294.719 Wisatawan ke Parapat hingga September, Okupansi Hotel Malah Anjlok

Lokasi parkir di salah satu hotel di Parapat, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, tampak sepi. (Foto: Indra/Mistar)
Simalungun, MISTAR.ID (7/10/2026) – Hampir 300 ribu kunjungan wisatawan nusantara tercatat di kawasan Parapat, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun, hingga September 2026. Namun, tingginya angka kunjungan itu belum banyak dirasakan pelaku usaha hotel.
Tingkat hunian hotel di Parapat justru anjlok pada September. Rata-rata okupansi disebut turun di bawah 50 persen, setelah pada bulan-bulan sebelumnya masih berada di atas angka tersebut.
Data Dinas Budaya, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) Simalungun mencatat 294.719 kunjungan wisatawan nusantara ke RTP Pantai Bebas dan sejumlah pantai di Parapat sepanjang Januari-September 2026.
Namun, jumlah kunjungan tersebut tidak otomatis membuat wisatawan menginap di Parapat.
Seorang petugas hotel di Parapat, Aritonang, mengatakan minat wisatawan untuk bermalam belakangan semakin rendah. Selain wisatawan, kegiatan rapat dan pertemuan yang biasanya menjadi salah satu sumber tamu hotel juga ikut berkurang.
"Bulan-bulan sebelumnya masih di atas 50 persen, bulan September lalu yang anjlok di bawah 50 persen rata-rata hotel di Parapat," ujarnya, Rabu (7/10/2026).
Menurutnya, pola kunjungan wisatawan kini lebih banyak sekadar datang dan singgah. Setelah mengunjungi lokasi tertentu, wisatawan tidak banyak memiliki alasan untuk tinggal lebih lama di Parapat.
"Terkadang wisatawan berkunjung itu karena ada yang mau dilihat atau disaksikan. Sekarang ini condong kepada persinggahan saja kalau Parapat. Bulan lalu seluruh hotel sangat sepi, okupansi hotel sangat anjlok," katanya.
Kondisi tersebut juga dirasakan pedagang suvenir. Hutajulu mengatakan wisatawan yang datang cenderung tidak berlama-lama karena minimnya kegiatan atau atraksi yang bisa dinikmati.
"Tidak ada yang mau dilihat, jadi tamu hanya datang dan singgah sebentar," ujarnya.
Ia berharap kegiatan yang mampu membuat wisatawan bertahan lebih lama kembali digelar. Salah satu lokasi yang dinilai potensial adalah kawasan Pagoda, karena kegiatan di sana dapat mendorong pengunjung untuk sekaligus menikmati kawasan sekitar.
"Kalaupun ada kegiatan, maunya dilaksanakan di Pagoda, otomatis pengunjung bisa berkeliling," katanya.
Di tengah minimnya event pemerintah, masyarakat setempat mulai mengambil peran. Camat Girsang Sipangan Bolon, Victor Sijabat, mengatakan pemuda dan sanggar di sekitar Parapat kini mulai menggelar kegiatan setiap akhir pekan di RTP Pantai Bebas.
Menurut Victor, kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya memanfaatkan potensi yang masih dimiliki Parapat, meski dukungan anggaran untuk kegiatan besar terbatas.
"Pemuda dan sanggar di sekitar mulai melakukan kegiatan setiap akhir pekan di RTP Parapat. Itulah cara kita memaksimalkan potensi yang ada," ujarnya.
Victor sebelumnya juga mengakui efisiensi anggaran turut memberi dampak terhadap aktivitas pariwisata dan perhotelan di Parapat. Selama ini, kegiatan rapat dan pertemuan yang digelar di hotel ikut menopang tingkat hunian.
"Karena memang selama ini kegiatan rapat dan pertemuan-pertemuan di hotel yang sangat membantu. Sekarang dengan adanya efisiensi sangat mempengaruhi," katanya.
Menurutnya, kondisi Parapat saat ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Memasuki penghujung tahun, kawasan tersebut biasanya mulai ramai, tetapi tahun ini peningkatan aktivitas belum terlihat.
"Iya, sekarang memang sangat sepi. Tahun-tahun sebelumnya kalau sudah memasuki akhir tahun seperti ini biasanya ramai. Sangat berpengaruh memang efisiensi," katanya.
Kondisi tersebut menunjukkan persoalan Parapat bukan hanya soal mendatangkan wisatawan. Dengan kunjungan yang sudah mencapai 294 ribu orang, tantangan berikutnya adalah membuat wisatawan bertahan lebih lama, menginap, dan beraktivitas di kawasan tersebut.

















































