Bukan Cuma Makan! 7 Tren Wisata Gastronomi 2026 yang Bikin Kuliner Jadi Alasan Traveling

Bukan Cuma Makan! 7 Tren Wisata Gastronomi 2026 yang Bikin Kuliner Jadi Alasan Traveling. (foto ilustrasi:gemini/mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID (7/10/2026) — Dari food trail, wisata kopi, pasar tradisional hingga festival kuliner, tren gastronomi 2026 menunjukkan makanan semakin berperan dalam menentukan ke mana wisatawan pergi.
Ada masa ketika makanan hanya menjadi pelengkap perjalanan.
Orang memilih destinasi karena pantai, gunung, budaya, atau atraksi wisata, lalu mencari tempat makan setelah tiba.
Kini, bagi sebagian wisatawan, arahnya mulai berubah.
Makanan dan minuman semakin ikut menentukan pengalaman, bahkan pilihan destinasi. Food Travel Monitor 2026 mencatat skor 8,2 dari 10 untuk tingkat pentingnya makanan dan minuman ketika wisatawan memilih destinasi. Sebanyak 66% leisure travelers dalam survei tersebut juga mengatakan makanan dan minuman kini lebih berpengaruh terhadap perjalanan mereka dibandingkan lima tahun lalu. Survei ini dilakukan pada April–Mei 2026 terhadap wisatawan di enam negara, sehingga angkanya tidak dapat dianggap mewakili seluruh wisatawan dunia.
Temuan lain datang dari Agoda. Dalam Travel Outlook 2026, pengalaman kuliner masuk tiga besar motivasi perjalanan wisatawan Asia, naik dari posisi keenam pada tahun sebelumnya. Survei Agoda mencakup 3.353 responden dari sembilan pasar Asia, termasuk Indonesia.
Pergeseran inilah yang membuat wisata kuliner berkembang menuju wisata gastronomi—sebuah pengalaman yang tidak hanya berbicara tentang rasa, tetapi juga menghubungkan makanan dengan budaya, sejarah, manusia, bahan pangan, tradisi, dan tempat asalnya.
Di Indonesia, arah tersebut semakin terlihat melalui Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) 2026. Program Kementerian Pariwisata ini menempatkan Solo dan Yogyakarta sebagai pusat rangkaian utama pada 26 September–4 Oktober 2026, dengan program pendukung di berbagai kota hingga akhir tahun. WIG 2026 mengusung tema “From Local Roots to Global Recognition.”
Lantas, apa saja tren wisata gastronomi yang semakin menarik perhatian pada 2026?
1. Bukan Lagi Sekadar Makan, Wisatawan Mencari Pengalaman di Balik Hidangan
Perubahan paling besar dalam wisata kuliner adalah bergesernya fokus dari “makan apa?” menjadi “bagaimana makanan ini dibuat dan dari mana asalnya?”
Wisatawan kini semakin tertarik pada pengalaman yang membuat mereka lebih dekat dengan sebuah makanan: mengunjungi pasar, mengenal bahan lokal, bertemu produsen, mengikuti workshop, belajar memasak, hingga memahami tradisi yang melahirkan sebuah hidangan.
Konsep ini terlihat jelas dalam WIG 2026.
Program tersebut memperluas cakupan gastronomi dari restoran dan hidangan menuju asal bahan, kearifan lokal, tradisi kuliner, filosofi makanan, serta pengalaman gastronomi kontemporer. Peserta Tastemaker Gastronomy Trip, misalnya, diajak menjelajahi Solo dan Yogyakarta melalui ruang kuliner sekaligus destinasi budaya.
Dengan pendekatan ini, makanan menjadi pintu masuk untuk mengenal sebuah tempat lebih dalam.
Bukan hanya apa yang dimakan, tetapi juga siapa yang membuatnya, dari mana bahannya, dan cerita apa yang melekat di dalamnya.
2. Food Trail: Ketika Satu Cerita Kuliner Membawa Wisatawan Menjelajah Kota
Bayangkan itinerary perjalanan yang tidak hanya berisi museum, tempat bersejarah, dan destinasi ikonik.
Pagi dimulai dengan sarapan di warung lokal. Setelah itu mampir ke pasar tradisional, mencicipi jajanan khas, bertemu produsen bahan pangan, mengikuti workshop, menikmati kopi, lalu menutup perjalanan dengan makan malam yang mengangkat resep atau bahan lokal.
Inilah gagasan di balik food trail: perjalanan yang mengikuti jejak makanan dari satu tempat ke tempat lainnya.
Konsep tersebut sejalan dengan arah wisata gastronomi 2026, meski tidak semua perjalanan gastronomi secara resmi menggunakan istilah food trail.
WIG 2026, misalnya, membawa media dan tastemakers dalam perjalanan gastronomi di Solo dan Yogyakarta. Rutenya mencakup restoran dan ruang kuliner, Pasar Gede, Kampung Laweyan, Rumah Atsiri, hingga destinasi seperti Borobudur dan Prambanan.
Hasilnya bukan sekadar daftar makanan yang dicicipi.
Wisatawan mendapatkan cerita perjalanan yang menghubungkan makanan, tempat, budaya, dan manusia.
3. Wisata Kopi Naik Kelas: Dari Kedai ke Kebun
Wisata kopi bukan lagi hanya soal menemukan kedai yang sedang populer.
Perhatian wisatawan juga dapat diarahkan ke perjalanan kopi dari hulu ke hilir: kebun, petani, proses panen, pengolahan, roasting, cupping, hingga teknik penyeduhan.
Indonesia punya modal besar untuk mengembangkan pengalaman semacam ini karena kopi tumbuh di berbagai wilayah dengan karakter lingkungan dan tradisi yang berbeda.
Dalam konteks gastronomi, pengalaman tersebut membuat secangkir kopi memiliki cerita yang jauh lebih panjang.
Ada tanah tempat kopi tumbuh. Ada petani yang merawatnya. Ada proses pengolahan yang menentukan karakter rasa. Dan ada budaya minum kopi yang berkembang di daerah tersebut.
Karena itu, tren wisata kopi 2026 lebih tepat dilihat sebagai bagian dari experiential gastronomy—bukan sebagai tren yang baru muncul tahun ini.
4. Pasar Tradisional Bisa Jadi “Museum Hidup” Kuliner Sebuah Kota
Selama ini pasar tradisional lebih sering dipandang sebagai tempat berbelanja.
Dalam wisata gastronomi, fungsinya bisa jauh lebih luas.
Wisatawan dapat melihat bahan pangan yang digunakan masyarakat setempat, mengamati aktivitas perdagangan, mencicipi makanan, mengenal pedagang, sekaligus memahami bagaimana bahan-bahan tersebut masuk ke dalam budaya makan sehari-hari.
WIG 2026 bahkan memasukkan Pasar Gede di Solo dalam perjalanan gastronominya. Program Indonesia Local Eateries yang diluncurkan dalam rangkaian WIG juga memperluas perhatian dari restoran ke tempat makan tradisional, pasar, dan pusat kuliner yang mencerminkan budaya makan sehari-hari masyarakat Indonesia.
Karena itu, pasar bukan hanya tempat membeli bahan makanan.
Ia dapat menjadi semacam “museum hidup” tentang makanan sebuah kota—tempat wisatawan melihat budaya kuliner dalam bentuk yang masih berlangsung sehari-hari.
5. Di Tengah Makanan Viral, Makanan Tradisional Justru Punya Cerita yang Dicari
Tren makanan viral datang dan pergi.
Namun makanan yang memiliki hubungan kuat dengan tempat, tradisi, dan masyarakat memiliki keunggulan lain: cerita.
Resep keluarga, bahan pangan lokal, teknik memasak tradisional, jajanan pasar, makanan rumahan, hingga produk yang diwariskan lintas generasi dapat menjadi bagian dari pengalaman gastronomi.
Inilah salah satu alasan autentisitas dan konteks budaya menjadi penting.
Wisatawan tidak hanya mencicipi makanan, tetapi dapat memahami mengapa makanan tersebut dibuat dengan cara tertentu dan apa maknanya bagi masyarakat setempat.
WIG 2026 secara khusus membawa pendekatan tersebut melalui tema “From Local Roots to Global Recognition”, yang menempatkan akar lokal sebagai bagian dari upaya memperkenalkan gastronomi Indonesia ke panggung global.
Jadi, makanan tradisional tidak harus bersaing dengan makanan modern dengan cara menjadi viral.
Ia bisa memiliki nilai justru karena tidak mudah dipisahkan dari identitas tempat asalnya.
6. Festival Kuliner Makin Bisa Menjadi Alasan untuk Pergi
Ada perbedaan antara datang ke suatu kota lalu kebetulan makan di sana dengan datang karena ada pengalaman gastronomi yang hanya berlangsung pada waktu tertentu.
Festival kuliner masuk dalam kategori kedua.
Wisatawan dapat datang untuk mengikuti masterclass, bertemu chef, mencoba menu khusus, membeli produk artisan, mengikuti workshop, atau menikmati kolaborasi kuliner yang berlangsung terbatas.
WIG 2026 memberikan contoh aktual.
Mulai 7 Oktober hingga 1 November 2026, Culinary Festival yang digelar bersama APPBI melibatkan 32 pusat perbelanjaan di 14 kota. Selain itu, program Indonesia Restaurant Months berlangsung pada 7 Oktober–31 Desember 2026 dengan melibatkan 150 restoran di sejumlah destinasi.
Artinya, gastronomi tidak hanya hadir sebagai aktivitas di dalam destinasi.
Ia juga dapat menciptakan alasan spesifik untuk datang pada waktu tertentu.
7. Gastronomi Bukan Cuma Soal Rasa, tetapi Juga Uang yang Berputar di Destinasi
Ini bagian yang sering luput ketika orang membicarakan wisata kuliner.
Ketika wisatawan datang karena makanan, pengeluaran mereka tidak selalu berhenti di restoran.
Mereka dapat menginap lebih lama, mengunjungi pasar, membeli produk UMKM, mengikuti tur, membeli kopi atau rempah, mengunjungi desa wisata, serta menikmati atraksi budaya lainnya.
Karena itu, gastronomi dapat menghubungkan banyak bagian dari ekonomi destinasi.
Kementerian Pariwisata sendiri menempatkan WIG 2026 sebagai salah satu instrumen untuk memperkuat pariwisata berkualitas sekaligus membuka peluang ekonomi bagi pelaku industri dan kuliner lokal. Program tersebut juga mengintegrasikan unsur promosi dan penjualan agar manfaat gastronomi dapat terhubung dengan industri pariwisata.
Dengan kata lain, satu pengalaman makan dapat membuka rantai ekonomi yang jauh lebih panjang.
Dari petani dan produsen, pedagang pasar, UMKM, restoran, hotel, pemandu wisata hingga pelaku ekonomi kreatif.
WIG 2026: Saat Gastronomi Indonesia Mulai Diposisikan sebagai Alasan Bepergian
Perkembangan wisata gastronomi 2026 bukan sekadar soal semakin banyaknya restoran atau makanan yang masuk media sosial.
Ada perubahan yang lebih besar: makanan mulai diposisikan sebagai bagian dari identitas destinasi dan alasan untuk melakukan perjalanan.
Itulah arah yang ingin dibangun melalui WIG 2026.
Rangkaian utama WIG berlangsung di Solo dan Yogyakarta pada 26 September–4 Oktober 2026. Namun programnya berlanjut hingga akhir tahun melalui berbagai kegiatan, termasuk Culinary Festival, Indonesia Restaurant Months, dan chef collaboration.
Bahkan Kementerian Pariwisata secara eksplisit menyebut gastronomi sebagai salah satu daya tarik yang diharapkan dapat menjadi alasan wisatawan memilih Indonesia.
Ini juga menjelaskan mengapa Solo dan Yogyakarta dipilih sebagai pusat WIG 2026.
Keduanya bukan hanya memiliki makanan khas, tetapi juga sejarah, tradisi, pasar, kerajinan, komunitas, dan budaya yang dapat dirangkai menjadi pengalaman perjalanan.
Indonesia Punya Modal Besar—Tantangannya Mengubah Makanan Menjadi Pengalaman
Indonesia tidak kekurangan makanan khas.
Rendang tidak harus berhenti sebagai hidangan.
Kopi tidak harus berhenti sebagai minuman.
Pasar tradisional tidak harus berhenti sebagai tempat belanja.
Resep warisan tidak harus berhenti sebagai menu keluarga.
Semuanya dapat menjadi bagian dari perjalanan.
Dan di situlah perbedaan antara wisata kuliner dan wisata gastronomi menjadi semakin jelas.
Wisata kuliner bisa berfokus pada apa yang kita makan.
Wisata gastronomi membawa kita lebih jauh: dari mana makanan itu berasal, siapa yang membuatnya, bagaimana prosesnya, mengapa makanan itu penting, dan apa hubungannya dengan tempat yang kita kunjungi.
Data Food Travel Monitor 2026 menunjukkan bahwa makanan dan minuman memang semakin penting dalam keputusan perjalanan, sementara survei Agoda memperlihatkan pengalaman kuliner masuk tiga besar motivasi perjalanan wisatawan Asia.
Maka, ketika merencanakan perjalanan berikutnya, mungkin pertanyaannya bukan lagi:
“Di destinasi itu ada apa?”
Melainkan:
“Ada rasa dan cerita apa yang belum pernah saya alami di sana?”
Sebab pada 2026, wisata kuliner sedang bergerak naik kelas.
Bukan sekadar mencari makanan enak, tetapi menjadikan makanan sebagai cara untuk memahami sebuah tempat—satu rasa, satu cerita, dan satu perjalanan pada satu waktu.
(wfta/agoda/kemenpar/*/hm27)
















































