Eropa Makin Panas, 6 Destinasi Wisata yang Makin Menarik di Tengah Tren Coolcation

Eropa Makin Panas, 6 Destinasi Wisata yang Makin Menarik di Tengah Tren Coolcation. (foto ilustrasi:gemini/mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID (6/10/2026) — Gelombang panas membuat liburan musim panas di Eropa tak lagi identik dengan pantai dan terik matahari. Wisatawan kini mulai memburu destinasi sejuk, pegunungan, fjord, dan wilayah utara lewat tren “coolcation”.
Musim panas biasanya menjadi waktu favorit untuk menjelajah Eropa. Namun, ketika suhu ekstrem semakin sering terjadi, sebagian wisatawan mulai mengubah strategi: bukan lagi mencari tempat paling cerah, melainkan destinasi yang memungkinkan mereka tetap nyaman beraktivitas di luar ruangan.
Fenomena ini dikenal sebagai coolcation, gabungan kata cool dan vacation. Konsepnya sederhana: memilih destinasi dengan temperatur lebih sejuk, termasuk kawasan lintang tinggi dan dataran tinggi, terutama ketika wilayah lain mengalami gelombang panas.
Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) mencatat cuaca ekstrem mulai memengaruhi geografi dan musim pariwisata. Destinasi dengan temperatur lebih moderat, wilayah utara, serta kawasan pegunungan berpotensi semakin menarik, sementara wisatawan juga mulai mempertimbangkan perjalanan pada shoulder season.
Bukan Sekadar Mencari Tempat Dingin
Coolcation tidak selalu berarti pergi ke tempat bersalju.
Yang dicari wisatawan adalah kenyamanan termal—suhu yang memungkinkan mereka berjalan kaki, hiking, bersepeda atau menikmati alam tanpa harus berhadapan dengan panas ekstrem.
Perubahan ini menjadi semakin relevan karena Eropa merupakan benua yang mengalami pemanasan paling cepat. Gelombang panas yang semakin intens membuat faktor cuaca ikut memengaruhi keputusan perjalanan.
European Travel Commission (ETC) mencatat meningkatnya perhatian wisatawan terhadap perjalanan pada shoulder season. Norwegia, Finlandia, Islandia, Skotlandia hingga kawasan Alpen menawarkan kombinasi yang semakin dicari: udara lebih sejuk, alam terbuka, dan aktivitas outdoor.
1. Norwegia: Berburu Fjord di Udara Sejuk
Norwegia menjadi salah satu destinasi yang paling sesuai dengan konsep coolcation.
Pada musim panas, banyak wilayah Norwegia memiliki suhu sekitar 12–23°C, meski kondisi berbeda menurut lokasi. Cuaca tersebut cocok untuk hiking, kayaking, bersepeda, hingga menjelajahi fjord.
Daya tarik lainnya adalah midnight sun. Di Norwegia utara, matahari dapat tetap terlihat hingga tengah malam selama periode musim panas.
Menariknya, konsep menikmati alam terbuka sebenarnya bukan tren baru bagi masyarakat Norwegia. Tradisi friluftsliv, atau kehidupan yang dekat dengan alam, sudah menjadi bagian dari budaya setempat.
Lofoten, Tromsø, Bergen, Geirangerfjord dan Flåm menjadi sejumlah kawasan yang relevan untuk wisatawan pencari kesejukan.
2. Finlandia: Danau, Hutan, dan Sauna
Finlandia menawarkan pengalaman coolcation yang berbeda.
Bukan hanya udara sejuk, negara ini mengandalkan kombinasi hutan, danau, sauna dan fenomena matahari tengah malam.
Finlandia memiliki sekitar 188.000 danau menurut Visit Finland. Sementara di Lapland, fenomena Midnight Sun membuat matahari tidak benar-benar terbenam selama berminggu-minggu pada musim panas.
Fakta lainnya tak kalah menarik: Finlandia memiliki lebih dari 3 juta sauna untuk populasi sekitar 5,7 juta orang.
Bagi wisatawan, pengalaman khasnya adalah menginap di cottage, menikmati sauna, lalu berenang atau bersantai di tepi danau.
Di sinilah coolcation Finlandia terasa berbeda: bukan sekadar menghindari panas, tetapi menikmati ritme hidup yang lebih dekat dengan alam.
3. Islandia: Musim Panas dengan Jaket
Jika tujuan utama adalah menjauh dari panas, Islandia menjadi pilihan menarik.
Pada musim panas, temperatur di Islandia umumnya jauh lebih rendah dibanding banyak destinasi Eropa selatan. Pada Agustus, suhu siang hari dapat berada sekitar 10–15°C.
Lanskapnya menjadi bonus: gletser, air terjun, gunung vulkanik, lava field, pantai hitam dan sumber air panas.
Namun ada paradoks: suhu sejuk tidak otomatis berarti sepi. Juni–Agustus tetap menjadi periode sibuk di banyak atraksi Islandia. Karena itu, wisatawan yang ingin menikmati konsep coolcation sekaligus menghindari keramaian dapat mempertimbangkan periode di luar puncak musim.
4. Skotlandia: Highlands untuk Pelarian dari Panas
Skotlandia menawarkan versi coolcation yang lebih dramatis.
Pegunungan Highlands, danau, garis pantai berbatu dan lanskap hijau menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin menikmati alam tanpa panas ekstrem.
Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan: cuaca Skotlandia sangat dinamis. Perubahan kondisi dapat terjadi cepat, terutama di kawasan pegunungan dan pesisir.
Karena itu, jaket tahan air dan pakaian berlapis lebih penting daripada sekadar mengejar ramalan cuaca.
Isle of Skye, Glencoe, Cairngorms dan Loch Ness menjadi pilihan populer untuk menikmati sisi alam Skotlandia.
5. Swiss: Coolcation dengan Naik ke Pegunungan
Swiss memperlihatkan bahwa untuk mendapatkan udara sejuk, wisatawan tidak selalu harus pergi jauh ke utara.
Naik ke tempat yang lebih tinggi juga bisa menjadi jawabannya.
Secara umum, suhu musim panas Swiss berada sekitar 18–28°C, tetapi temperatur turun seiring bertambahnya ketinggian.
Artinya, wisatawan dapat memulai perjalanan di kota atau tepi danau, kemudian naik menuju kawasan pegunungan untuk mendapatkan udara yang lebih dingin.
Zermatt, Grindelwald, Lauterbrunnen, St. Moritz dan Engadin menawarkan kombinasi pegunungan, danau, jalur hiking dan transportasi wisata yang memungkinkan perjalanan tanpa harus mengandalkan mobil.
6. Pegunungan Alpen Austria–Slovenia: Alternatif dari Kota Panas
Fenomena coolcation juga memperkuat daya tarik kawasan Alpen di Austria, Prancis, Italia hingga Slovenia.
Daya tarik utamanya adalah elevasi. Ketika suhu di dataran rendah meningkat, kawasan pegunungan menawarkan kondisi yang relatif lebih moderat.
OECD menyebut destinasi dataran tinggi dan wilayah dengan temperatur lebih nyaman berpotensi mendapatkan keuntungan dari perubahan preferensi wisatawan pada musim panas.
Namun, popularitas tersebut membawa tantangan baru.
Jika semakin banyak wisatawan beralih ke pegunungan pada Juli dan Agustus, destinasi yang sebelumnya dianggap alternatif dapat menghadapi kepadatan, tekanan terhadap infrastruktur, konsumsi air dan kerusakan ekosistem.
Jadi, coolcation bukan berarti sekadar memindahkan kerumunan wisatawan dari pantai ke pegunungan.
Coolcation Bisa Mengubah “High Season”
Salah satu dampak paling menarik dari tren ini adalah perubahan kapan orang bepergian.
Wisatawan dapat memilih April–Mei atau September–Oktober untuk menghindari panas sekaligus keramaian. Sementara musim panas justru dimanfaatkan untuk menjelajahi destinasi utara dan kawasan pegunungan.
European Travel Commission juga mencatat meningkatnya perhatian wisatawan terhadap perjalanan pada shoulder season.
Dengan demikian, masa depan pariwisata Eropa mungkin bukan sekadar soal utara versus selatan, tetapi tentang memilih destinasi berdasarkan kondisi musim.
Dari “Sun Tourism” ke “Comfort Tourism”
Selama bertahun-tahun, industri pariwisata menjual matahari sebagai daya tarik utama.
Kini, kenyamanan mulai menjadi komoditas wisata yang sama pentingnya.
Wisatawan tidak selalu mencari destinasi paling dingin. Mereka mencari tempat yang memungkinkan untuk berjalan kaki lebih lama, mendaki, menikmati alam, tidur nyaman dan menghabiskan waktu di luar ruangan tanpa menghadapi panas berlebihan.
Inilah insight terbesar di balik tren coolcation.
Perubahan iklim tidak hanya mengubah temperatur. Ia berpotensi mengubah cara wisatawan memilih destinasi, waktu perjalanan dan jenis pengalaman yang mereka cari.
Destinasi panas tentu tidak serta-merta ditinggalkan. Namun, perjalanan ke kawasan Mediterania mungkin semakin menarik pada musim semi atau awal musim gugur, sementara musim panas dapat menjadi momentum bagi Norwegia, Finlandia, Islandia, Skotlandia dan Alpen.
Pada akhirnya, coolcation bukan sekadar tren mencari tempat dingin.
Ini adalah perubahan cara wisatawan membaca peta perjalanan: dari mengejar matahari menjadi mengejar kenyamanan.
(oecd/eea/etc/ichunesco/*/hm27)



















































