Tuesday, October 6, 2026
home_banner_first
KULINER

Boikot Produk Indonesia di Malaysia Viral, Indomie hingga Kenangan Coffee Diseret

Mistar.idSelasa, 6 Oktober 2026 pukul 18.25 WIB
boikot_produk_indonesia_di_malaysia_viral_indomie_hingga_kenangan_coffee_diseret

Boikot Produk Indonesia di Malaysia Viral, Indomie hingga Kenangan Coffee Diseret. (foto ilustrasi:gemini/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (6/10/2026) — Seruan boikot produk Indonesia di Malaysia mendadak merembet dari perang komentar di media sosial ke merek-merek kuliner yang sehari-hari dikonsumsi masyarakat Negeri Jiran.

Indomie, Kenangan Coffee, Ai-Cha, MOMOYO, Sari Ratu hingga sejumlah merek makanan Indonesia lainnya masuk dalam daftar yang disebarkan warganet Malaysia melalui Threads pada 5 Oktober 2026. Unggahan tersebut kemudian ramai diperbincangkan dan mendapat beragam respons dari pengguna media sosial.

Namun, ada satu hal penting: Tidak ditemukan bukti adanya larangan resmi pemerintah Malaysia terhadap produk Indonesia terkait isu tersebut.

Seruan tersebut berasal dari warganet dan muncul di tengah memanasnya percakapan Indonesia-Malaysia di media sosial. Adapun klaim mengenai pemicu berupa konten yang dianggap menghina Raja Malaysia belum terverifikasi secara independen.

Justru di sinilah persoalannya menjadi menarik. Jika seruan boikot produk Indonesia Malaysia benar-benar diikuti konsumen, siapa yang akan mengambil pasar yang ditinggalkan?

Indomie hingga Kenangan Coffee Masuk Daftar Boikot

Daftar yang beredar tidak hanya menyasar produk kemasan. Sejumlah jaringan restoran dan minuman Indonesia yang telah membuka bisnis di Malaysia juga ikut diseret.

Di antaranya Kenangan Coffee, Ai-Cha Ice Cream & Tea, MOMOYO, J.CO Donuts & Coffee, Sari Ratu, Ayam Bakar Wong Solo, Ayam Penyet AP/Waroeng Penyet, Rumah Makan Cibiuk, serta produk Indofood yang mencakup Indomie.

Menariknya, sebagian merek tersebut sudah memiliki gerai dan pelanggan di Malaysia.

Artinya, isu ini bukan lagi sekadar soal produk Indonesia yang dijual di luar negeri. Ada pekerja, franchisee, pemasok, pemilik lokasi, hingga mitra bisnis lokal yang ikut berada dalam ekosistem merek-merek tersebut.

Kenapa Indomie Ikut Diseret?

Nama Indomie Malaysia menjadi salah satu yang paling mencuri perhatian.

Berbeda dengan merek F&B yang relatif baru berekspansi, Indomie sudah lama hadir di Malaysia. Situs resmi Indomie Malaysia menyebut produknya telah hadir di Negeri Jiran sejak 1997 dan tersedia melalui berbagai supermarket serta hypermarket.

Karena itu, jika konsumen Malaysia benar-benar ingin menghindari Indomie, mereka sebenarnya memiliki pilihan lain. Mamee, misalnya, merupakan pemain lokal yang kuat di kategori mi instan.

Namun, tersedianya alternatif tidak otomatis berarti konsumen akan berpindah.

Rasa, harga, kebiasaan, ketersediaan produk dan loyalitas terhadap merek ikut menentukan keputusan pembelian. Inilah alasan mengapa dampak boikot tidak bisa dihitung hanya dengan melihat jumlah merek lokal yang tersedia.

Kenangan Malaysia Berhadapan dengan Pemain Lokal

Seruan boikot juga menyasar Kenangan Coffee Malaysia.

Jaringan kopi asal Indonesia tersebut telah berekspansi ke pasar Malaysia dan berhadapan dengan kompetitor lokal yang sangat kuat, salah satunya ZUS Coffee.

Jika konsumen memutuskan meninggalkan Kenangan Coffee, pilihan penggantinya sebenarnya sangat banyak. Namun, lagi-lagi, perpindahan merek tidak otomatis terjadi satu banding satu.

Konsumen bisa memilih kedai kopi lain, membuat kopi sendiri, menggunakan layanan pesan-antar, atau bahkan mengurangi pembelian.

Dengan kata lain, turunnya penjualan sebuah merek tidak selalu berarti kompetitornya menerima tambahan penjualan dalam jumlah yang sama.

Ai-Cha dan MOMOYO Punya Banyak Alternatif

Di kategori minuman dan dessert, persaingannya bahkan lebih ketat.

Ai-Cha dapat berhadapan dengan jaringan lokal seperti Tealive, sedangkan MOMOYO bermain di ruang yang juga ditempati merek seperti Coolblog.

Konsumen Malaysia tidak akan kekurangan pilihan jika ingin mengganti produk.

Namun, justru karena pasar ini sangat kompetitif, faktor seperti harga promo, lokasi gerai, menu viral, rasa dan pengalaman konsumen bisa lebih menentukan daripada asal negara merek.

Hal itu membuat keberhasilan sebuah seruan boikot bergantung pada apakah sentimen nasionalisme mampu mengalahkan kebiasaan konsumen.

Sari Ratu Lebih Sulit Digantikan

Berbeda dari mi instan atau minuman kekinian, Sari Ratu menjual pengalaman kuliner Indonesia melalui masakan Padang.

Konsumen yang tidak lagi membeli Sari Ratu memang bisa mencari restoran lain. Tetapi produk penggantinya tidak sesederhana mengganti satu merek mi dengan merek lain.

Ada faktor cita rasa, menu, suasana, lokasi dan preferensi pelanggan.

Ini memperlihatkan bahwa dampak boikot produk Indonesia Malaysia bisa berbeda-beda tergantung kategori bisnis.

Produk yang mudah digantikan cenderung lebih rentan terhadap perpindahan konsumen. Sebaliknya, merek dengan pelanggan loyal atau pengalaman produk yang khas bisa lebih tahan.

Boikot Viral Belum Tentu Menjadi Boikot Konsumen

Besarnya perhatian di media sosial juga perlu dibaca secara hati-hati.

Sebuah unggahan dapat memperoleh ratusan ribu tayangan, ribuan komentar atau dibagikan berulang kali. Tetapi angka tersebut tidak otomatis menunjukkan berapa banyak orang yang benar-benar berhenti membeli produk.

Ada jarak yang cukup panjang antara:

unggahan viral → dukungan boikot → konsumen benar-benar berhenti membeli → penjualan turun → bisnis mengurangi operasional.

Karena itu, terlalu dini menyimpulkan bahwa produk Indonesia akan kehilangan pasar Malaysia hanya berdasarkan viralnya kampanye di media sosial.

Yang Bisa Rugi Bukan Hanya Perusahaan Indonesia

Ada ironi lain dalam seruan boikot ini.

Sebagian bisnis Indonesia di Malaysia menggunakan model waralaba atau melibatkan operator dan pekerja lokal. Karena itu, jika penjualan turun, dampaknya tidak berhenti pada perusahaan asal Indonesia.

Pekerja, pemilik gerai, pemasok, pemilik properti hingga mitra usaha di Malaysia juga berpotensi terkena dampaknya.

Dengan demikian, boikot sebuah merek asing yang sudah beroperasi secara lokal tidak sesederhana “merugikan negara asal”.

Aktivitas ekonominya sudah saling terhubung.

Siapa yang Menang Jika Boikot Berhasil?

Jika konsumen Malaysia benar-benar meninggalkan produk Indonesia, pemain lokal tentu memiliki peluang.

Mamee bisa memperkuat posisi di kategori mi instan. ZUS Coffee dan jaringan kopi Malaysia lainnya dapat memperoleh pelanggan baru. Tealive dan pemain minuman lokal juga berpotensi mendapatkan limpahan konsumen.

Tetapi pemenangnya belum tentu selalu kompetitor langsung.

Sebagian konsumen mungkin memilih produk lain, mengurangi konsumsi, atau membelanjakan uangnya di kategori berbeda.

Inilah fakta ekonomi yang sering luput dalam perdebatan boikot: uang yang keluar dari satu merek tidak otomatis masuk ke pesaingnya.

Boikot Produk Indonesia di Malaysia: Efeknya Masih Harus Dilihat

Untuk saat ini, yang terjadi adalah seruan boikot oleh warganet Malaysia, bukan kebijakan resmi pemerintah Malaysia.

Belum ada dasar untuk menyebut produk makanan Indonesia secara umum dilarang beredar di Malaysia.

Dampak ekonominya juga belum bisa diukur hanya dari ramainya percakapan di media sosial.

Namun, isu ini tetap penting bagi perusahaan Indonesia yang berekspansi ke luar negeri. Sebab, ketika merek sudah menjadi bagian dari pasar lokal, reputasinya tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga oleh bagaimana konsumen memandang identitas dan hubungan negara asalnya.

Pada akhirnya, boikot produk Indonesia Malaysia akan diuji bukan oleh seberapa viral ajakannya di Threads, melainkan oleh satu hal yang jauh lebih konkret: apakah konsumen benar-benar berhenti membeli.

Dan jika mereka benar-benar berhenti, pertarungan berikutnya bukan lagi antara Indonesia dan Malaysia di media sosial, melainkan siapa yang paling cepat merebut hati dan dompet konsumen.

(detikfood/malaysiacustom/aff/*/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN