Penyakit Alzheimer Belum Ada Obatnya, yang Digerogoti adalah Otak

Visual ini menggambarkan tentang lansia sebagai kelompok rentan. Kerusakan otak akibat plak beta-amiloid dan serabut kusut, gejala utama yang perlu dikenali sejak dini. (Foto ilustrasi: maris/meta/mistar.id)
Jakarta, MISTAR.ID (22/9/2026) - Setiap 21 September diperingati sebagai Hari Alzheimer Sedunia. Momentum ini menjadi pengingat untuk meningkatkan kesadaran tentang Alzheimer dan demensia, termasuk pentingnya mengenali gejala sejak dini dan mendapatkan diagnosis lebih awal.
Tahun ini, kampanye World Alzheimer's Month mengusung pesan "The Earlier You Know, The More You Can Do: A Dementia Diagnosis Matters".
Pesan tersebut menekankan pentingnya deteksi dini, terutama karena Alzheimer lebih banyak menyerang lanjut usia.
Melansir CNN Indonesia yang mengutip ANTARA, dikatakan, Indonesia sendiri telah memasuki fase ageing population, yakni jumlah penduduk lanjut usia yang terus meningkat. Kondisi ini membuat perhatian terhadap penyakit terkait usia, termasuk Alzheimer dan demensia, semakin penting.
Lebih 2 Juta Kasus Demensia di Indonesia
Jumlah lansia di Indonesia terus bertambah dan berdampak pada peningkatan kasus demensia.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Imran Pambudi, mengatakan jumlah kasus demensia diperkirakan meningkat seiring bertambahnya populasi lansia.
"Pada 2025 jumlah lansia usia 60 tahun ke atas diperkirakan mencapai 34 juta atau 11,9 persen dari total populasi. Estimasi menunjukkan lebih dari 2 juta kasus demensia pada 2025, dengan Alzheimer menjadi bentuk dominan dan menyumbang lebih dari 60 persen dari total kasus demensia nasional," kata Imran, dikutip dari Antara.
Angka tersebut merupakan perkiraan, bukan jumlah pasti penderita yang telah terdiagnosis Alzheimer. Kemenkes dalam laman resminya mencatat sekitar 1,2 juta orang dengan demensia pada 2016. Jumlah itu diproyeksikan meningkat menjadi 2 juta pada 2030 dan 4 juta pada 2050.
Data Kemenkes dalam publikasi Infarkes Edisi I 2025 juga menunjukkan hasil awal program Cek Kesehatan Gratis (CKG) mencatat 32,36 persen lansia mengalami gangguan kognitif. Namun, gangguan kognitif tidak selalu berarti Alzheimer dan memerlukan pemeriksaan medis lebih lanjut.
Alzheimer dan Demensia, Apa Bedanya?
Alzheimer dan demensia sering dianggap sama, padahal berbeda. WHO menjelaskan demensia adalah istilah umum untuk berbagai penyakit yang menyebabkan penurunan fungsi otak, seperti daya ingat, kemampuan berpikir, berkomunikasi, hingga aktivitas sehari-hari.
Sementara Alzheimer adalah salah satu penyebab demensia yang paling umum. WHO memperkirakan Alzheimer menyumbang 60 - 70 persen dari seluruh kasus demensia.
Secara global, sekitar 57 juta orang hidup dengan demensia pada 2021. WHO juga memperkirakan hampir 10 juta kasus baru terjadi setiap tahun.
Demensia bukan bagian normal dari penuaan. Risikonya memang meningkat seiring usia, tetapi menjadi lansia tidak berarti pasti mengalami demensia.
Alzheimer Belum Bisa Disembuhkan
Alzheimer menyebabkan sel-sel saraf di otak mengalami kerusakan secara bertahap. Salah satunya terkait penumpukan protein beta-amiloid yang membentuk plak di sekitar sel saraf dan protein tau yang membentuk serabut kusut di dalam sel saraf. Kondisi ini mengganggu komunikasi antarsel saraf.
Seiring waktu, sel saraf dapat rusak dan mati. Salah satu bagian otak yang terdampak sejak awal adalah hipokampus, yang berperan penting dalam pembentukan dan penyimpanan ingatan. Karena itu, gangguan daya ingat sering menjadi tanda awal.
Alzheimer tidak hanya membuat seseorang mudah lupa. Saat penyakit berkembang, penderita dapat mengalami kesulitan berpikir, memecahkan masalah, berbahasa, mengambil keputusan, hingga melakukan aktivitas sehari-hari. Gejalanya semakin berat dari waktu ke waktu dan berdampak tidak hanya pada penderita, tetapi juga keluarga dan pendamping.
Hingga kini Alzheimer belum dapat disembuhkan. Pengobatan dan terapi yang tersedia ditujukan untuk mengendalikan gejala, memperlambat perkembangan penyakit pada kondisi tertentu, serta mempertahankan kualitas hidup pasien.
Hari Alzheimer Sedunia pada 21 September bukan sekadar pengingat angka kasus, tetapi juga pengingat bahwa Alzheimer dan demensia membawa perubahan besar bagi penderita dan keluarga. Dengan mengenali gejala dan memahami perbedaannya, masyarakat diharapkan tidak lagi menganggap penurunan fungsi kognitif sebagai hal yang wajar karena usia.(hm02)
PREVIOUS ARTICLE
Jangan Cuma Dikukus! 10 Sayuran Ini Dianjurkan Untuk DipanggangBERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER








































