Friday, September 18, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Rupiah Menguat, IHSG Malah Melemah ke 6.441 di Tengah Gejolak Global

Mistar.idJumat, 18 September 2026 pukul 20.28 WIB
rupiah_menguat_ihsg_malah_melemah_ke_6441_di_tengah_gejolak_global

Karyawan di depan layar pergerakan harga saham (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI). (Foto: Bloomberg Technoz)

news_banner

Medan, MISTAR.ID (18/9/2026) – Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, melihat penguatan nilai tukar rupiah berbanding terbalik dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kembali berada di zona merah.

Pada perdagangan Jumat (18/9/2026), IHSG ditutup melemah 0,33 persen ke level 6.441,16. Sementara itu, rupiah ditutup menguat tipis di kisaran Rp17.730 per dolar AS.

Gunawan mengatakan, pergerakan pasar keuangan saat ini masih dipengaruhi dinamika geopolitik global. Harga minyak mentah jenis Brent berada di kisaran US$103–104 per barel setelah kekhawatiran terhadap gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah mulai mereda.

"Stabilitas harga ini ditopang laporan pasokan minyak Amerika Serikat, dan harapan pemulihan infrastruktur energi Arab Saudi dalam waktu dekat pascaserangan kelompok Houthi ke fasilitas minyak di sana," katanya, Jumat (18/9/2026).

Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya direspons positif oleh pelaku pasar keuangan. Menurut Gunawan, investor masih mencermati persoalan fundamental, terutama konflik regional di Timur Tengah yang belum sepenuhnya mereda.

"Perang yang masih berlangsung membuat indikator penurunan harga minyak mentah belum bisa menjamin ketersediaan pasokan energi yang kontinu, khususnya saat tensi konflik memanas dan berpeluang meluas ke wilayah lain," ucapnya.

Kondisi tersebut tercermin dari pergerakan bursa saham domestik. IHSG ditutup melemah 0,33 persen ke level 6.441,16. Di sisi lain, rupiah menguat tipis ke sekitar Rp17.730 per dolar AS.

"Pasar keuangan masih dihadapkan pada potensi koreksi lanjutan karena tekanan inflasi dan tren kenaikan suku bunga acuan. Pasar obligasi di Amerika Serikat dan Indonesia rentan terhadap dinamika pasar yang terus mendorong imbal hasil lebih tinggi," ujarnya.

Menurut Gunawan, kondisi tersebut dapat memperburuk kinerja fiskal pemerintah dan berpotensi memicu respons pengetatan kebijakan moneter. Dinamika pasar obligasi juga dapat meningkatkan kebutuhan terhadap likuiditas jangka pendek.

"Kondisi ini rentan memicu aliran modal asing keluar atau capital outflow. Imbas negatif dari penarikan dana asing pasti akan berdampak pada stabilitas nilai tukar rupiah dan pergerakan IHSG. Dampaknya akan bergantung pada seberapa cepat dan tepat otoritas keuangan merespons rentetan gejolak tersebut," tuturnya.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN