Vajiralongkorn ke Vietnam, Disambut 21 Tembakan Meriam dan Doa di Pagoda

Vajiralongkorn. (foto:wikipedia/mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID (17/9/2026) — Kunjungan Raja Thailand Maha Vajiralongkorn dan Ratu Suthida ke Vietnam pada 14–16 September 2026 bukan sekadar lawatan kenegaraan. Di tengah peringatan 50 tahun hubungan diplomatik kedua negara, kunjungan ini mempertemukan tiga sisi hubungan Thailand-Vietnam: diplomasi, sejarah, dan kedekatan budaya.
Dari penghormatan dengan 21 tembakan meriam di Hanoi hingga doa bersama di Quan Su Pagoda, rangkaian agenda Vajiralongkorn memperlihatkan bagaimana hubungan Bangkok-Hanoi terus diperluas setelah kedua negara meningkatkan statusnya menjadi Comprehensive Strategic Partnership pada 2025.
Vajiralongkorn Disambut 21 Tembakan Meriam
Momen paling mencolok terjadi pada 15 September ketika Vajiralongkorn dan Ratu Suthida mengikuti upacara penyambutan resmi di Gedung Majelis Nasional Vietnam.
Presiden sekaligus Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam To Lam memimpin upacara tersebut. Saat lagu kebangsaan kedua negara dikumandangkan, 21 tembakan meriam dilepaskan dari kawasan Hoang Thanh Thang Long atau Thang Long Imperial Citadel sebagai bagian dari penghormatan kenegaraan.
Upacara tersebut memiliki arti khusus karena menjadi bagian dari kunjungan kenegaraan pertama seorang raja Thailand ke Vietnam sejak kedua negara membuka hubungan diplomatik pada 1976.
Bertemu To Lam, Bahas Babak Baru Hubungan Thailand-Vietnam
Setelah seremoni, Vajiralongkorn melakukan pembicaraan dengan To Lam.
Pertemuan tersebut berlangsung ketika hubungan Thailand dan Vietnam memasuki fase baru. Kedua negara meningkatkan hubungan menjadi Comprehensive Strategic Partnership pada Mei 2025, kemudian menyusun langkah implementasi untuk periode 2026–2031.
Dengan kerangka tersebut, hubungan bilateral tidak hanya mencakup diplomasi politik, tetapi juga perdagangan, investasi, keamanan, konektivitas, teknologi, pariwisata hingga pertukaran antarmasyarakat.
Momentum kunjungan Vajiralongkorn juga bertepatan dengan 50 tahun hubungan diplomatik Thailand-Vietnam, yang secara resmi dimulai pada 6 Agustus 1976.
Bukan Cuma Diplomasi, Vajiralongkorn ke Quan Su Pagoda
Sisi lain kunjungan Vajiralongkorn terlihat pada hari terakhir lawatan.
Pada 16 September, Vajiralongkorn dan Ratu Suthida mengunjungi Quan Su Pagoda di Hanoi dan mengikuti upacara doa untuk kesejahteraan serta hubungan Thailand-Vietnam.
Di dalam pagoda, pasangan kerajaan Thailand memberikan penghormatan kepada Buddha dengan mempersembahkan dupa dan lilin. Para biksu kemudian membacakan doa bagi kesejahteraan pasangan kerajaan dan semakin eratnya hubungan kedua negara.
Pada 16 September, selain Quan Su Pagoda, Vajiralongkorn dan Ratu Suthida juga mengunjungi Hanoi University dan bertemu pimpinan universitas, dosen serta mahasiswa.
Pada hari yang sama, Vajiralongkorn juga memberikan penghormatan kepada Presiden Ho Chi Minh di mausoleum dan meletakkan karangan bunga di Monument to Heroes and Martyrs.
Kunjungan tersebut menghadirkan dimensi berbeda dari lawatan kenegaraan Vajiralongkorn. Jika pertemuan dengan To Lam menonjolkan hubungan antarpemerintah, agenda di Quan Su Pagoda memperlihatkan kedekatan agama dan budaya yang turut menjadi bagian dari hubungan Thailand-Vietnam.
Dari 21 Tembakan Meriam ke Hubungan Antarmasyarakat
Rangkaian kunjungan Vajiralongkorn juga menunjukkan bahwa hubungan Thailand dan Vietnam tidak hanya dibangun melalui pertemuan pejabat tinggi.
Di Quan Su Pagoda, masyarakat dan umat Buddha setempat turut menyambut pasangan kerajaan Thailand. Bendera Thailand, Vietnam, dan bendera Buddhis terlihat dalam penyambutan tersebut.
Dimensi budaya dan hubungan antarmasyarakat menjadi semakin relevan setelah kedua negara memperluas kerja sama melalui Comprehensive Strategic Partnership.
Dengan kata lain, kunjungan Vajiralongkorn bergerak dari simbol kenegaraan ke hubungan masyarakat: dimulai dengan upacara resmi dan 21 tembakan meriam, dilanjutkan pembicaraan bilateral, lalu ditutup dengan penghormatan keagamaan.
50 Tahun Hubungan Thailand-Vietnam Memasuki Babak Baru
Kunjungan Vajiralongkorn dan Ratu Suthida akhirnya menjadi salah satu penanda penting dalam peringatan setengah abad hubungan diplomatik Thailand-Vietnam.
Bagi Vietnam, ini merupakan kunjungan kenegaraan pertama oleh raja Thailand sejak hubungan diplomatik kedua negara dimulai pada 1976. Bagi hubungan bilateral, lawatan tersebut berlangsung ketika kedua negara sedang berupaya menerjemahkan status Comprehensive Strategic Partnership ke dalam kerja sama yang lebih luas.
Karena itu, sorotan terhadap Vajiralongkorn selama tiga hari di Hanoi tidak berhenti pada seremoni kerajaan. Di balik penghormatan 21 tembakan meriam dan pertemuan dengan To Lam, terdapat pesan lain: hubungan Thailand dan Vietnam juga dibangun melalui sejarah, budaya, agama, dan hubungan antarmasyarakat.
(vietnamnews/vnexpressinternational/vov/*/hm27)
PREVIOUS ARTICLE
Ceuta Belum Pulih: Ribuan Imigran Masih Bertahan, Kamp Terbakar







































