Wednesday, October 7, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Anak dan Remaja Lebih Rentan Keracunan Makanan, Ini Kata Dokter

Mistar.idRabu, 7 Oktober 2026 pukul 05.00 WIB
anak_dan_remaja_lebih_rentan_keracunan_makanan_ini_kata_dokter

Ilustrasi anak lebih rentan mengalami keracunan makanan. (foto: Artificial Intelligence/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID - Anak dan remaja lebih rentan mengalami keracunan makanan dibandingkan orang dewasa. Kondisi ini dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari cadangan cairan tubuh yang lebih kecil hingga sistem imun dan saluran cerna yang belum matang.

Dokter spesialis anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr dr Yogi Prawira, Sp.A, Subsp.ETIA (K), menjelaskan ada beberapa faktor yang membuat anak dan remaja lebih mudah mengalami dampak serius akibat keracunan makanan.

“Pertama, cadangan cairan di dalam tubuh anak dan remaja lebih kecil. Sehingga saat kehilangan cairan dalam jumlah yang sama dengan orang dewasa, dampaknya jauh lebih besar pada anak,” ujarnya kepada Mistar, Selasa (6/10/2026).

Yogi mencontohkan, muntah sebanyak lima kali pada orang dewasa mungkin hanya menimbulkan rasa tidak nyaman. Namun, kondisi serupa pada balita dapat menyebabkan gangguan sirkulasi hingga syok.

“Faktor kedua, anak lebih mudah keracunan karena sistem imun dan sawar (benteng) saluran cerna belum matang. Jumlah kuman yang dibutuhkan untuk menimbulkan sakit lebih sedikit,” jelasnya.

Faktor berikutnya adalah pola konsumsi makanan anak dan remaja yang lebih banyak dilakukan di luar pengawasan keluarga. Misalnya, makanan yang dibeli di kantin sekolah, jajanan pinggir jalan, hingga makanan yang diberikan dalam kegiatan makan massal di sekolah.

“Ketiga, anak dan remaja banyak makan di luar pengawasan keluarga ataupun para orang tua, seperti di kantin sekolah, jajanan pinggir jalan dan pemberian makan massal di sekolah,” ucapnya.

Selain itu, anak kecil belum mampu melaporkan gejala keracunan yang dialaminya secara jelas. Menurut Yogi, tanda-tanda kondisi tersebut terkadang justru terlihat dari perubahan perilaku anak.

“Terakhir, anak kecil belum mampu melaporkan gejala keracunan yang dialaminya. Terlihat lebih dulu justru anak menjadi diam dan tampak lemas,” katanya.

Yogi juga menyebutkan data Pusat Analisis Kebijakan Obat dan Makanan BPOM tahun 2024 yang menunjukkan sebanyak 42,96 persen kasus keracunan makanan terjadi pada kelompok usia 12 hingga 25 tahun.

Data tersebut menunjukkan kelompok anak dan remaja perlu mendapat perhatian lebih dalam upaya pencegahan keracunan makanan, terutama terkait keamanan makanan dan minuman yang dikonsumsi sehari-hari. (*)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN