Warung Jongkok di Pojok Jalan Diponegoro Siantar Selalu Bikin Rindu

Warung Jongkok di Jalan Diponegoro Kota Pematangsiantar. (Foto: Abdi/Mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID – Asap tipis dari bubur kacang hijau naik pelan, bikin pagi di pojok Jalan Diponegoro terasa hangat, Sabtu (8/8/2026).
Sudut Kelurahan Proklamasi sudah riuh sedari subuh, meski matahari masih malu-malu keluar. Bau santan gurih bercampur daun pandan langsung menyerang hidung, pertanda sarapan sudah menunggu.
Warung Jongkok atau orang di sini biasa menyebutnya Warjok hanya menyediakan satu menu. Tapi, malah bikin orang rindu balik lagi dan lagi.
Menurut masyarakat setempat, Warjok itu kayak lemari penyimpan kenangan. Orang datang dan pergi, tapi ceritanya muter terus dari generasi ke generasi.
Warga sudah mengantre lama demi semangkuk bubur kacang hijau panas seharga Rp5.000. Jika ingin menambah pulut, pembeli bisa merogoh biaya Rp8.000. Disediakan pula menu tambahan gorengan seharga Rp1.000.
Warung ini sudah berjualan sejak 1972. Zulkarnaem, 62 tahun, merupakan generasi kedua yang menjalankan bisnis ini. Zul yang mudah senyum, mengatakan ia melanjutkan usaha Warjok setelah ayahnya meninggal.
Bagi Zulkarnaem, dua hal yang tidak boleh berubah dalam menjalankan bisnis kuliner, yaitu rasa dan cara melayani pembeli.
“Dari dulu sampai sekarang, ya bangunannya gitu-gitu aja, rasanya juga nggak pernah beda,” kata Zul sambil ngaduk bubur.
Diceritakannya, nama Warung Jongkok muncul bukan karena alasan marketing. “Awal buka, tempatnya kecil banget, kursi aja nggak ada, jadi semua makan sambil jongkok. Dari situ deh, namanya nempel sampai sekarang,” ucapnya.
Warjok nggak pernah benar-benar kosong. Mulai buka jam 07.00 WIB sampai sehabisnya. “Biasanya belum sampai jam sebelas sudah ludes. Kalau sudah habis, saya tutup aja, nggak usah nunggu jam sebelas,” kata Zul lagi.
Buat pelanggan setia kayak Andra, 40 tahun, Warjok itu bukan sekadar tempat sarapan. Duduk sambil makan bubur kacang hijau hangat pakai pisang goreng mengingatkannya pada masa kecil.
“Saya sudah makan di sini sejak SD. Sekarang anak saya sudah tiga yang kuliah tiga,” kata Andra.
“Rasanya nggak pernah berubah. Selalu buat rindu. Dulu sering makan di sini bareng teman, saudara, bahkan sama pacar yang sekarang jadi istri,” lanjutnya. (Abdi)



















