Saturday, September 19, 2026
home_banner_first
EKONOMI

HSBC Indonesia Perkuat Wealth Management Lewat Reksa Dana Emas Syariah

Mistar.idSabtu, 19 September 2026 pukul 08.13 WIB
hsbc_indonesia_perkuat_wealth_management_lewat_reksa_dana_emas_syariah

Ilustrasi. (Foto: Infobanknews.com)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID - PT Bank HSBC Indonesia (HSBC Indonesia) memperkuat bisnis pengelolaan kekayaan (wealth management) dengan menghadirkan produk reksa dana Batavia Gold Sharia Equity USD.

Produk tersebut merupakan reksa dana saham berbasis syariah yang dikelola PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen (BPAM). Reksa dana ini memberikan eksposur kepada saham perusahaan pertambangan emas dan logam mulia global dengan fleksibilitas investasi pada berbagai kapitalisasi pasar.

HSBC menilai prospek emas dalam jangka menengah hingga panjang masih positif meski pasar emas menghadapi volatilitas akibat ketidakpastian geopolitik.

Dalam riset HSBC bertajuk Invest with Experts: Our Outlook for Gold Remains Positive Amid Ongoing Geopolitical Conflict, Rodolphe Bohn, FX and Commodities Strategist HSBC Private Bank and Premier Wealth, menyebut konflik di Timur Tengah turut memicu volatilitas harga emas dalam jangka pendek.

Harga emas sempat mencapai rekor USD5.415 per ons pada Januari 2026 sebelum terkoreksi sekitar 20 persen.

Di tengah kondisi tersebut, emas dinilai semakin dipandang bukan hanya sebagai instrumen lindung nilai, tetapi juga sebagai salah satu aset strategis dalam portofolio jangka panjang.

Laporan HSBC Global Affluent Investor Snapshot 2026, yang melibatkan hampir 10.000 investor affluent dan high-net-worth di 10 pasar global, menunjukkan emas fisik maupun digital menjadi aset ketiga yang paling banyak dimiliki investor secara global. Tingkat kepemilikan emas bahkan mencapai 41 persen di kalangan Gen Z.

Laporan yang sama mencatat sembilan dari 10 investor secara global berencana mempertahankan atau meningkatkan alokasi emas dalam portofolionya. Kepemilikan emas tercatat cukup tinggi di India sebesar 61 persen, Uni Emirat Arab 49 persen, dan China 49 persen.

International Wealth and Premier Banking Director HSBC Indonesia Lanny Hendra mengatakan meningkatnya minat investor terhadap emas turut membuka peluang investasi pada perusahaan pertambangan emas dan logam mulia.

“Kami melihat minat yang besar di kalangan investor terkait dengan investasi emas. Melalui Batavia Gold Sharia Equity USD, nasabah dapat memiliki eksposur ke perusahaan pertambangan emas dan logam mulia,” kata Lanny, Jumat (18/9/2026).

Menurut HSBC, prospek harga emas secara historis turut mendukung kinerja saham perusahaan pertambangan emas dan logam mulia. Pendapatan dan margin perusahaan tambang umumnya sensitif terhadap perubahan harga emas.

Namun, kinerja saham perusahaan tambang emas tidak selalu bergerak searah dengan harga emas. Faktor seperti biaya produksi, kondisi operasional, serta strategi dan eksekusi manajemen perusahaan juga dapat memengaruhi kinerja saham.

Presiden Direktur PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen Lilis Setiadi mengatakan produk tersebut ditujukan untuk memberikan akses terhadap potensi pertumbuhan industri emas global melalui investasi pada saham perusahaan pertambangan emas.

“Seiring meningkatnya peran emas dalam diversifikasi portofolio, Batavia Gold Sharia Equity USD hadir untuk memberikan akses terhadap potensi pertumbuhan industri emas global melalui investasi yang berfokus pada saham perusahaan pertambangan emas yang memiliki fundamental kuat dan prospek jangka panjang,” ujar Lilis. (hm25/kompas.com)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN