Thursday, October 8, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

AI Indonesia Diburu, Listrik Jadi Tantangan Besarnya

Mistar.idKamis, 8 Oktober 2026 pukul 19.54 WIB
ai_indonesia_diburu_listrik_jadi_tantangan_besarnya

AI Indonesia Diburu, Listrik Jadi Tantangan Besarnya. (foto ilustrasi:gemini/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (8/10/2026) — Ambisi Indonesia menjadi basis AI dan data center di Asia Tenggara menghadapi satu persoalan yang tidak bisa diselesaikan dengan Graphics Processing Unit (GPU) atau Unit Pemrosesan Grafis: listrik.

Ketika kecerdasan buatan (AI) mendorong pembangunan pusat data dengan kebutuhan komputasi semakin besar, kebutuhan energi ikut meningkat. Tantangannya bukan sekadar menyediakan listrik dalam jumlah besar, tetapi memastikan pasokan tersebut andal, berkualitas, dapat diperluas, kompetitif, dan semakin rendah karbon.

PT PLN (Persero) pada September 2026 mencatat 159 pelanggan data center dengan konsumsi listrik mencapai 2.378 GWh dan kapasitas tersambung sekitar 2.038 MVA. Sekitar 99 persen kapasitas tersebut masih terkonsentrasi pada sistem kelistrikan Jawa-Madura-Bali (Jamali), meskipun pembangunan data center mulai meluas ke Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Angka tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan energi data center sudah menjadi bagian penting dari perencanaan kelistrikan Indonesia.

Namun, perlu dibedakan antara konsumsi listrik data center yang sudah terjadi saat ini dengan proyeksi kebutuhan listrik untuk ekspansi data center dan AI pada tahun-tahun mendatang.

AI Mengubah Peta Kebutuhan Listrik

Ledakan AI membuat data center tidak lagi sekadar fasilitas penyimpanan dan pengolahan data.

Pusat data yang menjalankan AI membutuhkan server akselerasi berperforma tinggi, sistem pendinginan, jaringan, penyimpanan, sistem cadangan, serta pasokan listrik yang sangat andal.

Secara global, International Energy Agency (IEA) memperkirakan konsumsi listrik data center meningkat hampir dua kali lipat, dari sekitar 485 TWh pada 2025 menjadi sekitar 950 TWh pada 2030. Konsumsi data center yang berfokus pada AI diproyeksikan meningkat sekitar tiga kali lipat dalam periode yang sama.

Dalam skenario dasar IEA, konsumsi listrik data center tumbuh sekitar 15 persen per tahun pada 2024–2030, jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan konsumsi listrik global secara keseluruhan. Server akselerasi yang terutama didorong oleh adopsi AI diperkirakan tumbuh sekitar 30 persen per tahun.

Namun, angka global tersebut tidak boleh langsung diterjemahkan sebagai proyeksi kebutuhan listrik Indonesia.

Indonesia merupakan salah satu pasar data center yang tumbuh cepat di Asia Tenggara, tetapi besarnya kebutuhan listrik nasional akan tetap bergantung pada jumlah proyek, tingkat utilisasi, jenis workload, efisiensi teknologi, serta kecepatan pembangunan infrastrukturnya.

Data Center Indonesia Mulai Menjadi Beban Energi Strategis

PLN menyebut industri data center membutuhkan karakteristik kelistrikan yang semakin spesifik.

Kebutuhannya bukan hanya kapasitas besar, tetapi juga keandalan pasokan, kualitas daya, skalabilitas, serta kepastian ketersediaan listrik. PLN juga menyebut kebutuhan terhadap sumber energi bersih semakin penting seiring ekspansi industri tersebut. KKatadata

Saat ini, konsentrasi pelanggan data center masih sangat besar di Jamali.

Data PLN menunjukkan 99 persen kapasitas tersambung pelanggan data center berada di sistem Jamali. Ekspansi mulai bergerak ke wilayah lain, termasuk Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Pada saat yang sama, data per Juli 2026 menunjukkan Jawa Barat memiliki jumlah pelanggan data center terbanyak, disusul Jakarta. Ini menunjukkan bahwa pusat data masih sangat bergantung pada wilayah yang memiliki kombinasi infrastruktur listrik, konektivitas, jaringan fiber, dan ekosistem bisnis yang matang.

Karena itu, lokasi data center ke depan tidak hanya ditentukan oleh kedekatan dengan konsumen atau jaringan internet.

Ketersediaan listrik menjadi salah satu faktor strategis.

Investor membutuhkan kepastian bahwa daya tersedia ketika fasilitas mulai beroperasi dan dapat ditingkatkan ketika kapasitas komputasi diperbesar.

Kebutuhan Listrik Mulai Bergerak ke Skala Gigawatt

Perubahan skala permintaan menjadi salah satu tantangan terbesar.

PLN menyebut permintaan listrik dari data center yang sebelumnya berada pada skala kVA kemudian meningkat ke MW dan kini mulai masuk skala GW. Dalam pemantauan PLN, kebutuhan listrik data center diproyeksikan mencapai sekitar 580 MW pada 2026, meningkat menjadi sekitar 3,5 GW pada 2030, dan berpotensi mencapai 25,3 GW pada 2034.

Angka tersebut merupakan proyeksi kebutuhan, bukan konsumsi aktual yang sudah terjadi.

Perbedaan ini penting. Konsumsi aktual 159 pelanggan PLN saat ini tercatat 2.378 GWh dengan kapasitas tersambung 2.038 MVA, sementara angka GW untuk 2030 dan 2034 menggambarkan kebutuhan yang diperkirakan akan muncul seiring ekspansi industri.

Artinya, Indonesia memiliki tantangan waktu.

Pusat data dapat dibangun dalam hitungan beberapa tahun, sedangkan pembangkit dan jaringan listrik membutuhkan perencanaan, pengadaan, pembangunan, dan proses koneksi yang dapat berlangsung jauh lebih lama. IEA juga menekankan adanya perbedaan antara cepatnya pembangunan data center dan lead time sistem energi yang lebih panjang.

Indonesia Punya Potensi Energi, tetapi Harus Diubah Menjadi Listrik

Pemerintah melihat kebutuhan energi tersebut sekaligus sebagai peluang investasi.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pada September 2026 mengajak investor menjadikan Indonesia sebagai lokasi data center dengan memanfaatkan potensi energi domestik. Pemerintah antara lain menyoroti potensi PLTA Sungai Mamberamo di Papua sekitar 23 GW dan Sungai Kayan di Kalimantan sekitar 12 GW.

Namun, potensi energi tidak sama dengan kapasitas listrik yang siap digunakan data center.

Potensi sungai sebesar puluhan GW tidak berarti puluhan GW listrik tersebut sudah tersedia dan dapat langsung disalurkan ke pusat data.

Diperlukan pembangunan pembangkit, transmisi, gardu induk, interkoneksi, sistem penyimpanan jika diperlukan, serta infrastruktur pendukung lainnya.

Dengan kata lain:

potensi energi → proyek pembangkit → jaringan → listrik tersedia → data center.

Setiap mata rantai membutuhkan investasi, perizinan, waktu pembangunan, dan kepastian keekonomian.

Energi Bersih Bisa Menjadi Keunggulan AI Indonesia

Kebutuhan listrik AI juga membuka peluang untuk menghubungkan dua agenda sekaligus: ekonomi digital dan transisi energi.

IEA memperkirakan sekitar setengah pertumbuhan kebutuhan listrik data center secara global hingga 2035 dapat dipenuhi oleh energi terbarukan, dengan dukungan penyimpanan energi dan jaringan listrik. Namun, sumber dispatchable seperti gas, serta nuklir di sejumlah negara, juga akan memainkan peran dalam memenuhi pertumbuhan kebutuhan tersebut.

Karena itu, tidak tepat jika kebutuhan listrik data center dianggap otomatis akan dipenuhi hanya oleh energi terbarukan.

Indonesia justru menghadapi tantangan untuk meningkatkan pasokan energi rendah karbon sekaligus mempertahankan keandalan dan keterjangkauan listrik.

RUPTL 2025–2034 memberikan modal awal. Dokumen tersebut merencanakan tambahan kapasitas pembangkit dan storage sebesar 69,5 GW, dengan sekitar 76 persen berasal dari EBT dan storage.

Jika pengembangan tersebut berjalan sesuai rencana, Indonesia memiliki peluang untuk menawarkan listrik yang semakin rendah karbon kepada industri digital.

Artinya, pertanyaan bagi investor tidak lagi sekadar:

“Di mana data center bisa dibangun?”

Tetapi juga:

“Di mana tersedia listrik yang besar, stabil, dapat diperluas, dan semakin rendah karbon?”

Perlombaan AI Bisa Berubah Menjadi Perlombaan Infrastruktur Listrik

Ada paradoks dalam pembangunan AI.

Data center dapat dikembangkan dengan cepat, sementara pembangkit, transmisi, dan jaringan distribusi membutuhkan proses yang lebih panjang.

IEA memperingatkan bahwa bottleneck pada jaringan, peralatan energi, dan rantai pasok dapat menghambat ekspansi data center apabila pembangunan infrastruktur energi tidak mengikuti pertumbuhan kebutuhan komputasi.

Karena itu, strategi AI Indonesia tidak cukup hanya membangun GPU dan data center.

Indonesia membutuhkan rantai infrastruktur yang berjalan secara terkoordinasi:

energi → pembangkit → transmisi → jaringan → data center → komputasi AI → aplikasi digital.

Jika salah satu mata rantai tertinggal, kapasitas komputasi tidak dapat dimanfaatkan secara optimal.

Tantangannya Bukan Sekadar Menambah Listrik

Menambah pembangkit bukan satu-satunya jawaban.

Efisiensi komputasi juga semakin penting.

IEA memperkirakan kemajuan efisiensi hardware, software, dan infrastruktur dapat secara signifikan mengurangi kebutuhan listrik dibandingkan skenario dengan efisiensi yang lebih rendah. Dalam skenario efisiensi tinggi, konsumsi listrik data center global pada 2035 dapat lebih dari 15 persen lebih rendah dibandingkan skenario dasar.

Bagi Indonesia, peluang efisiensi dapat datang dari berbagai sisi:

- optimasi penggunaan server;

- peningkatan efisiensi chip dan software;

- teknologi pendinginan yang lebih efisien;

- pemanfaatan energi terbarukan;

- energy storage;

- pengelolaan beban komputasi;

- serta pemilihan lokasi yang lebih sesuai dengan kondisi sistem kelistrikan.

Dengan demikian, persoalannya bukan hanya berapa banyak listrik yang bisa diproduksi, tetapi juga berapa efisien listrik tersebut diubah menjadi kapasitas komputasi.

Data Center Bisa Menjadi Anchor Demand bagi Energi

Pertumbuhan data center juga dapat memberikan manfaat bagi sektor energi.

Permintaan listrik dalam skala besar dan relatif terukur dapat menjadi anchor demand bagi pembangunan pembangkit dan jaringan baru.

Contohnya sudah mulai terlihat dalam sejumlah proyek besar.

PLN pada 2026 menyelesaikan infrastruktur kelistrikan untuk mendukung data center Microsoft di Jawa Barat. Di Batam, PLN juga menandatangani perjanjian jual beli tenaga listrik dengan kapasitas 511 MVA untuk proyek data center DayOne.

Namun, manfaat tersebut hanya akan optimal jika pertumbuhan permintaan data center diikuti perencanaan sistem listrik yang baik.

Jika pembangunan pusat data jauh lebih cepat daripada pembangkit dan jaringan, tekanan terhadap sistem justru dapat meningkat.

Karena itu, pendekatan yang diperlukan bukan sekadar “bangun data center lalu cari listrik”, melainkan menyelaraskan pembangunan data center dengan perencanaan pembangkit dan jaringan sejak tahap awal.

Dari Listrik ke Nilai Tambah Ekonomi

Pertanyaan terpenting bagi Indonesia akhirnya bukan berapa banyak data center yang dapat dibangun.

Yang lebih menentukan adalah apa yang dihasilkan dari kapasitas komputasi tersebut.

Jika Indonesia hanya menyediakan lahan, konektivitas, dan listrik bagi data center global, nilai tambah terbesar belum tentu tinggal di dalam negeri.

Sebaliknya, jika kapasitas data center berkembang bersama talenta AI, cloud computing, startup, software, riset, dan aplikasi industri, energi dapat dikonversi menjadi computing power, kemudian menjadi produktivitas dan nilai ekonomi.

Rantai nilainya menjadi:

energi → computing → AI → produktivitas → pertumbuhan ekonomi.

Di sinilah pembangunan data center menjadi lebih strategis daripada sekadar pembangunan gedung server.

Indonesia di Persimpangan AI dan Energi

Ledakan AI membuat data center semakin penting sebagai bagian dari infrastruktur strategis sebuah negara.

Indonesia memiliki sejumlah modal untuk ikut dalam perlombaan tersebut: pasar digital yang besar, pertumbuhan kebutuhan komputasi, potensi energi terbarukan, posisi geografis yang strategis, serta rencana pengembangan infrastruktur listrik dalam skala besar.

Tetapi keunggulan tersebut tidak otomatis menjadi keunggulan AI.

Potensi energi harus diubah menjadi pembangkit. Pembangkit harus terhubung dengan jaringan. Jaringan harus mampu menyediakan listrik yang andal dan dapat diperluas. Dan listrik tersebut harus digunakan untuk menghasilkan kapasitas komputasi serta nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Karena itu, masa depan AI Indonesia pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak GPU yang tersedia.

Ia juga ditentukan oleh pertanyaan yang jauh lebih mendasar:

Bisakah Indonesia menyediakan listrik yang cukup, andal, dapat diperluas, dan semakin rendah karbon untuk menyalakan ekonomi AI—sekaligus memastikan kapasitas komputasi tersebut menghasilkan nilai tambah bagi perekonomian nasional?

Jika jawabannya iya, energi bukan lagi sekadar biaya bagi industri AI.

Energi dapat menjadi salah satu fondasi keunggulan AI Indonesia.

(katadata/iea/databoks/esdm/plnweb/gatrikesdm/*/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN