Wednesday, October 7, 2026
home_banner_first
WISATA

Di TEJ 2026, Bali Dipilih 86,2%, Danau Toba 1,5% — Apa yang Sebenarnya Ditunjukkan Data?

Mistar.idKamis, 8 Oktober 2026 pukul 06.00 WIB
di_tej_2026_bali_dipilih_862_danau_toba_15_apa_yang_sebenarnya_ditunjukkan_data

Di TEJ 2026, Bali Dipilih 86,2%, Danau Toba 1,5% — Apa yang Sebenarnya Ditunjukkan Data? (foto ilustrasi:gemini/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (7/10/2026) — Survei di Jepang menunjukkan jurang popularitas yang sangat lebar: Bali dipilih 86,2 persen responden, sementara Danau Toba hanya 1,5 persen. Strategi “Bali + 1” kini menjadi peluang untuk membawa wisatawan Jepang menjelajah destinasi lain.

Indonesia punya banyak destinasi kelas dunia. Namun, bagi pasar Jepang, nama Indonesia masih nyaris identik dengan satu tempat: Bali.

Temuan Kementerian Pariwisata di Tourism Expo Japan (TEJ) 2026 memperlihatkan betapa kuatnya dominasi tersebut. Dari 1.614 pengunjung Paviliun Wonderful Indonesia yang mengikuti survei, sebanyak 86,2 persen memilih Bali sebagai destinasi yang paling diminati.

Jaraknya dengan destinasi lain sangat lebar. Pulau Komodo dan Labuan Bajo berada di posisi kedua dengan 5,3 persen, Borobudur 4 persen, Raja Ampat 1,7 persen, Danau Toba 1,5 persen, dan Lombok 1,2 persen.

Yang lebih menarik, 63,3 persen responden belum pernah berkunjung ke Indonesia. Angka tersebut menunjukkan masih terdapat calon wisatawan di antara pengunjung TEJ yang belum memiliki pengalaman berkunjung ke Indonesia.

Bali Terlalu Kuat, atau Destinasi Lain Kurang Dikenal?

Data tersebut menunjukkan persoalan utama pariwisata Indonesia di Jepang bukan sekadar mendatangkan wisatawan.

Masalahnya adalah ke mana mereka pergi setelah memilih Indonesia?

Bali sudah memiliki brand yang sangat kuat. Bagi wisatawan yang baru pertama kali datang, Bali menawarkan ekosistem wisata yang relatif mudah dipahami: pantai, budaya, kuliner, hotel, wellness, hingga berbagai pilihan aktivitas.

Sebaliknya, nama seperti Danau Toba belum memiliki tingkat awareness yang sama.

Padahal, Danau Toba menawarkan sesuatu yang berbeda. Kawasan ini merupakan kaldera vulkanik raksasa dengan Pulau Samosir sebagai salah satu pusat pengalaman budaya Batak, lengkap dengan desa tradisional, situs sejarah, rumah adat, dan museum.

Jadi, persoalannya bukan Danau Toba tidak punya daya tarik.

Persoalannya adalah bagaimana membuat wisatawan Jepang mengenal, memahami, lalu memasukkan Danau Toba ke dalam itinerary mereka.

Bukan Mengalahkan Bali, tetapi “Bali + 1”

Kementerian Pariwisata tampaknya membaca persoalan tersebut dengan pendekatan yang cukup realistis.

Alih-alih berusaha membuat Danau Toba, Labuan Bajo, atau destinasi lain menggeser Bali, pemerintah justru ingin memanfaatkan popularitas Bali sebagai pintu masuk menuju destinasi lain.

Kemenpar mendorong paket wisata tematik yang mengombinasikan destinasi populer dengan Labuan Bajo, Yogyakarta, Manado, Danau Toba, Lombok, dan destinasi unggulan lainnya.

Inilah logika “Bali + 1”.

Wisatawan Jepang yang sudah memilih Bali tidak harus diminta mengganti destinasi. Mereka cukup diajak menambahkan satu pengalaman baru.

Misalnya, Bali + Danau Toba.

Beberapa hari di Bali bisa dilanjutkan dengan perjalanan ke Sumatera Utara untuk menikmati lanskap Danau Toba, Pulau Samosir, budaya Batak, kuliner lokal, hingga suasana pegunungan.

Model seperti ini lebih masuk akal daripada memaksa destinasi yang belum dikenal bersaing langsung dengan Bali.

Labuan Bajo Sudah 5,3 Persen, Mengapa Toba Baru 1,5 Persen?

Data survei juga memperlihatkan bahwa Labuan Bajo dan Pulau Komodo mulai memiliki posisi yang lebih kuat di pasar Jepang.

Angkanya memang masih jauh dari Bali, tetapi 5,3 persen versus 1,5 persen menunjukkan adanya perbedaan awareness yang cukup besar.

Secara produk, Labuan Bajo memiliki sejumlah ikon yang relatif mudah dikomunikasikan secara visual—Komodo, kepulauan tropis, wisata bahari, dan kapal pinisi. Namun, survei TEJ sendiri tidak mengukur alasan di balik pilihan 5,3 persen tersebut.

Danau Toba memiliki karakter berbeda.

Daya tariknya bukan hanya pemandangan danau, melainkan perpaduan alam, geologi, budaya dan kehidupan masyarakat.

Pemerintah sendiri menempatkan Danau Toba sebagai salah satu destinasi prioritas dengan tema yang mencakup alam, geologi, budaya, dan urban heritage.

Ini sebenarnya bisa menjadi keunggulan.

Danau Toba tidak perlu menjadi “Bali kedua”.

Danau Toba harus menjadi pengalaman yang tidak bisa didapatkan wisatawan di Bali.

Tantangan Besar Danau Toba: Bukan Cuma Promosi, tetapi Akses

Di sinilah persoalan Danau Toba menjadi lebih konkret.

Daya tarik wisata saja tidak cukup. Wisatawan harus bisa mencapai destinasi dengan mudah dan nyaman.

Dari Bandara Kualanamu, perjalanan darat menuju kawasan Danau Toba dapat memakan waktu sekitar 4–5 jam, tergantung rute dan kondisi lalu lintas. Alternatifnya adalah Bandara Sisingamangaraja XII atau Silangit, yang lebih dekat ke sejumlah kawasan Toba.

Namun, persoalan konektivitas masih menjadi perhatian pelaku industri. Pada 2025, pelaku pariwisata di Samosir menilai keterbatasan akses menjadi salah satu hambatan wisatawan mancanegara, terutama karena perjalanan dari Kualanamu menuju Samosir masih membutuhkan waktu berjam-jam.

Ini membuat “Bali + Danau Toba” bukan sekadar persoalan membuat paket perjalanan.

Rute penerbangan, waktu tempuh, transportasi lanjutan, jadwal perjalanan, hingga kemudahan berpindah destinasi harus terasa sederhana bagi wisatawan Jepang.

Sebab wisatawan bisa saja tertarik dengan Danau Toba setelah melihat promosinya.

Tetapi jika perjalanan menuju ke sana dianggap terlalu rumit, ketertarikan itu bisa berhenti di layar.

Danau Toba Punya Modal yang Tak Dimiliki Bali

Ironisnya, justru di balik angka 1,5 persen itu terdapat peluang besar.

Danau Toba punya cerita yang sangat berbeda dari Bali.

Ada bentang kaldera vulkanik, Pulau Samosir, budaya Batak, desa tradisional, kuliner, trekking, kayak, hingga pengalaman menikmati lanskap dari kawasan dataran tinggi.

Bahkan sejumlah kawasan seperti Huta Ginjang menawarkan panorama Danau Toba dari ketinggian dan dapat dicapai lebih dekat melalui Silangit.

Jika dikemas dengan tepat, pengalaman tersebut bisa menjadi alasan wisatawan Jepang memperpanjang perjalanan mereka.

Bali menawarkan magnet yang sudah dikenal. Danau Toba menawarkan alasan untuk menemukan sisi Indonesia yang berbeda.

63,3 Persen Belum Pernah ke Indonesia, Ini Peluang Besarnya

Ada satu angka dari survei TEJ 2026 yang justru lebih penting daripada persentase destinasi.

Sebanyak 63,3 persen responden belum pernah berkunjung ke Indonesia.

Ini berarti pasar Jepang bukan pasar yang sudah sepenuhnya jenuh.

Masih ada calon wisatawan yang belum memiliki pengalaman langsung dengan Indonesia.

Ketika mereka pertama kali mencari informasi, Bali kemungkinan besar menjadi nama yang paling mudah ditemukan dan dikenali.

Karena itu, strategi “Bali + 1” dapat menjadi jembatan.

Bali menarik wisatawan masuk. Destinasi lain membuat mereka tinggal lebih lama.

Jika wisatawan memperpanjang masa tinggal, maka manfaat ekonomi perjalanan juga berpotensi tersebar ke lebih banyak daerah—bukan hanya terkonsentrasi di Pulau Dewata.

Dari Bali ke Danau Toba, Tantangannya Sekarang Ada di “+1”

Survei Jepang tersebut seharusnya tidak dibaca sebagai kekalahan Danau Toba atas Bali.

Justru data itu menunjukkan besarnya pekerjaan rumah sekaligus peluang.

Bali sudah menang dalam hal awareness.

Danau Toba belum.

Maka pertanyaannya bukan lagi “bisakah Danau Toba mengalahkan Bali?”

Pertanyaan yang jauh lebih realistis adalah:

“Bisakah wisatawan Jepang yang sudah memilih Bali dibuat tertarik menambahkan Danau Toba dalam perjalanan mereka?”

Jika jawabannya iya, angka 1,5 persen bukanlah titik akhir.

Itu baru titik awal.

Dan bagi Indonesia, keberhasilan strategi pariwisata Jepang mungkin bukan ketika Bali kehilangan mahkotanya, melainkan ketika wisatawan yang datang karena Bali akhirnya pulang dengan cerita tentang Danau Toba, Labuan Bajo, Borobudur, Lombok, atau destinasi Indonesia lainnya.

Bali tetap menjadi magnet. Tantangannya sekarang adalah membuat magnet itu menarik wisatawan lebih jauh.

(kemenpar/visitindonesia/bpodt/kompastravel/*/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN