Warung Dibongkar Satpol PP, Pedagang di Menara Pandang Tele Keluhkan Kerugian

Juliana menunjukkan bahan jualannya berupa pisang dan alpukat yang mulai membusuk. (foto:pangihutan/mistar)
Samosir, MISTAR.ID (19/9/2026) - Juliana, ibu dari Royman Sinaga, siswa SMP yang terlibat dalam peristiwa penertiban warung di kawasan Menara Pandang Tele, Kabupaten Samosir, mengeluhkan kerugian yang dialaminya setelah warung tempatnya berjualan dibongkar Satpol PP Pemkab Samosir.
Juliana mengatakan, pembongkaran warung tersebut membuat dirinya tidak dapat berjualan seperti biasanya. Akibatnya, sejumlah dagangan yang sudah disiapkan untuk dijual tidak lagi menghasilkan pendapatan.
“Pisang dan alpukat saya busuk karena tidak bisa berjualan setelah warung dibongkar. Barang dagangan itu seharusnya dijual untuk mendapatkan uang, tetapi sekarang malah terbuang,” ujar Juliana.
Menurut Juliana, pisang dan alpukat merupakan bagian dari dagangan yang biasa dijualnya kepada pengunjung di kawasan Menara Pandang Tele.
“Kalau kami masih berjualan, tentu pisang dan alpukat itu bisa terjual. Karena warung sudah dibongkar, kami tidak bisa berjualan dan dagangan akhirnya membusuk,” katanya.
Juliana mengaku, kondisi tersebut menambah kerugian yang harus ditanggung keluarganya. Selain kehilangan tempat untuk berjualan, modal yang sudah dikeluarkan untuk membeli atau menyediakan dagangan juga tidak kembali.
“Bagi kami, berjualan itu untuk mencari makan dan memenuhi kebutuhan keluarga. Kalau tidak berjualan, dari mana kami mendapatkan uang?” keluhnya.
Ia mengatakan, persoalan tersebut semakin berat karena keluarganya juga sedang menghadapi masalah setelah anaknya, Royman Sinaga, berada di lokasi ketika penertiban warung berlangsung.
“Anak saya masih SMP. Saya juga sedih melihat dia harus ikut terseret dalam persoalan ini. Kami sebenarnya hanya ingin mencari nafkah,” ujar Juliana saat ditemui di rumahnya, Sabtu (19/9/2026).
Juliana berharap pemerintah tidak hanya melihat keberadaan warung dari sisi penertiban atau penataan kawasan, tetapi juga mempertimbangkan kehidupan pedagang kecil yang selama ini menggantungkan penghasilan dari berjualan.
“Kami bukan orang yang punya banyak usaha. Kami hanya berjualan untuk kebutuhan sehari-hari. Kalau warung dibongkar, kami kehilangan tempat mencari makan,” katanya.
Ia juga berharap pemerintah memberikan solusi bagi pedagang yang terdampak penertiban di kawasan Menara Pandang Tele.
“Kalau memang kawasan itu mau ditata, tolong pikirkan juga kami yang selama ini berjualan. Jangan hanya dibongkar, tetapi kami tidak tahu lagi harus berjualan di mana,” ucapnya.
Juliana menambahkan, dirinya tidak mempersoalkan jika pemerintah melakukan penataan kawasan, sepanjang ada komunikasi dan solusi bagi pedagang.
“Kami mau ditata, tetapi tolong diberikan jalan keluarnya. Kami juga punya keluarga yang harus dinafkahi dan anak yang harus sekolah,” katanya.
Menurut Juliana, kerugian akibat pisang dan alpukat yang membusuk memang tidak seberapa jika dibandingkan dengan persoalan yang lebih besar, tetapi bagi keluarga mereka setiap hasil penjualan sangat berarti.
“Bagi orang lain mungkin pisang dan alpukat itu tidak seberapa. Tetapi bagi kami, itu modal dan uang untuk kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.
Juliana berharap keluhan pedagang dapat didengar Pemkab Samosir dan ada penyelesaian yang tidak semakin merugikan masyarakat kecil.
“Kami hanya meminta pemerintah melihat keadaan kami. Jangan sampai setelah warung dibongkar, kami juga kehilangan mata pencaharian,” pungkas Juliana.
Sementara itu, Kepala Desa Sosor Dolok, Kecamatan Harian, Robungsu Limbong, diminta tanggapannya terkait hal tersebut melalui pesan WhatsApp. Sampai berita ini dikirim ke redaksi, yang bersangkutan belum membalas. Saat ditemui di kantornya, yang bersangkutan juga tidak berada di tempat. Menurut salah seorang staf di kantor tersebut, kepala desa sedang berada di Pangururan. (hm27)
PREVIOUS ARTICLE
Polres Samosir Ungkap Kasus Narkotika hingga Pembalakan Liar, 160 Knalpot Brong Dimusnahkan






































