AI Ancam Dunia Kerja, Menteri UMKM Minta Mahasiswa USU Bersiap Hadapi Disrupsi

Menteri UMKM, Maman Abdurrahman saat Sidang Terbuka Dies Natalis ke-74 USU di Medan, Kamis (20/8/2026). (Foto: Susan/Mistar)
Medan, MISTAR.ID – Menteri Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) RI, Maman Abdurrahman mengingatkan sivitas akademika Universitas Sumatera Utara (USU) bersiap menghadapi gelombang disrupsi teknologi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
“Sebagai contoh, tantangan masa depan kita, kurang lebih 14 persen pekerjaan di dunia akan hilang karena otomasi pada 2030. Dan 80 persen pekerjaan di tahun 2030 sampai 2040 adalah pekerjaan yang mungkin hari ini tak pernah ada,” kata Maman di Sidang Terbuka Dies Natalis ke-74 USU di Medan, Kamis (20/8/2026).
Sekitar 86 persen teknologi AI akan mengubah model bisnis secara masif pada akhir dekade ini. Maman mengaku dirinya sendiri memanfaatkan teknologi AI untuk memetakan dan menganalisis prospek bisnis serta peluang-peluang usaha baru.
Maka dari itu, ia mengajak mahasiswa membangun semangat kritis yang konstruktif, bukan dengan cara berhadap-hadapan dengan pemerintah, melainkan bergandengan tangan menghadapi tantangan global.
Di tengah gempuran teknologi dan persaingan global, Maman menekankan pemerintah tidak boleh hanya fokus pada aspek pembiayaan dan pelatihan semata, tetapi juga wajib mengamankan pasar bagi produk-produk lokal.
Ia menyoroti kondisi pasar dalam negeri yang kerap terganggu oleh serbuan barang impor ilegal maupun legal yang mematikan produk buatan anak bangsa.
“Permasalahannya adalah pasar kita untuk memasarkan produk ini masih becek. Ini saya selalu menggunakan terminologi diksi kata becek. Kenapa? Karena banyaknya produk-produk barang-barang impor yang masuk dari luar,” tuturnya.
Dengan kolaborasi bersama Kementerian Keuangan, Bea Cukai, Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian, Maman menyebutkan bahwa pihaknya mulai memperketat ruang gerak barang impor agar produk dalam negeri dapat diserap oleh pasar lokal.
Kementerian UMKM juga berkomitmen mempermudah perizinan usaha, mulai dari penerbitan Nomor Induk Berusaha (NIB), PIRT hingga akselerasi sertifikasi halal yang kerap menjadi kendala di lapangan.
Maman menambahkan bahwa pemerintah juga menyediakan fasilitas pendampingan dan inkubasi bisnis bekerja sama dengan perguruan tinggi.
Selain itu, Maman juga memperkenalkan inovasi pelayanan terpadu bernama Sapa UMKM. Sistem digital ini diluncurkan untuk memangkas birokrasi konvensional dalam melayani sekitar 57 juta pelaku UMKM di seluruh Indonesia.
Melalui platform yang ditargetkan terintegrasi hingga tingkat kabupaten pada awal 2027 ini, para pelaku UMKM maupun wirausaha muda dari kampus dapat dengan mudah mengakses pelatihan, pembiayaan, hingga perluasan jaringan pemasaran secara transparan dan efisien.[]






















