luas, produsen perlu menghadirkan perangkat dengan harga lebih terjangkau tanpa mengorbankan kualitas.

Apakah Smartphone Konvensional Akan Ditinggalkan?

Perkembangan teknologi foldable memang mengubah arah inovasi industri smartphone. Namun, bukan berarti HP konvensional akan segera ditinggalkan.

Smartphone biasa masih unggul dari sisi harga, pilihan produk, kemudahan perawatan, serta konstruksi perangkat yang relatif lebih sederhana. Sementara smartphone lipat menawarkan fleksibilitas layar, pengalaman multitasking, dan fungsi yang mendekati tablet.

Persaingan ke depan kemungkinan tidak ditentukan oleh bentuk perangkat, melainkan kemampuan produsen menghadirkan teknologi yang benar-benar memberikan manfaat bagi pengguna.

Setidaknya ada tiga faktor yang akan menentukan masa depan smartphone lipat, yakni harga yang semakin kompetitif, ketahanan layar dan engsel, serta pengalaman penggunaan yang mampu membedakannya dari ponsel biasa.

Jika ketiga aspek tersebut semakin matang, foldable berpeluang berkembang dari perangkat premium menjadi pilihan yang lebih umum.

Dengan demikian, smartphone lipat mungkin belum akan menggantikan ponsel konvensional dalam waktu dekat. Namun, satu hal mulai terlihat: masa depan industri smartphone tidak lagi hanya tentang layar yang semakin besar, tetapi juga bagaimana sebuah perangkat mampu beradaptasi dengan kebutuhan penggunanya.

(omdia/katadata/huawei/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN