Jelang Pemilu Paruh Waktu, AS Kembali Serang Target Iran di Selat Hormuz

Kelompol Houthi menuduh Arab Saudi menyerang Pelabuhan Ras Isa di Provinsi Hodeida, wilayah pesisir Laut Merah bagian barat. Serangan tersebut diklaim menyebabkan sejumlah kapal dan truk pengangkut barang komersial terbakar. (foto: Tangkapan Layar AP)
Washington D.C., MISTAR.ID - Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan terhadap sejumlah target Iran di Selat Hormuz, Senin (2/11/2026). Serangan defensif tersebut terjadi sehari menjelang pemilihan umum paruh waktu AS, ketika Washington dan Teheran masih menjajaki peluang penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.
Seorang pejabat AS mengatakan serangan itu ditujukan terhadap pasukan Iran yang menggunakan rudal permukaan-ke-udara untuk mengancam aset militer Amerika.
"Pasukan Iran yang menggunakan rudal permukaan-ke-udara terhadap aset AS menjadi sasaran," kata pejabat tersebut kepada Associated Press (AP), Senin sembari meminta identitasnya dirahasiakan karena tidak berwenang memberikan keterangan secara terbuka.
Sementara itu, televisi pemerintah Iran melaporkan terdengar sejumlah ledakan di Pulau Qeshm.
Menurut laporan AP, serangan tersebut tampaknya masih terbatas dan belum menunjukkan dimulainya kembali permusuhan dalam skala besar.
Namun, langkah Washington menjadi perhatian karena Presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan AS tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu paruh waktu.
Perang Iran yang tidak populer di kalangan masyarakat AS serta dampaknya terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) dan sektor perekonomian menjadi kerentanan politik bagi Partai Republik dalam upaya mempertahankan kendali atas Kongres.
Di tengah perkembangan tersebut, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan mendesak pemerintahan Trump melancarkan gelombang serangan baru terhadap Iran.
Informasi itu disampaikan sejumlah pejabat regional di Timur Tengah kepada AP.
Sementara itu, Iran pada Senin mengumumkan rencana dua hari untuk membuka kembali Selat Hormuz sekaligus melanjutkan perundingan nuklir dengan Amerika Serikat.
Wakil Presiden AS JD Vance juga menyampaikan optimisme mengenai peluang tercapainya kesepakatan melalui jalur diplomasi.
Vance mengatakan dirinya telah berbicara dengan Trump mengenai perkembangan pembicaraan dengan Iran.
"Presiden dan saya sama-sama merasa cukup optimistis mengenai kemungkinan tercapainya penyelesaian melalui negosiasi," ujar Vance kepada wartawan.
Ketegangan di kawasan juga melibatkan Yaman. Kelompok pemberontak Houthi yang didukung Iran menuduh Arab Saudi melancarkan serangan terhadap sebuah pelabuhan pengiriman barang. (*)
PREVIOUS ARTICLE
Kecelakaan Jet di Florida, Korban Termasuk Pilot Muda 20 Tahun dan Pengusaha Teknologi

































