Saham BYAN: Jhonlin Berencana Kuasai 30%, Nilai Pasarnya Capai Rp138 Triliun

Saham BYAN: Jhonlin Berencana Kuasai 30%, Nilai Pasarnya Capai Rp138 Triliun. (foto ilustrasi:tangkapan layar google finance-idx/mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID — Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadi pusat perhatian Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (18/9/2026). Harga saham BYAN melonjak 19,96% atau Rp2.300 menjadi Rp13.825 per saham, sekaligus menyentuh Auto Reject Atas (ARA).
Lonjakan tersebut terjadi setelah terungkapnya rencana pengalihan sekitar 30% saham BYAN kepada PT Jhonlin Baratama, perusahaan di bawah Jhonlin Group milik pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam.
Dalam keterbukaan informasi, Low Tuck Kwong dan Elaine Low menyatakan telah menandatangani Conditional Share Sale and Purchase Agreement (CSPA) dengan PT Jhonlin Baratama pada 16 September 2026 untuk mengalihkan 10.000.000.500 saham BYAN.
Porsi tersebut setara sekitar 30% dari total saham BYAN.
Namun, transaksi tersebut belum selesai. Penyelesaian masih bergantung pada pemenuhan sejumlah conditions precedent atau persyaratan pendahuluan yang disepakati para pihak.
10 Miliar Saham BYAN Akan Dialihkan ke Jhonlin Baratama
Berdasarkan data pemegang saham per 30 Juni 2026, Low Tuck Kwong tercatat memiliki 13.416.921.870 saham atau 40,25% BYAN.
Sementara itu, Elaine Low memiliki 7.333.833.700 saham atau sekitar 22%.
Secara gabungan, keduanya menguasai 20.750.755.570 saham atau sekitar 62,25% dari total 33.333.335.000 saham BYAN. BBisnis.com
Dari kepemilikan tersebut, sebanyak 10.000.000.500 saham menjadi objek CSPA dengan PT Jhonlin Baratama.
Jika seluruh persyaratan transaksi terpenuhi dan penyelesaian dilakukan, Jhonlin Baratama akan memiliki sekitar 30% saham BYAN.
Angka ini sekaligus memberikan kejelasan terhadap rumor sebelumnya mengenai kemungkinan pengambilalihan sekitar 62% saham BYAN. Dokumen resmi yang telah diumumkan sejauh ini hanya mencakup sekitar 30%, bukan keseluruhan 62,25% kepemilikan Low Tuck Kwong dan Elaine Low.
Perlu ditegaskan, pihak pembeli yang tercantum dalam perjanjian adalah PT Jhonlin Baratama, bukan PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR).
Berapa Nilai 10 Miliar Saham BYAN?
Nilai transaksi pembelian 10.000.000.500 saham tersebut belum diumumkan kepada publik.
Karena itu, angka yang dapat dihitung saat ini hanyalah nilai pasar indikatif berdasarkan harga saham BYAN di BEI.
Dengan menggunakan harga penutupan BYAN pada Kamis (17/9) sebesar Rp11.525, nilai pasar 10.000.000.500 saham tersebut sekitar:
Rp11.525 × 10.000.000.500 = sekitar Rp115,25 triliun.
Namun, angka Rp115,25 triliun bukan nilai transaksi akuisisi.
Harga yang benar-benar disepakati antara pihak penjual dan PT Jhonlin Baratama belum diungkapkan. Karena itu, nilai transaksi aktual dapat berbeda dari nilai pasar berdasarkan harga saham di BEI.
Setelah BYAN melonjak ke Rp13.825 pada Jumat (18/9), nilai pasar indikatif paket 10 miliar saham tersebut secara matematis meningkat menjadi sekitar Rp138,25 triliun.
Angka ini juga bukan harga pembelian, melainkan nilai mark-to-market berdasarkan harga saham BYAN pada perdagangan 18 September.
Saham BYAN Sempat Tertekan Sebelum Transaksi
Lonjakan BYAN pada 18 September menjadi semakin mencolok jika dibandingkan dengan tekanan harga yang terjadi sebelumnya.
Pada 15 September, BYAN bahkan sempat turun hingga Rp10.075 dalam perdagangan intraday. Katadata mencatat saham BYAN telah merosot 29,34% dalam sebulan pada saat itu. Tekanan harga berlangsung di tengah ketidakpastian terkait produksi dan persetujuan perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.
Pada 16 September, saham BYAN kemudian melonjak 11,27% dari Rp10.200 menjadi Rp11.350. Sehari berikutnya, BYAN kembali naik 1,54% ke Rp11.525 sebelum akhirnya melonjak 19,96% ke Rp13.825 pada 18 September.
Dengan demikian, daripada menyebut saham BYAN turun 41% dalam periode tertentu, yang belum memiliki dasar data yang cukup jelas dalam sumber yang diperiksa, lebih tepat mengatakan bahwa BYAN mengalami koreksi tajam pada Agustus–September sebelum kemudian berbalik menguat setelah perkembangan transaksi Jhonlin terungkap.
Pergerakan tersebut juga berlangsung bersamaan dengan persoalan operasional dan ketidakpastian persetujuan RKAB.
Fundamental BYAN Tetap Tumbuh
Di tengah volatilitas harga saham, kinerja keuangan BYAN pada semester I/2026 menunjukkan pertumbuhan.
Bayan Resources membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$410,25 juta, naik 17,47% secara tahunan dari US$349,24 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan perseroan juga meningkat 7,29% menjadi sekitar US$1,74 miliar.
Pertumbuhan laba tersebut menunjukkan bahwa pergerakan saham BYAN tidak hanya berkaitan dengan kinerja keuangan historis. Ekspektasi pasar, sentimen terhadap harga batu bara, persoalan produksi dan RKAB, likuiditas saham, serta kabar aksi korporasi juga dapat memengaruhi harga saham.
Siapa Pemilik Saham BYAN?
Sebelum transaksi dengan Jhonlin Baratama selesai, pemegang saham utama BYAN adalah Low Tuck Kwong dan Elaine Low.
Rinciannya:
- Low Tuck Kwong: 13.416.921.870 saham atau 40,25%.
- Elaine Low: 7.333.833.700 saham atau sekitar 22%.
- Gabungan: 20.750.755.570 saham atau sekitar 62,25%.
Setelah CSPA selesai dan seluruh persyaratan terpenuhi, Jhonlin Baratama akan memperoleh 10.000.000.500 saham atau sekitar 30% BYAN.
Namun, dokumen yang telah diumumkan sejauh ini belum menunjukkan adanya transaksi lanjutan atas seluruh sisa kepemilikan Low Tuck Kwong dan Elaine Low. Karena itu, tidak tepat menyimpulkan bahwa seluruh 62,25% saham tersebut akan berpindah kepada Jhonlin berdasarkan transaksi yang telah diumumkan saat ini.
Mengapa Saham BYAN Langsung ARA?
Kenaikan 19,96% pada 18 September terjadi setelah pasar memperoleh kepastian lebih besar mengenai rencana masuknya Jhonlin Baratama ke BYAN.
Informasi mengenai CSPA memberikan kejelasan terhadap sebagian rumor akuisisi yang sebelumnya beredar. Sebelumnya, pasar sempat ramai memperbincangkan kemungkinan pengambilalihan sekitar 62% saham BYAN.
Namun, informasi resmi yang diumumkan BYAN hanya mencakup 10.000.000.500 saham atau sekitar 30%.
Karena itu, ARA pada 18 September lebih tepat dibaca sebagai respons pasar terhadap informasi aksi korporasi dan perubahan ekspektasi investor, bukan sebagai perubahan fundamental BYAN yang terjadi hanya dalam satu hari.
Selain transaksi tersebut, harga saham juga bergerak dalam konteks perkembangan RKAB dan persoalan operasional yang sebelumnya menekan saham BYAN.
Masih Ada Dua Pertanyaan Besar
Meski struktur transaksi sudah lebih jelas, terdapat sejumlah informasi penting yang belum diumumkan.
Pertama, berapa harga pembelian 10.000.000.500 saham tersebut?
Kedua, kapan transaksi benar-benar diselesaikan?
Nilai pembelian belum diungkapkan, sementara penyelesaian transaksi masih bergantung pada pemenuhan conditions precedent.
Karena itu, nilai Rp115,25 triliun maupun Rp138,25 triliun sebaiknya tidak disebut sebagai nilai akuisisi. Kedua angka tersebut hanyalah nilai pasar indikatif paket saham berdasarkan harga BYAN di BEI pada tanggal yang berbeda.
Babak Baru Saham BYAN
Saham BYAN kini memasuki fase baru setelah Low Tuck Kwong dan Elaine Low menandatangani CSPA dengan PT Jhonlin Baratama untuk pengalihan 10 miliar saham.
Di satu sisi, kinerja semester I/2026 menunjukkan laba bersih tumbuh 17,47%. Di sisi lain, harga saham sebelumnya mengalami tekanan di tengah persoalan RKAB dan sentimen pasar terkait kemungkinan transaksi kepemilikan.
Pada 18 September, BYAN kemudian melonjak 19,96% ke Rp13.825 dan menyentuh ARA setelah informasi transaksi sekitar 30% saham tersebut menjadi perhatian pasar.
Perhatian berikutnya akan tertuju pada pemenuhan persyaratan CSPA, tanggal penyelesaian transaksi, harga pembelian yang sebenarnya, serta bagaimana struktur kepemilikan BYAN berubah setelah transaksi selesai.
Satu hal yang sudah terkonfirmasi: PT Jhonlin Baratama telah menandatangani perjanjian bersyarat untuk memperoleh 10.000.000.500 saham BYAN atau sekitar 30%. Namun, transaksi tersebut belum selesai dan nilai pembeliannya belum diumumkan kepada publik.
(katadata/bisnis/ipotnews/*/hm27)









































