Friday, August 21, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

Perusahaan Mulai Serius Berinvestasi di Komputer Quantum: Apakah Ini “ChatGPT Berikutnya”?

Mistar.idSabtu, 22 Agustus 2026 pukul 05.00 WIB
perusahaan_mulai_serius_berinvestasi_di_komputer_quantum_apakah_ini_chatgpt_berikutnya

Ilustrasi, Perusahaan Mulai Serius Berinvestasi di Komputer Quantum. (foto:gemini/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (22/8/2026) — Komputer quantum masih merupakan teknologi emerging dan belum mencapai kematangan komersial secara luas, tetapi tanda-tanda komersialisasi mulai semakin kuat.

Perubahan ini terlihat dari meningkatnya anggaran perusahaan, investasi ke startup quantum, pengembangan talenta, hingga riset untuk menemukan kasus penggunaan yang benar-benar bernilai.

Menurut McKinsey, lebih dari 300 perusahaan di dunia kini aktif mengadopsi atau mengembangkan teknologi quantum. Sekitar sepertiga perusahaan besar yang dianalisis bahkan mengalokasikan lebih dari US$10 juta untuk inisiatif quantum pada 2025.

Artinya, perusahaan tidak lagi sekadar mengamati perkembangan teknologi tersebut.

Investasi Quantum Mulai Bernilai Besar

Aliran dana ke industri quantum juga meningkat tajam.

Investasi ke startup teknologi quantum mencapai sekitar US$12,6 miliar pada 2025, melonjak lebih dari enam kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

Namun, angka tersebut perlu dibaca secara tepat. Tidak semua perusahaan pengguna mengeluarkan ratusan juta dolar untuk membeli komputer quantum.

Sebagian besar perusahaan justru menginvestasikan jutaan hingga puluhan juta dolar untuk membangun kemampuan internal, mengembangkan algoritma, menguji kasus penggunaan, dan mengakses komputer quantum melalui layanan cloud.

Sementara investasi bernilai ratusan juta hingga miliaran dolar lebih banyak terlihat pada pengembangan teknologi dan perusahaan quantum itu sendiri.

Mengapa Perusahaan Bergerak Sebelum Teknologinya Matang?

Ada alasan strategis di balik langkah tersebut.

Perusahaan tidak ingin menunggu sampai komputer quantum benar-benar matang, kemudian baru mulai mempelajarinya.

Mereka ingin mengetahui sejak awal apakah teknologi tersebut dapat memberikan keunggulan dalam bidang seperti simulasi material dan obat, optimasi, logistik, keuangan, hingga keamanan siber.

Strategi ini juga berkaitan dengan pengalaman perusahaan saat teknologi AI berkembang pesat.

Ketika AI generatif meledak, banyak perusahaan harus mengejar ketertinggalan dalam perekrutan talenta, pengembangan sistem, data, dan penerapan teknologi.

Untuk quantum, perusahaan memiliki kesempatan mempersiapkan diri jauh lebih awal.

Bukan Sekadar Membeli Komputer Quantum

Investasi quantum juga tidak selalu berarti membeli perangkat keras.

Justru, perusahaan banyak mengalokasikan dana untuk membangun pengetahuan dan kemampuan menggunakan teknologi tersebut.

Mereka perlu menemukan masalah bisnis yang cocok untuk quantum, mengembangkan algoritma, menyiapkan talenta, serta memahami bagaimana komputer quantum dapat bekerja bersama komputer klasik.

Model quantum-as-a-service juga membuat perusahaan tidak perlu memiliki mesin quantum sendiri. Mereka dapat mengakses perangkat tersebut melalui cloud dan menggunakannya untuk eksperimen maupun pengembangan aplikasi.

Dengan demikian, yang sebenarnya dibeli perusahaan saat ini bukan hanya akses terhadap komputer quantum, tetapi juga pengalaman dan waktu untuk belajar sebelum teknologi tersebut matang.

IBM Siapkan Investasi Lebih dari US$10 Miliar

Salah satu contoh paling besar datang dari IBM.

Pada Juni 2026, IBM mengumumkan komitmen investasi lebih dari US$10 miliar selama lima tahun untuk pengembangan komputer quantum. Investasi tersebut mencakup riset dan pengembangan, manufaktur, kemitraan ekosistem, serta akuisisi.

IBM menargetkan sistem quantum berskala besar yang mampu beroperasi dengan toleransi kesalahan pada 2029.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa perusahaan teknologi besar melihat quantum sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar proyek penelitian.

IBM juga menyebut jaringan quantum-nya telah digunakan oleh lebih dari 340 organisasi untuk menjalankan berbagai beban kerja nyata.

Apakah Quantum Akan Menjadi “ChatGPT Berikutnya”?

Analogi dengan ChatGPT memang menarik, tetapi komputer quantum belum berada pada tahap yang sama.

ChatGPT membuat AI dapat digunakan masyarakat secara luas dalam waktu relatif singkat. Quantum masih menghadapi persoalan teknis besar, terutama terkait stabilitas qubit, tingkat kesalahan, skalabilitas, dan biaya pengoperasian.

Karena itu, quantum belum akan menggantikan komputer, server, GPU, atau pusat data konvensional dalam waktu dekat.

Komputer quantum juga kemungkinan besar tidak akan menggantikan komputer klasik sepenuhnya. Keduanya justru akan bekerja bersama dalam sistem komputasi hibrida.

Namun, ada kesamaan penting dengan era AI.

Perusahaan mulai mengambil posisi sebelum teknologi tersebut mencapai kematangan penuh.

Jika terjadi terobosan besar, perusahaan yang sudah memiliki talenta, algoritma, data, dan pengalaman kemungkinan dapat bergerak lebih cepat dibandingkan mereka yang baru memulai.

Perlombaan Quantum Sudah Dimulai

Pada akhirnya, perusahaan tidak harus percaya bahwa komputer quantum pasti sukses dalam waktu dekat.

Mereka hanya perlu melihat kemungkinan bahwa teknologi tersebut suatu hari mampu memberikan keunggulan besar.

Itulah yang membuat investasi sekarang masuk akal.

Biaya untuk bereksperimen masih relatif kecil dibandingkan risiko tertinggal jika quantum benar-benar mencapai breakthrough.

Komputer quantum mungkin belum menjadi “ChatGPT berikutnya”. Teknologinya masih menghadapi tantangan besar dan belum siap digunakan secara massal.

Tetapi satu hal sudah terlihat: perusahaan mulai bersiap sebelum komputer quantum benar-benar matang.

Bagi dunia bisnis, perlombaan mungkin bukan tentang siapa yang pertama memiliki komputer quantum, melainkan siapa yang paling siap memanfaatkannya ketika teknologi itu akhirnya mencapai titik komersial.

(mckinsey/ibm/*/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN