Pemerintah Prioritaskan Penanganan Karhutla di Enam Provinsi

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih meluas di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau. (Foto: Antara Foto/Rony Muharrman)
Jakarta, MISTAR.ID - Pemerintah Indonesia memprioritaskan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di enam provinsi yang dinilai memiliki risiko tinggi. Keenam provinsi tersebut yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Riau, Sumatera Selatan dan Jambi.
Penetapan wilayah prioritas tersebut menjadi salah satu hasil Rapat Koordinasi Penanganan Darurat Karhutla 2026 yang digelar pada Jumat (21/8/2026).
“Pemantauan dan pengawasan ketat di daerah menjadi krusial untuk mencegah eskalasi titik api dan dampak lingkungan yang lebih luas,” demikian salah satu simpulan rapat tersebut.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) belum dapat dilakukan hingga akhir Agustus 2026 karena pertumbuhan awan hujan masih sangat minim.
Dengan kondisi tersebut, penanganan karhutla saat ini mengandalkan operasi satuan tugas (satgas) darat dan udara.
BNPB menyebut satgas darat menjadi ujung tombak dalam menekan luas lahan yang terbakar. Karena itu, forum koordinasi pimpinan daerah (forkopimda) diminta memperkuat dukungan berupa logistik, peralatan dan personel.
Sementara itu, satgas udara berfungsi mendukung operasi satgas darat. Saat ini telah disiapkan 38 unit armada udara yang terdiri dari 13 helikopter atau pesawat patroli dan 25 armada water bombing.
Sejumlah armada dapat digunakan secara hybrid untuk patroli dan OMC maupun patroli dan water bombing, sesuai kebutuhan di lapangan.
Pemerintah juga menegaskan akan mencabut secara permanen peraturan daerah yang masih membenarkan pembukaan lahan dengan metode membakar.
Di sisi lain, pantauan titik panas atau hotspot dan transboundary haze pada 1-20 Agustus 2026 menunjukkan adanya potensi penyebaran asap akibat perubahan pola angin.
Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI) menyebut peralihan musim menyebabkan angin dominan berembus dari tenggara ke barat sehingga berpotensi mendorong penyebaran karhutla.
“Sejak 6 Agustus terlihat adanya sebaran asap yang sudah melewati batas negara Indonesia-Malaysia,” tulis BNPB mengutip keterangan Bakom RI, Sabtu (22/8/2026).
Dampak asap karhutla bahkan dirasakan hingga Malaysia. Pemerintah negara bagian Sarawak sebelumnya memerintahkan penutupan hampir 600 sekolah di 10 distrik akibat kondisi udara yang terdampak asap karhutla dari Kalimantan.
Departemen Pendidikan Sarawak menyatakan 591 sekolah ditutup mulai Kamis (20/8/2026). Penutupan tersebut mencakup sekolah dasar dan menengah di Kuching, Padawan Bau, Lundu, Samarahan, Simunjan, Serian, Sri Aman, Lubok Antu dan Betong.
Sedikitnya 197.323 siswa terdampak akibat penutupan sekolah tersebut. Mereka terdiri dari 107.590 siswa dari 509 sekolah dasar dan 89.733 siswa dari 82 sekolah menengah.
Selama sekolah ditutup, pembelajaran dari rumah diterapkan untuk memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung. (hm25/CNN Indonesia)
PREVIOUS ARTICLE
Banyak Penerbangan Dibatalkan Akibat Karhutla Kalimantan














