Monday, October 5, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Flavio Bolsonaro Unggul atas Lula, Pilpres Brasil Berlanjut ke Putaran Kedua

Mistar.idSenin, 5 Oktober 2026 pukul 08.02 WIB
flavio_bolsonaro_unggul_atas_lula_pilpres_brasil_berlanjut_ke_putaran_kedua

Flavio Bolsonaro usai memberikan suara para pemilu Brasil, Minggu (4/10/2026) waktu setempat. (foto: Reuters via BBC)

news_banner

Brasilia, MISTAR.ID - Putaran pertama pemilihan presiden Brasil menghasilkan persaingan ketat antara kandidat sayap kanan Flavio Bolsonaro dan Presiden petahana Luiz Inacio Lula da Silva. Flavio, putra mantan Presiden Jair Bolsonaro, berhasil meraih suara terbanyak, tetapi belum mencapai angka 50 persen sehingga pemilihan harus dilanjutkan ke putaran kedua.

Berdasarkan 98,81 persen suara yang telah dihitung, Flavio Bolsonaro memperoleh 47,24 persen suara, sedangkan Lula mendapatkan 44,91 persen. Keduanya akan kembali berhadapan dalam pemungutan suara putaran kedua pada 25 Oktober mendatang.

Hasil tersebut menjadi kejutan karena sejumlah jajak pendapat sebelum pemungutan suara sempat menempatkan Lula sedikit lebih unggul. Perolehan Flavio yang berada di atas perkiraan sejumlah survei membuat persaingan menuju putaran kedua semakin terbuka.

Dengan selisih suara yang relatif tipis, kedua kubu kini harus berusaha menarik dukungan pemilih dari kandidat yang gagal melaju ke putaran kedua. Kondisi ini membuat pertarungan akhir berpotensi berlangsung sengit, terutama karena sebagian pemilih dari kandidat lain memiliki kecenderungan politik konservatif.

Pemilu Brasil kali ini juga menjadi perhatian besar di kawasan Amerika Latin. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah negara di kawasan tersebut memilih pemerintahan yang lebih condong ke kanan dan memiliki hubungan yang lebih dekat dengan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Hasil putaran kedua Brasil akan menentukan apakah negara dengan ekonomi terbesar di Amerika Latin itu akan mengikuti kecenderungan tersebut atau tetap mempertahankan pemerintahan dari kelompok kiri.

Lula, yang berusia 80 tahun, menggunakan isu demokrasi sebagai salah satu pesan utama kampanyenya. Setelah memberikan suara, ia memperingatkan pemilih bahwa pemilihan kali ini merupakan pertarungan antara demokrasi dan apa yang disebutnya sebagai "barbarisme".

Sementara itu, Flavio Bolsonaro, 45 tahun, membawa pesan perubahan dan kebebasan. Setelah memberikan suara, ia mengatakan ingin "membebaskan rakyat Brasil".

Pertarungan keduanya kembali memperlihatkan kuatnya polarisasi politik Brasil. Isu ekonomi, keamanan, korupsi, kedaulatan nasional dan hubungan luar negeri menjadi tema utama yang memengaruhi pilihan pemilih.

Basis Pemilih Berbeda

Lula masih memiliki basis dukungan kuat di wilayah timur laut Brasil. Ia juga relatif populer di kalangan masyarakat berpenghasilan rendah, pemilih perempuan dan kelompok Katolik.

Mantan pemimpin serikat buruh tersebut berusaha mempertahankan warisan kebijakan sosial yang menjadi ciri pemerintahannya, termasuk Bolsa Familia. Program tersebut memberikan bantuan kepada keluarga berpenghasilan rendah dengan sejumlah persyaratan, seperti memastikan anak-anak tetap bersekolah dan mendapatkan layanan kesehatan.

Lula juga mendorong pembangunan universitas serta kebijakan ekonomi dengan keterlibatan negara yang cukup besar. Ia mendukung pengembangan pusat data dan industri mineral penting yang dianggap memiliki nilai strategis bagi masa depan Brasil.

Di sisi lain, Flavio Bolsonaro mendapatkan dukungan lebih kuat di wilayah selatan serta dari kelompok masyarakat berpenghasilan lebih tinggi dan pemilih evangelis.

Flavio juga memanfaatkan warisan politik ayahnya. Jair Bolsonaro, yang pernah menjabat sebagai presiden Brasil, dilarang mengikuti pemilihan kembali dan kemudian dijatuhi hukuman penjara selama 27 tahun karena dinyatakan terlibat dalam upaya kudeta setelah kalah dalam pemilu sebelumnya.

Jair Bolsonaro kemudian mendukung putra sulungnya, Flavio, untuk maju menggantikannya. Istri Jair Bolsonaro, Michelle Bolsonaro, juga terpilih menjadi anggota Senat dalam pemilu kali ini.

Nama keluarga Bolsonaro masih memiliki pengaruh besar dalam politik Brasil. Namun, warisan tersebut sekaligus menjadi sumber kontroversi.

Pada Januari 2023, pendukung Jair Bolsonaro menyerbu dan merusak sejumlah gedung pemerintahan setelah kekalahan dalam pemilu 2022. Flavio Bolsonaro kini berjanji memberikan amnesti kepada ayahnya serta para pendukung yang terlibat dalam kerusuhan tersebut apabila terpilih menjadi presiden.

Dalam pemilu 2022, Lula mengalahkan Jair Bolsonaro dengan selisih kurang dari dua persen suara. Hasil tersebut tercatat sebagai salah satu pemilu presiden paling ketat dalam sejarah Brasil.

Hubungan dengan Amerika Serikat

Hubungan Brasil dengan Amerika Serikat juga menjadi salah satu isu penting dalam kampanye.

Lula menjadikan kedaulatan nasional sebagai bagian penting dari agenda politiknya dan beberapa kali menuduh Amerika Serikat berusaha memengaruhi politik Brasil. Ia juga berjanji meningkatkan anggaran pertahanan.

Sementara itu, Flavio diperkirakan akan membawa Brasil lebih dekat dengan Washington apabila memenangkan pemilu. Ia mendukung kerja sama dengan Amerika Serikat dalam menghadapi perdagangan narkotika dan kejahatan terorganisasi.

Namun, Flavio juga berusaha mempertahankan hubungan ekonomi dengan China. Negara tersebut telah menjadi mitra dagang terbesar Brasil dan merupakan pasar penting bagi komoditas utama Brasil seperti kedelai dan daging sapi.

Sebelumnya, pemerintah Brasil juga menolak visa bagi dua pejabat Departemen Luar Negeri Amerika Serikat yang dituduh berusaha menimbulkan keraguan terhadap sistem pemilu Brasil. Washington membantah tuduhan tersebut.

Korupsi dan Keamanan

Isu korupsi turut memberikan warna kuat dalam pemilu kali ini. Salah satu skandal terbesar melibatkan Daniel Vorcaro, seorang bankir yang dipenjara karena kasus penipuan keuangan dalam skala besar.

Skandal tersebut menyeret sejumlah tokoh dari berbagai kubu politik. Flavio mengakui pernah meminta Vorcaro membiayai film biografi tentang ayahnya setelah rekaman percakapan yang memperlihatkan permintaan dana dalam jumlah besar muncul ke publik.

Lula juga ikut terdampak secara tidak langsung setelah polisi menyebut Vorcaro pernah menghubungi hakim Mahkamah Agung Alexandre de Moraes untuk meminta bantuan agar terhindar dari penangkapan. Moraes membantah melakukan kesalahan.

Selain korupsi, keamanan menjadi perhatian utama masyarakat Brasil. Tingkat pembunuhan memang mengalami penurunan, tetapi kejahatan jalanan seperti pencurian telepon seluler masih menjadi persoalan yang sangat dirasakan masyarakat.

Flavio menawarkan pendekatan yang lebih keras. Ia ingin kelompok kriminal di Brasil dikategorikan sebagai organisasi teroris dan berencana membangun penjara dengan keamanan maksimum yang terinspirasi dari kebijakan di El Salvador.

Lula mengambil pendekatan berbeda. Pemerintahannya berusaha memutus jaringan keuangan kelompok kriminal, memperbaiki penyelidikan kasus pembunuhan dan meningkatkan investasi di sektor pemasyarakatan.

Ekonomi Jadi Penentu

Kondisi ekonomi juga menjadi faktor penting dalam menentukan pilihan pemilih. Brasil menghadapi persoalan utang rumah tangga yang tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang mulai melambat.

Lula mempertahankan kebijakan bantuan sosial sebagai salah satu instrumen untuk mengurangi kemiskinan. Program-program tersebut sebelumnya disebut telah membantu jutaan warga Brasil keluar dari kondisi miskin.

Ia juga mendorong peran pemerintah dalam pengembangan sektor mineral strategis dan industri baru.

Di sisi lain, Flavio menawarkan agenda ekonomi yang lebih konservatif. Ia menjanjikan pembatasan utang publik, pemangkasan belanja pemerintah, peninjauan kembali sejumlah program bantuan sosial serta penguatan industri mineral penting.

Isu lingkungan juga menjadi bagian dari pertarungan. Lula memiliki catatan dalam memperketat perlindungan lingkungan dan menurunkan laju deforestasi Amazon. Namun, pemerintahannya juga mendukung eksplorasi minyak di kawasan dekat muara Sungai Amazon, kebijakan yang mendapat kritik dari kelompok lingkungan.

Sebaliknya, laju deforestasi meningkat tajam ketika Jair Bolsonaro memimpin Brasil. (*)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN