Saturday, October 24, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Implan Gigi Bisa Ganggu Sistem Kekebalan Tubuh

Mistar.idSabtu, 24 Oktober 2026 pukul 07.30 WIB
implan_gigi_bisa_ganggu_sistem_kekebalan_tubuh

Ilustrasi: Implan gigi bisa mengganggu sistem kekebalan tubuh. (foto: Nano Banana/Mistar)

New York, MISTAR.ID - Infeksi di sekitar implan gigi ternyata tidak hanya disebabkan oleh bakteri. Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa partikel titanium mikroskopis yang terlepas dari permukaan implan dapat mengganggu sistem kekebalan tubuh, memicu peradangan berkepanjangan, hingga merusak tulang rahang.

Dilansir Science Daily, Jumat (23/10/2026), temuan yang dipublikasikan dalam jurnal PNAS Nexus ini berasal dari penelitian para ilmuwan Rutgers School of Dental Medicine. Penelitian tersebut menjelaskan mekanisme yang membuat peri-implantitis, yakni infeksi pada jaringan di sekitar implan gigi, sulit diatasi dengan antibiotik.

Diperkirakan 10 hingga 20 persen pasien implan mengalami kondisi ini. Meski bakteri penyebabnya serupa dengan bakteri pada periodontitis atau penyakit gusi di sekitar gigi alami, pengobatan antibiotik pada infeksi implan berhasil pada kurang dari separuh kasus.

Penelitian yang dipimpin Georgios Kotsakis menunjukkan bahwa bakteri pada permukaan implan membentuk biofilm asam yang secara perlahan merusak titanium. Proses ini melepaskan miliaran partikel mikroskopis ke jaringan di sekitarnya.

Partikel juga dapat terlepas akibat pembersihan gigi menggunakan instrumen logam yang menggores permukaan implan.

Di dalam jaringan gusi, partikel titanium menarik lipopolisakarida (lipopolysaccharide atau LPS), yakni toksin bakteri yang memicu respons makrofag. Sel imun ini bertugas menelan dan menghancurkan bakteri, tetapi tidak mampu mencerna titanium.

Akibatnya, makrofag terjebak dalam kondisi peradangan berkepanjangan dan menghasilkan molekul pemicu peradangan, termasuk interleukin-1 beta (IL-1β). Respons ini merusak tulang penyangga implan sekaligus melemahkan kemampuan tubuh melawan bakteri.

Dalam percobaan laboratorium, makrofag yang terpapar partikel titanium menelan bakteri dalam jumlah kurang dari separuh kemampuan sel yang tidak terpapar.

“Partikel-partikel ini seperti magnet kecil yang menarik toksin bakteri dan membajak sistem kekebalan tubuh, sehingga menghalanginya membersihkan bakteri,” kata Kotsakis. “Ini menciptakan kombinasi sempurna yang membuat infeksi sulit diatasi dengan antibiotik.”

TRPC1 Jadi Target Pengobatan Baru

Peneliti mengidentifikasi TRPC1, saluran kalsium pada membran sel, sebagai bagian penting dari mekanisme peradangan tersebut.

Penelitian ini melibatkan pemeriksaan sampel jaringan manusia, pengujian sel imun di laboratorium, serta percobaan menggunakan tikus yang direkayasa secara genetik.

Ketika TRPC1 dinonaktifkan pada tikus, perkembangan penyakit dapat dicegah. Tikus tersebut mengalami abses lebih kecil, menghasilkan lebih sedikit molekul pemicu peradangan, dan memiliki kemampuan lebih baik untuk membersihkan bakteri.

“Untuk pertama kalinya, kami menunjukkan mengapa semua pengobatan antibiotik yang bekerja di sekitar gigi tidak bekerja pada implan. Sekarang setelah mengetahui penyebabnya, kami dapat mulai mengembangkan terapi,” ujar Kotsakis.

Dengan dukungan pendanaan dari National Institutes of Health, tim peneliti kini mengevaluasi kandidat obat yang menargetkan jalur molekuler tersebut pada sel manusia. Namun, pendekatan ini masih dalam tahap penelitian dan belum tersedia sebagai terapi bagi pasien.

Peri-implantitis diperkirakan memengaruhi hingga satu dari lima penerima implan gigi dan menimbulkan beban biaya kesehatan global lebih dari US$1 miliar per tahun.

Sementara itu, pembersihan profesional secara rutin tetap penting untuk mencegah infeksi. Penggunaan alat pengikis logam yang biasa digunakan pada gigi alami dapat menggores permukaan titanium dan mempercepat pelepasan partikel.

Sekitar satu dekade lalu, penggunaan instrumen yang sama untuk membersihkan gigi alami dan implan masih lazim dilakukan. Penelitian Rutgers bersama ilmuwan lain kemudian menunjukkan risiko kerusakan permukaan titanium akibat metode tersebut. Karena itu, metode pembersihan nonabrasif menjadi pilihan untuk membantu menjaga kondisi implan.

Temuan ini membuka peluang pengembangan terapi yang tidak hanya menargetkan bakteri, tetapi juga mekanisme peradangan yang menyebabkan kerusakan tulang di sekitar implan gigi. (*)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN