Tuesday, October 6, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Pakistan Serang Afghanistan, Konflik dengan Taliban dan TTP Kian Memanas

Mistar.idSelasa, 6 Oktober 2026 pukul 14.38 WIB
pakistan_serang_afghanistan_konflik_dengan_taliban_dan_ttp_kian_memanas

Kebakaran melanda usai Pakistan melancarkan serangan udara terhadap aset Taliban di Kandahar, Afganistan. Namun begitu, Kabul melaporkan banyak warga sipil yang ikut menjadi korban (Foto: AFP)

news_banner

Islamabad, MISTAR.ID – Hubungan Pakistan dan Afghanistan kembali memburuk setelah Islamabad melancarkan serangan udara ke sejumlah wilayah Afghanistan pada malam 1 Oktober. Kedua negara kini terlibat dalam perselisihan mengenai jumlah korban dan sasaran serangan.

Pemerintah Taliban Afghanistan menyatakan serangan tersebut menewaskan sekitar sembilan hingga 10 warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak. Sementara itu, Pakistan memberikan versi berbeda dengan menyebut operasi militernya menewaskan 22 militan serta menghancurkan sejumlah fasilitas penyimpanan senjata dan amunisi.

Serangan udara tersebut menjadi salah satu titik paling serius dalam eskalasi hubungan kedua negara yang kembali meningkat sejak pertengahan September, setelah situasi perbatasan relatif tenang selama hampir tiga bulan.

Serangan TTP Picu Ketegangan

Pakistan mengaitkan peningkatan serangan terhadap aparat keamanannya dengan aktivitas Tehrik-i-Taliban Pakistan (TTP). Salah satu serangan paling mematikan terjadi pada 18 September di kompleks kepolisian di Kohat, wilayah barat laut Pakistan.

Serangan tersebut menyebabkan 31 orang meninggal dunia dan lebih dari 100 lainnya mengalami luka-luka. Sebuah faksi yang memisahkan diri dari TTP mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu.

Islamabad kemudian kembali menuduh Afghanistan memberikan tempat aman bagi kelompok-kelompok TTP. Kabul menolak tuduhan tersebut.

Ketegangan semakin meningkat setelah Pakistan melakukan serangan udara ke wilayah Afghanistan, yang kemudian diikuti bentrokan di sepanjang perbatasan kedua negara.

TTP Bukan Taliban Afghanistan

Salah satu persoalan utama dalam konflik ini adalah hubungan antara TTP dan Taliban Afghanistan.

Kedua organisasi tersebut merupakan kelompok yang berbeda. TTP beroperasi sebagai kelompok militan yang menentang pemerintah Pakistan, sedangkan Taliban Afghanistan merupakan penguasa de facto Afghanistan sejak kembali mengambil alih kekuasaan pada 2021.

Meski berbeda organisasi, keduanya memiliki hubungan ideologis dan sejarah yang cukup erat. Sejumlah anggota TTP diketahui pernah bertempur bersama Taliban Afghanistan dalam perang melawan pasukan internasional.

Kondisi tersebut membuat Pakistan khawatir. Setelah Taliban kembali berkuasa, Islamabad menilai kelompok TTP mendapatkan ruang lebih besar untuk bergerak dari wilayah Afghanistan.

Pakistan selama bertahun-tahun meminta Taliban mengambil tindakan terhadap TTP. Namun, hubungan historis dan jaringan personal antara kedua kelompok membuat persoalan tersebut sulit diselesaikan.

Peneliti konflik Conrad Schetter dari Bonn International Center for Conflict Studies menilai hubungan tersebut memang nyata, tetapi tidak otomatis menunjukkan bahwa Taliban Afghanistan mengendalikan TTP secara langsung.

Persoalan Garis Durand

Konflik Pakistan dan Afghanistan juga memiliki akar sejarah yang panjang. Salah satu persoalan paling sensitif adalah Garis Durand, perbatasan yang ditetapkan Inggris pada 1893 dan kemudian menjadi batas antara Afghanistan dan Pakistan.

Garis tersebut membelah kawasan yang selama berabad-abad dihuni masyarakat Pashtun. Karena itu, persoalan perbatasan tidak hanya berkaitan dengan wilayah, tetapi juga menyentuh identitas etnis dan nasionalisme.

Sebagian masyarakat Pashtun di kedua sisi perbatasan masih mempertanyakan legitimasi batas tersebut.

Bagi Islamabad, masalah keamanan perbatasan menjadi semakin kompleks karena adanya aktivitas kelompok bersenjata. Sementara Kabul memiliki kepentingan untuk mempertahankan pengaruh dan kedaulatannya atas wilayah perbatasan.

Bayang-Bayang Rivalitas Pakistan dan India

Hubungan Pakistan dan Afghanistan juga tidak dapat dilepaskan dari persaingan Islamabad dengan India.

Pakistan selama bertahun-tahun menginginkan pemerintahan yang bersahabat di Kabul sebagai bagian dari kepentingan strategisnya menghadapi India. Namun, perkembangan hubungan India dengan pemerintahan Taliban membuat perhitungan tersebut semakin rumit.

Afghanistan yang sebelumnya dipandang Islamabad sebagai bagian dari strategi menghadapi India kini justru semakin sering dilihat sebagai sumber persoalan keamanan.

Situasi itu membuat hubungan Pakistan dan Afghanistan tidak hanya menjadi persoalan bilateral, tetapi juga berkaitan dengan persaingan kekuatan regional.

Pakistan Punya Kartu Ekonomi

Selain kekuatan militer, Pakistan memiliki instrumen tekanan lain terhadap Afghanistan, yakni perdagangan dan jalur transit.

Sebagai negara yang tidak memiliki akses langsung ke laut, Afghanistan selama ini bergantung pada jalur perdagangan melalui negara-negara tetangga, termasuk Pakistan.

Islamabad dapat menggunakan pembatasan perdagangan maupun penutupan perbatasan sebagai alat tekanan terhadap Kabul. Namun, langkah tersebut juga memiliki konsekuensi ekonomi bagi masyarakat di kedua sisi perbatasan.

Pemerintahan Taliban berusaha mengurangi ketergantungan tersebut dengan membuka jalur perdagangan dan hubungan ekonomi dengan negara lain.

Persoalan keamanan akhirnya semakin bercampur dengan kepentingan ekonomi dan politik.

Taliban Juga Menghadapi Dilema

Taliban Afghanistan menghadapi dilema dalam menangani TTP. Tindakan terlalu keras terhadap kelompok tersebut berpotensi menimbulkan perpecahan dan mendorong sebagian anggotanya bergabung dengan kelompok militan lain, termasuk ISIS-K.

Di sisi lain, Pakistan menganggap TTP sebagai salah satu ancaman keamanan paling serius terhadap negaranya.

Kedua kepentingan tersebut membuat penyelesaian persoalan TTP menjadi jauh lebih sulit daripada sekadar permintaan Pakistan agar Kabul melakukan operasi terhadap kelompok tersebut.

Konflik Mulai Bergeser ke Konfrontasi Langsung

Eskalasi terbaru juga menunjukkan bahwa perseteruan Pakistan dan Afghanistan mulai memasuki fase yang lebih berbahaya.

Pada akhir September, Afghanistan menyatakan pasukannya menewaskan 28 orang dan menangkap 32 orang yang disebut menyusup dari Pakistan ke Provinsi Nuristan. Kabul juga menuduh Islamabad memberikan dukungan kepada kelompok-kelompok yang menentang pemerintahan Taliban.

Pakistan membantah tuduhan tersebut.

Menurut Thomas Ruttig dari Afghanistan Analysts Network, Pakistan memang memiliki sejarah panjang dalam memberikan dukungan kepada sejumlah kelompok bersenjata di Afghanistan. Namun, dugaan dukungan terhadap kelompok oposisi bersenjata anti-Taliban menjadi perkembangan yang lebih baru.

Dengan kondisi tersebut, konflik kedua negara tidak lagi hanya berpusat pada TTP. Pakistan dan Afghanistan kini sama-sama menuduh pihak lawan memberikan ruang atau dukungan kepada kelompok bersenjata.

Perubahan ini meningkatkan risiko konflik langsung antara kedua negara, setelah selama bertahun-tahun ketegangan lebih banyak berlangsung melalui kelompok nonnegara dan bentrokan terbatas di perbatasan.

Masih Ada Jalan untuk Meredakan Konflik

Meski hubungan Islamabad dan Kabul memburuk, peluang diplomasi belum sepenuhnya tertutup.

Thomas Ruttig menilai kedua negara perlu kembali membuka jalur komunikasi dan perundingan. Mediasi internasional juga dapat dipertimbangkan untuk membantu menurunkan ketegangan sekaligus melindungi warga sipil di sepanjang perbatasan.

Penyelesaian konflik juga tidak cukup hanya dengan membahas aktivitas kelompok bersenjata. Persoalan perbatasan, perdagangan, pengungsi, keamanan, dan hubungan regional perlu dibicarakan secara bersamaan.

Analis Pakistan Saqib Ali Khan mengusulkan beberapa jalur negosiasi, termasuk membangun komunikasi langsung yang lebih efektif antara Islamabad dan Kabul, membedakan pendekatan terhadap berbagai kelompok bersenjata, serta melibatkan masyarakat yang tinggal di kawasan perbatasan.

Pada akhirnya, konflik Pakistan-Afghanistan merupakan persoalan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar perseteruan militer. Di dalamnya terdapat sejarah panjang sengketa perbatasan, hubungan dengan kelompok bersenjata, kepentingan ekonomi, identitas etnis, serta persaingan kekuatan di kawasan.

Karena itu, meredakan konflik membutuhkan perubahan pendekatan dari kedua pihak. Penguatan hubungan ekonomi dan komunikasi politik dinilai dapat menjadi salah satu cara agar hubungan Islamabad dan Kabul tidak terus didominasi persoalan keamanan dan perebutan pengaruh.

TAGS


BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN