Friday, August 21, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

AI Makin Pintar, Mengapa Belum Bisa Terbang Sendiri ke Luar Angkasa?

Mistar.idJumat, 21 Agustus 2026 pukul 08.59 WIB
ai_makin_pintar_mengapa_belum_bisa_terbang_sendiri_ke_luar_angkasa

Ilustrasi, AI Makin Pintar, Mengapa Belum Bisa Terbang Sendiri ke Luar Angkasa? (foto:gemini/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (21/8/2026) — Kecerdasan buatan (AI) berkembang pesat dan mulai digunakan untuk membantu berbagai misi luar angkasa. Namun, meski AI semakin mampu mengambil keputusan secara mandiri, teknologi ini belum sepenuhnya dapat dipercaya untuk mengendalikan wahana antariksa tanpa campur tangan manusia.

Bukan berarti AI belum cukup pintar. Tantangannya adalah membuat sistem yang andal, aman, dan mampu mengambil keputusan tepat di lingkungan yang penuh ketidakpastian.

AI Mulai Membantu Merencanakan Perjalanan Perseverance di Mars

Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa otonomi AI di luar angkasa bukan lagi sekadar konsep.

Rover Perseverance milik NASA telah melakukan perjalanan di Mars dengan bantuan perencanaan berbasis AI. Sistem tersebut membantu menghasilkan titik-titik navigasi yang kemudian digunakan rover untuk menentukan rute di permukaan Mars.

Perseverance juga semakin mampu melakukan navigasi secara otonom. Rover menggunakan kamera dan komputer onboard untuk mengenali medan, menghindari rintangan, serta menentukan posisi tanpa harus selalu menunggu instruksi dari Bumi.

Kemampuan ini penting karena Mars tidak memiliki sistem GPS seperti yang tersedia di Bumi.

Mengapa Belum Bisa Sepenuhnya Mandiri?

Masalah terbesar bukan sekadar kemampuan AI dalam memproses informasi, melainkan konsekuensi ketika AI membuat keputusan yang salah.

Di Bumi, kendaraan otonom yang menghadapi masalah masih dapat berhenti atau menerima bantuan manusia secara cepat. Di luar angkasa, situasinya berbeda.

Semakin jauh sebuah wahana dari Bumi, semakin besar jeda komunikasi. Untuk misi jarak jauh, operator tidak selalu dapat memberikan instruksi secara real-time.

Karena itu, wahana antariksa masa depan justru membutuhkan tingkat otonomi yang lebih tinggi.

Namun, AI tersebut harus mampu menghadapi berbagai kemungkinan, mulai dari perubahan kondisi lingkungan, gangguan sensor, keterbatasan energi hingga kerusakan perangkat keras.

AI Harus Bisa Menghadapi Situasi yang Tidak Terduga

Sebuah sistem AI untuk luar angkasa tidak cukup hanya mampu mengikuti perintah.

Wahana harus dapat menentukan apakah informasi dari sensornya dapat dipercaya, memilih tindakan ketika terjadi konflik antar-sistem, mengatur penggunaan energi, menentukan jalur yang aman, hingga masuk ke mode perlindungan ketika menghadapi kondisi kritis.

Kesalahan kecil dapat berdampak besar.

Salah membaca medan Mars, misalnya, bukan hanya menghasilkan jawaban yang keliru. Kesalahan tersebut dapat membuat rover mengambil jalur berbahaya dan berpotensi merusak perangkat bernilai sangat tinggi.

Inilah yang membuat AI untuk luar angkasa membutuhkan tingkat keandalan yang jauh lebih tinggi dibandingkan AI yang hanya menghasilkan teks atau gambar.

Bukan AI Menggantikan Manusia

Arah pengembangan teknologi antariksa saat ini bukan sepenuhnya menyerahkan kendali kepada AI.

Model yang lebih realistis adalah pembagian tugas antara manusia dan mesin.

Manusia tetap menentukan tujuan besar dan prioritas misi. Sementara itu, AI menangani keputusan teknis yang membutuhkan respons cepat, seperti navigasi, perencanaan rute, pengelolaan sumber daya, pemilihan data ilmiah, serta deteksi awal terhadap gangguan.

NASA dan Badan Antariksa Eropa (ESA) sama-sama mengembangkan teknologi menuju sistem robot yang semakin otonom.

ESA bahkan pada 2026 membuka pengembangan teknologi embodied intelligence untuk membuat robot luar angkasa mampu menggabungkan kemampuan memahami lingkungan, mengambil keputusan, mengendalikan gerakan, dan beradaptasi secara lebih mandiri.

Fakta Menarik: Semakin Jauh dari Bumi, Semakin Penting AI

Ada paradoks dalam eksplorasi antariksa.

Semakin jauh manusia mengirim wahana, semakin sedikit manusia dapat mengendalikannya secara langsung.

Karena itu, AI bukan sekadar teknologi tambahan. Otonomi kemungkinan menjadi salah satu komponen penting dalam misi menuju Mars, asteroid, planet luar, maupun eksplorasi ruang angkasa yang lebih jauh.

Untuk misi semacam itu, menunggu setiap keputusan dari operator di Bumi bisa menjadi tidak praktis.

Wahana harus mampu berpikir dan bertindak berdasarkan tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.

Masa Depan: Wahana dengan "Otak" Sendiri

Perkembangan AI di luar angkasa kemungkinan tidak langsung menghasilkan pesawat yang sepenuhnya bebas mengambil keputusan.

Perubahannya akan berlangsung bertahap, mulai dari otomatisasi tugas sederhana, navigasi mandiri, kemampuan beradaptasi terhadap kondisi lingkungan, hingga otonomi tingkat misi.

Pada tahap yang lebih maju, wahana dapat merencanakan rangkaian aktivitas, mengelola sumber daya, mendeteksi kerusakan, memilih target ilmiah, dan menentukan kapan harus melanjutkan misi atau masuk ke kondisi aman.

Dengan demikian, pertanyaan masa depan bukan lagi apakah AI bisa "terbang sendiri" ke luar angkasa.

Pertanyaan yang lebih penting adalah seberapa banyak keputusan yang bersedia dipercayakan manusia kepada AI ketika wahana berada jutaan kilometer dari Bumi dan tidak ada tombol untuk memperbaiki kesalahan.

Teknologi menuju ke sana sudah berkembang. Perseverance menunjukkan bahwa robot dapat semakin mandiri di Mars, sementara NASA dan ESA terus mengembangkan sistem otonomi yang lebih canggih.

Jadi, AI sebenarnya sudah mulai belajar terbang sendiri.

Yang belum selesai adalah membuat kita benar-benar yakin bahwa AI tersebut tahu kapan harus bergerak, kapan harus berhenti, dan apa yang harus dilakukan ketika segala sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.

(nasa/esa/*/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN